by

Menerka Metamorfosis Jamaah Islamiyah

Pertanyaan ini dapat diartikan penangkapan yang terjadi itu hanya melemahkan anggota JI yang ”terlihat” karena mereka terlibat aksi langsung atau menyembunyikan informasi. Anggota JI yang ”tidak terlihat” belum dijamah sama sekali.

Lalu, apa iya mereka yang ”tidak terlihat” ini semua akan diproses hukum formal? Hari ini saja, penjara kita masih kelimpungan menghadapi masalah klasik overkapasitas dan minimnya SDM, terutama dalam hal rehabilitasi sosial tahanan. Belum lagi, JI bukanlah pemain utama dalam aksi terorisme di Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan, secara organisasi JI sudah enggan menggunakan teror.

Ada pemain teror baru muncul sejak deklarasi NIIS tahun 2014. Mereka itu terkait dengan Jamaah Anshorut Daulah (JAD), organisasi pendukung NIIS di Indonesia. Salah satu ciri utama anggota JAD adalah mereka ber-”sumbu pendek”. Proses perekrutan anggota JAD bisa cukup lewat internet. Dengan pola ini, mereka siap beraksi. Bisa dikatakan, gerak mereka mirip lone wolf atau serigala kesepian yang siap menerkam siapa saja yang dianggap lawan.

Jika sudah di penjara, anggota JAD ini seolah-olah menjadi ”panitia masuk surga”. Mereka dengan mudah mengafirkan petugas keamanan, psikolog, dan pekerja sosial yang ingin menderadikalisasi mereka. Intinya, mereka adalah kluster yang sangat berbeda dengan kluster JI yang diisi individu terdidik, santun, dan terkesan menghargai para petugas.

Pergeseran paradigma
Melihat kompleksnya masalah terorisme di Indonesia ini, Kepala Densus 88 Irjen Martinus Hukom menawarkan pergeseran revolusioner cara pandang dan pendekatan terhadap isu ini. ”Mereka ini orang-orang baik yang selama ini menjadi korban struktural dari proses pembangunan kita,” ujarnya dalam sebuah konferensi zoom yang diadakan universitas ternama di Jawa Timur. ”Densus 88 tidak bisa bekerja sendiri. Perlu ada kerja hulu dan hilir,” tambahnya.

Dari pernyataan di atas, barangkali, Kepala Densus pun menyadari bahwa JI akan hanya melemah sesaat. Konsep yang dibangun JI menghadapi regenerasi sangat adaptif. Misalnya para tokoh JI pada dekade awal dipimpin alumnus Afghanistan dan dekade berikut dipimpin alumnus pelatihan militer Filipina selatan.

Tak tertutup kemungkinan JI ke depan dipimpin alumni yang saat ini telah kembali dari Suriah. Mereka inilah yang akan meneruskan estafet perjuangan para senior mereka yang hari ini telah tertangkap.

Pergeseran paradigma yang ditawarkan Kepala Densus ini akan menjadi harapan hampa jika justru para elite bangsa ini menjadi pengkhianat Pancasila nomor wahid dengan melanggengkan praktik Orde Baru, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ketika hal ini terus terjadi, jangan pernah bermimpi JI akan berhenti melakukan kompetisi narasi untuk menjawab pertanyaan fundamental berbangsa, terutama tentang identitas diri sebagai Muslim yang baik.

Sumber : Status Facebook Noor Huda Ismail, Visiting Fellow RSIS, NTU Singapura

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed