by

Menelisik Lonjakan Covid yang Signifikan

Oleh : Zulfikar Matin Effendi

Lonjakan kasus dibulan Juni: kegundahan yg lama dipendam.. Kenapa lonjakan kasus di Indonesia meledak dibulan Juni? Ada apa dibulan Juni? Mudik lebaran? Piala Euro? Sea games? (grafik 1, red shade). “dari india!” Serius? Ternyata LONJAKAN kedatangan dari India pun gak ada. Bukan gak ada kedatangan dari India, tapi lonjakannya gak signifikan. “masyarakat gak prokes!”Hmm.. Bisa ya bisa nggak..

Kondisi prokes masyrakat dari 2020 ya segini aja. Bahkan saya amati, membaik.. Minimalnya sama.Mundur dikit deh.. Kasus baru harian naik dari sejak Januari, walaupun gak setinggi sejak Juni (grafik 1, orange shade). Tapi kenaikan dari Januari sudah lebih tinggi dari 2020 sendiri. Ada apa ya di Januari? Kita absen aja yok variabel yg berubah massal, khususnya di Jawa-Bali. Ada apa ya?

1. Januari, program vaksin dimulai.

2. Sampai tengah juni, 6% penduduk Indonesia (sekitar 16jt orang) sudah tervaksin. Periode joss sekitar 5.5 bulan. (grafik 2, orange shade)

3. Dari tengah juni sampai awal juli (sebelum PPKM), vaksin dikebut. Another 6% (16jt lagi) penduduk dijoss dalam waktu SETENGAH BULAN saja. (grafik 2, red shade).

4. Fenomena meteorologi suhu dingin ekstrim Juni sampai Agustus, utamanya selatan Indonesia (jawa dan bali).Ba’dallah, suhu ekstrim yg bikin drop imun, ditambah “controlled infection” (aka. Vaccination) yg dikebut, utamanya di Jawa-Bali, adalah dua variabel utama yg berubah dari sebelumnya.

Apakah wajar, kalau vaksin dikebut jumlah kasus ikutan naik? Yo Nggak. Jom tengok model US digrafik 3 dan 4. US kayak mau kolaps oleh covid dimasa-masa akhir pilpres, oktober-november 2020. Kemudian Biden menang, “Co-incidence” vaksin pun ditemukan. Bukan cuma ditemukan, tapi udah ready to joss, entah kapan mulai produksinya. Maka US mulai kebut vaksinasi diawal Desember 2020. Tengok potongan pizza digrafik 3 dan 4.

Sekitar januari 2021, 20 juta penduduk US udah dapet joss vaksin.. Tapi bifadhlillah, seiring laju vaksin naik, kasus baru harian mulai turun (pizza grafik 3), hingga benar2 turun sampai hari ini. Dan segala puji hanya milik Allah. Hmmm…. Apa ya yg beda antara US sama Jawa-Bali? Prokes? Podo ae.. Disana juga buanyaak yg bedegul dan ogah prokes. Bahkan lebih ekstrim dari indonesia, karena sampai beberapa pejabatnya disana malah ikut promote anti prokes. Di Indonesia gak sampe gt..Yg beda: ya vaksinnya 😁_____________

DISCLAIMER : Saya belum menyimpulkan apa-apa lho ditulisan ini, hanya memaparkan data saja. Silakan simpulkan sendiri-sendiri, saya ojo dibully.. ❤️_____________Oktober 2020, ketika Prof. Nidom hafidzahullah bilang, covid di Indo jangan didekati dgn metode vaksin, banyak yg bully beliau gara-gara Drh (dokter hewan), dianggapnya beliau gak kompeten ngomongin virus. Padahal masa ada dokter guru besar biologi molekuler adalah antivaks.. Kayaknya nggak yaa..

Tentang kompetens i: Coba tengok slide terakhir publikasi beliau dari dulu. Masyallah, ternyata beliau amat kompeten bicara virologi. Lebih kompeten daripada lulusan tekkim ataupun dokter pathologi klinis, hafidzahumullah. Cek disini juga kalau mau baca-baca publikasi beliau : https://scholar.google.co.id/citations?user=38LRCgoAAAAJ…‘alaa kulli haal, alhamdulillahirabbil ‘aalamiin.. Yang mau lanjut vaksin pakai yg ada, monggo..

Mau sabar nunggu ‘vaksin pemenang perang’, ya monggo juga, pilihan.Saya sih amat bersedih melihat ulama-ulama kita sampai ajalnya diwabah ini. Tentu saja semua sudah dengan qadar Allah, yg tidak bergeser sedikit pun. Hati ini bersedih, tapi lisan hanya mengucapkan apa yg Allah ridhai. Hanya saja, jika menggunakan pendekatan silogis ikhtiar ‘helm’ kawan-kawan, saya sarankan, jaga guru-guru kita terlebih yg sepuh-sepuh: Jangan dulu pakai ‘helm’ yg ini. Prokes saja maksimalkan, nutrisi yg baik, dan olahraga teratur. Semuanya setelah bertawakkal penuh kepada Rabbul ‘alam.With semilyar love ❤️

Sumber : Status Facebook Zulfikar Matin Effendi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed