by

Banteng VS Celeng Di PDIP

Oleh : Sahir Nopi

Adanya deklarasi internal pimpinan PDIP ditingkat daerah dengan mendukung Ganjar Pranowo sebagai Capres 2024 memunculkan polemik. Salah satu Ketua DPP Bambang Wuryanto menyebut kelompok itu sebagai celeng bukan banteng. Kita tahu beberapa aktivis PDIP di Jawa Tengah yakni Kabupaten Purworejo, Kebumen dan Banjarnegara. Mereka murni ingin mendorong Ganjar sebagai Capres karena tidak hanya melihat track record namun juga kinerja serta elektabilitasnya yang terus meningkat.

Bagi Bambang Pacul, panggilan akrab Bambang Wuryanto hingga saat ini DPP belum memutuskan apapun sehingga kader tidak perlu dukung mendukung terlebih dahulu. Sedangkan sikap Ganjar Pranowo atas tuduhan itu, dia menolak meminta kader PDIP mendeklarasikan dukungan. Jangankan dukungan, berpikir menjadi Capres saja tidak. Gubernur Jawa Tengah itu konsentrasi mengatasi pandemi di propinsinya. Ganjar malah mengartikan statemen Pacul sebagai pengingat bagi kader agar tertib sesuai AD/ART partai.

Diakui atau tidak, melonjaknya elektabilitas Ganjar di berbagai survey yang digelar oleh beragam lembaga survey makin menaikkan eskalasi politik, setidaknya di partai berlambang kepala banteng ini. Disisi lain, terlihat DPP mendorong Puan. Setelah pada awal tahun lalu ada konsolidasi di Jawa Tengah yang sama sekali tidak mengundang Ganjar padahal pimpinan PDIP se Jawa Tengah semua diundang.

Menurut Pacul, Ganjar sudah kemajon. Artinya sudah jalan sendiri demi kepentingan 2024. Padahal publik faham betul, Ganjar tidak bergerak sendiri demi kepentingan pribadi. Segala aktivitas yang dilakukan murni tugas-tugas sebagai kepala daerah. Dan saat menjalankan tugas, semua dipublikasikan di akun medsosnya. Nampaknya publik menyukai karakter dan aktivitas Gubernur Jawa Tengah itu. Hampir postingan medsos pria lulusan UGM itu menembus batas administrasi Jawa Tengah sehingga banyak masyarakat umum menyukai apa yang dilakukan Ganjar. Guna mengejar ketertinggalan elektabilitas, patut diduga Puan menggerakkan sumberdaya yang dimiliki untuk memasang baliho di seantero Indonesia dengan tagline kepak sayap kebhinekaan.

Bukannya malah direspon publik positif, pemasangan baliho menimbulkan arus balik yang mempertanyakan anggaran yang digunakan Puan. Publik menyoroti ditengah pandemi malah memasang baliho bukan dialihkan untuk membantu masyarakat terdampak covid.

Pun belum lama ini, kehadiran Ganjar di Papua mendapat sambutan cukup meriah. Bukan hanya oleh warga Papua namun juga masyarakat Jatim, Kalimantan dan lain sebagainya. Namanya dielu-elukan baik saat menonton pertandingan maupun dijalanan bahkan di bandara. Saking semangatnya mendukung, ibu-ibu Papua yang menjual noken banyak memberi noken sebagai cinderamata bagi Gubernur Jawa Tengah itu. Entah mengapa Bambang Pacul gagal melihat realitas ini sebagai potensi. Dirinya malah menyerang habis-habisan para pendukung Ganjar yang relatif adalah para tokoh penting daerah.

Ini PR besar bagi PDIP untuk di orkestrasi dengan baik. Tanpa melihat munculnya nama pria beranak satu itu sebagai hal positif justru akan merugikan parpol pimpinan Megawati itu. Memang Ketua Umum belum mengeluarkan pernyataan apapun karena Pilpres masih lama namun bila dibiarkan malah akan semakin membuat publik tidak respek. Tuduhan celeng bagi pendukung Ganjar justru kontra produktif serta tidak menguntungkan partai.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed