by

Jalan Panjang dan Berliku Melawan Radikalisme

Oleh: Sendang Wangi

Saya bertanya…
Sebenarnya, apa sih tujuan dari semua gerakan anti radikalisme di negeri ini?
Menurut saya sih…

Tujuannya adalah untuk mempertahankan Indonesia tetap Bhinneka
dan tetap damai agar kita dapat mencari rejeki dg tenang..

Dan cara mempertahankan Indonesia tetap Bhinneka adalah dengan mempertahankan atau memperbesar jumlah masyarakat moderat – masyarakat yang tidak kanan-tidak kiri.
Karena hanya masyarakat moderat yang mampu menerima perbedaan.

Tapi, menjadi masyarakat moderat jaman now ini memang banyak sekali tantangannya.
Kelompok moderat ini, acapkali menjadi korban kelompok Intoleran Radikalis Teroris (IRT) yang membajak banyak aspek agama untuk kepentingan gerakannya TANPA MEREKA (kelompok moderat) SADAR bahwa mereka SEDANG dalam permainan kelompok IRT.

Hebohnya bully dan ejekan terhadap santri2 Tahfidz (calon penghafal Al Quran) menutupi telinganya di ruang publik yang mengumandangkan musik saat mereka vaksinasi adalah contohnya.

Sebagian kelompok moderat menjadi kelompok yang parno terhadap agama Islam – menjadi berlebihan reaksinya saat aspek agama dipraktekkan di ruang publik.
Mereka langsung men-cap adik-adik santri ini dengan kata-kata Taliban, bahkan calon bomber /teroris.

Karena selama ini, kelompok IRT juga acapkali menyematkan aspek agama ini ke dalam kelompok mereka SEHINGGA sebagian kelompok moderat menjadi salah kaprah,
menempatkan rumus jika A maka B dengan kaku – tanpa melihat konteks.

Sebagian kelompok moderat ini menganggap santri-santri tersebut menutup telinga karena terpengaruh paham yang mengharam-haramkan ini itu seperti propaganda kelompok IRT.
Padahal ini beda konteks.

Menjadi Santri penghafal Al Quran ini bukan barang mudah. Berbagai larangan ditegakkan – salah 1nya ada yang menerapkan untuk tidak mendengarkan musik supaya proses hafalan lancar & hafalan tetep terjaga.

Ada yang berpendapat, saat menghafal dg target waktu memang sebaiknya mensunyikan diri. Serupa dengan anak yang kuliah di bagian hukum yang harus menghapalkan UU yang bejibun, atau pemain catur yang perlu keheningan untuk memainkan bidaknya. Saat proses hafalan atau perlu konsentrasi ini di sampingnya dipasang musik, apa yaa gak mumet.

Sikap membully dan mengejek dengan serampangan ini bahaya dan justru sangat amat kontraproduktif dengan usaha kita untuk mempertahankan / bahkan memperbesar jumlah kelompok moderat.

Narasi2 bully & ejekan TIDAK membuat kelompok ‘kanan’, menjadi moderat tapi membuat kelompok ini menjadi semakin ‘MENGERAS’.

Karena merasa dihina, ikatan di dalam kelompok ini akan semakin menguat.
Dan sebaliknya, kelompok moderat yang berada di pinggir ķanan akan dengan mudah tergelincir ke kanan – karena merasa melihat praktek baik dalam agamanya dihina.
Mungkin sekali mereka berpikir, “Ah..kok ternyata gini sih..teman2 (moderat) saya..gak asik..suka mengejek, gak paham konteks. Main hantam kromo aja.”

Dan mereka akan semakin ke kanan…meninggalkan kelompok moderat.
Jika sudah demikian, siapa yang rugi?

Kita kelompok moderat yang mengaku cinta Indonesia & kebhinekaan.
Untuk teman2 ketahui, di dalam agama Islam – NU, SUDAH LAMA para penghafal al-Qur’an ini dihormati & punya status yg tinggi.

Almarhum Gus Dur adalah salah 1 sosok yang sangat hormat kepada para penghafal Al Quran.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur selalu menekankan pesantren² adalah satu kaki NKRI. Dan tulang punggung pesantren² ada pada di penghafal al-Qur’an & tarekat.

NU mewadahi keduanya dalam 2 lembaga terhormat: JQH (Jamiatul Qurra wal Huffadz) untuk para hafidz & JATMAN (Jama’ah Ahli Thariqah al Mu’tabaroh an Nahdliyyah) untuk tarekat.

JIKA kelompok Intoleran Radikalis Teroris (IRT) ibarat tikus-tikus yang menghuni gudang-gudang dalam kampung pengetahuan dan melakukan aksinya dengan membajak aspek2 agama…DAN JIKA KITA serius ingin melawan IRT maka arahkan peluru kita HANYA pada tikus-tikus itu.

Jangan malah membakar gudang dengan BULLY-an dan ejekan apalagi mencerca aspek² agama yang dibajak..

Ketika gudang dibakar, kepulan asap baliknya bisa dahsyat & takkan bisa anda kendalikan.
Semoga paham maksudnya.

Karena kita akan kehilangan banyak sekali kelompok Moderat yang Muslim.
Pilpres Jakarta 2017 sudah menjadi buktinya.

(Masih ingat kan..apa mau dibahas juga nanti?)

Yuk…stop bullly dan ejakan yang serampangan.

Kita sama2 perbesar kelompok Moderat dengan cara berhati-hati dalam bersikap. Upaya antiradikalisme, antiterorisme dan antitoleransi memang memerlukan KESABARAN dan KEHATI-HATIAN

Ini menjawab salah 1 komentar sahabat2 yang merasa ‘gemes’ dengan perilaku ustadz-nya yang upload video tsb di medsos dengan narasi provokatif.

Hehe..ya..bakal selalu ada kok peristiwa2 yg bikin kita gemes itu…dari pihak mereka.
Entah disengaja atau tidak. (Ini akan saya tulis tersendiri. Kelompok ini jago memainkan medsos looh)

Seandainya kita tidak menanggapi berlebihan..apakah peristiwa ini akan viral?
Dengan berbagai dampaknya..?

Sekarang, pilihan di tangan kita.
Mau memperbesar klompok moderat dengan bersikap sabar dan hati2 atau gak?
Mau membakar gudangnya atau mengarahkan peluru hanya pada tikus2nya?


Salam sayang.

(Sumber: Facebook Sendang Wangi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed