by

Kesombongan Orang Kaya

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Pekan lalu saya ngobrol dengan Leonard Nyo Kristianto, produser penerus JK Records. Banyak yang kami obrolkan. Bisnis musik digital, silang sengkarut hak cipta, media online, dampak pandemi Covid-19, dll. Di luar urusan bisnisnya, dia mengisahkan pengalaman pribadi tak terlupakan. Mengusir pengamen di rumah makan langganannya.

Saat itu dia sedang makan ‘kesiangan’ dan dalam keadaan lapar. Pengamen menyanyi dan mendesaknya minta tips. Dia menanggapinya dengan ketus, karena sedang makan pakai tangan. Tidak bisa buka dompet. Pengamen itu pergi dengan tangan hampa.

“Setelah itu saya menyesal sekali! Wajah bapak pengamen itu terus terbayang. Saya merasa bersalah. Seharusnya saya tak melakukannya, ” curhatnya.

Sampai di rumah, hingga menjelang tidur Nyo wajah si pengamen terbayang. Dihantui rasa bersalah dia mengucap doa. “Tuhan, izinkan saya bertemu kembali dengan bapak pengamen itu. Saya akan memperbaiki kesalahan saya, ” pintanya.

Doanya dikabulkan. Saat makan siang lagi, bareng isterinya, pengamen itu nongol. Dengan sigap dia menyambut. Ya! Kali ini dia yakin, Tuhan yang mengirimnya.

“Bapak silakan nyanyi terus dan tunggu saya makan sampai selesai, ” katanya ramah.
Dia lalu memanggil waiter dan memesan makanan untuk dibawa pulang – ikan bakar ukuran besar, sayur cha kakung dan nasi untuk tiga orang. “Spontan, seperti ada yang menggerakkan saya. Saya pesan nasi untuk tiga orang dan ikan besar padahal pengamen itu sendirian, ” kenangnya.

“Isteri saya pun heran dan bertanya, kenapa musti pesan tiga nasi lagi? Buat siapa? ” Itu di luar kebiasaan.

Usai makan, pesanan untuk dibawa pulang pun siap. Dia serahkan bungkusan makanan itu berikut uang tip ngamennya kepada si bapak tua. “Barangkali keluarga bapak pengin makan ikan, ” katanya.

Pengamen itu terpana. Spontan menangis dan mencium tangan yang memberinya. “Terima kasih, Pak. Dari semalam keluarga saya memang belum makan!’”

Nyo terkejut. Dan lebih terkejut ketiga diberi tahu di rumah ada tiga orang!

SAYA menitikkan air mata dengar cerita yang disampaikan dalam obrolan lewat hape itu .
Saya pernah melewati pengalaman yang sama. Ada pengamen yang saya abaikan – karena masih muda dan kuat – padahal ada uang kecil di kantung. Mimik wajah memelasnya terus terbayang dan sampai kini tak ketemu. Saya dikejar rasa bersalah.

Jika saya menulis di sini bukan untuk mengurangi pahalanya.

Saya hanya ingin menyatakan kadang mereka yang gigih dan merengek karena didorong oleh keadaan yang sangat mendesak. Kita tak tahu.

Setiap orang bisa melakukan kesalahan. Tapi dengan sadar didorong hati nurani memperbaikinya.

MEDIA sosial dan dunia maya kini sedang dihebohkan oleh aksi pelecehan yang dilakukan oleh seleb kaya raya pada orangtua miskin yang sedang membutuhkan bantuan.

Seleb itu, Baim Wong, memarahi orangtua yang membuntutinya. Diketahui kemudian orang itu sedang membutuhkan bantuan karena kakinya sakit dengan menawarkan buku juzz amma.

Yang jadi masalah adalah Baim Wong dengan demonstratif justru membagi uang kepada orang lain yang tak membutuhkan. Alih alih membantu bapak itu.

Yang celaka dan parahnya aksi arogansinya mengomel si bapak tua itu dijadikan content di channel Youtubenya.

Selama ini Baim Wong memang dikenal dermawan dan suka membagi uang kepada orang kecil. Kaum marjinal. Konten pamer kedermawanan di channel Youtube itu menuai jutaan klik pemirsa dan sponsor yang menghasilkan uang juga.

Ketika ada yang sunguh minta bantuan dia malah menolak dan marah dan kemarahannya dijadikan konten. Direkam kamera dan ditayangkan di channelnya. Padahal dari konten itu dia dapat sponsor dan uang.

“Saya membayangkan bapak tua itu bapak saya, ” kata Rudi S. Kamri di Channel Youtube Anak Bangsa-nya. Tak biasa channel itu membahas konten seleb di medsos. Biasanya membahas politik. Rudi S. Kamri marah.

“Tolong yang ada kontaknya hubungkan ke channel kami. Biar kami yang bantu si bapak itu, tanpa sorotan kamera, ” sindirnya.

Nikita Mirzani sudah mendahului mengontak si bapak tua itu. Dan mengajaknya belanja. “Kakek gw ni skrg ,” tulisnya di akun instagramnya. Netizen lainnya sudah menghimpun dana untuk pengobatan kakinya. Terkumpul Rp 7 juta.

Alih alih menyadari kesalahannya, Baim Wong sibuk mengklarifikasi dan terus mencari pembenaran untuk aksi kesombongannya. Bahkan tak menyesali kemarahannya. Isterinya pun, model cantik jelita itu, mendukungnya.

Jadi selama ini cuma pencitraan, ya? Jadi dermawan cuma akting buat konten. Tuhan kasi jalan untuk menunjukkan siapa dia yang sesungguhnya, komentar netizen menghujatnya.

SAYA masih berharap Baim Wong meniru sahabat saya, Leonard Nyo Kristianto. Menyesal. Digerakkan hatinya untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya. Setiap orang bisa lalai. Yang penting adalah bagaimana memperbaikinya.

Jadilah orang yang kaya yang tulus. Kehidupan Anda sudah diberkati. Tuhan memberikan anda banyak rezeki. Usahakanlah berbagi.

Jangan mendzalimi dan menyalahkan orang miskin.

Kalau pun tidak bisa membantu, jangan menghina. Apalagi menganiaya mereka, baik secara fisik maupun verbal.

“Tanpa dianiaya pun orang miskin sudah menderita ! ” kata senior saya, Mas Harry Tjahjono.

(Sumber: facebook Supriyanto Martosuwito)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed