by

Jack Daniels

Oleh : B Uster Kadrisson

Jack Daniel, ya.. nama yang menjadi pujaan para pemabuk di seluruh dunia ini diceritakan meninggal gara-gara masalah sepele yang menyebabkan luka pada kaki. Dikabarkan ketika pada suatu pagi saat dia ingin membuka brankas yang terbuat dari besi padat, tetapi lupa akan deretan nomor kombinasi. Entah karena dia telah kebanyakan minum whiskey, sehingga menjadi pemarah dan rasa kesal tidak bisa lagi terkendali. Dia menendang peti penyimpan dengan begitu keras yang menyebabkan terkelupas salah satu kuku di jari-jari.

Entah karena dia memang mempunyai penyakit bawaan yang lain, luka yang tampak sepele itu kemudian menjadi menyebar yang mengakibatkan kaki terpaksa harus diamputasi. Dimulai dari sekitar telapak kaki yang akhirnya naik menjadi sedengkul dan mencapai pangkal paha yang kemudian tidak bisa lagi untuk dihindari. Tidak berapa lama Jack Daniel akhirnya meninggal dalam usia 62 tahun dengan diagnosa sepsis yang artinya keracunan akan kuman-kuman yang banyak berkeliaran di dalam diri.

Peti besi tersebut sampai sekarang masih bisa terlihat dan disimpan dengan baik di museum Jack Daniel yang ada di kota Lynchburg, negara bagian Tennessee. Cerita lain tentang Bobby Leach, laki-laki kelahiran Lancaster Inggris tahun 1858 yang adalah seorang stuntman kedua yang berhasil melompati air terjun Niagara dalam sebuah peti kayu. Yang melakukan pertunjukan seperti ini untuk pertama sekali ternyata adalah seorang wanita, yang bernama Annie Taylor pada tahun 1901. Bobby Leach adalah seorang anggota akrobatik profesional yang tergabung dalam pertunjukan sirkus yang dimiliki oleh Barnum and Bailey yang sangat terkenal pada masa itu.

Saat melakukan akrobat di Niagara Falls tersebut, Bobby terpaksa di rawat selama 6 bulan di rumah sakit dengan tulang retak pada lutut dan rahang, tetapi tidak membuat dia mati kutu. Yang konyolnya, Bobby justru meninggal akibat luka ketika terjatuh terpeleset saat kakinya menginjak sebuah kulit jeruk. Peristiwa tersebut terjadi di negara Selandia Baru ketika dia turut serta dalam sebuah tour yang mengadakan pertunjukan sirkus yang super sibuk. Luka sepele pada kaki yang berlanjut menjadi gangrene yang akhirnya terpaksa untuk diamputasi supaya tidak menjadi semakin memburuk.

Bobby meninggal 2 bulan kemudian karena mengalami komplikasi, dia yang melakukan akrobat dengan menantang maut hampir setengah dari umurnya akhirnya menyerah kalah untuk sepotong sampah yang busuk. Belakangan ini saya melihat beberapa postingan ulang tentang orang-orang yang tadinya bersuara keras menantang anjuran pemerintah akhirnya harus bertekuk lutut. Ada yang tadinya merasa kesenangan saat bisa melewati barikade aparat keamanan untuk pulang mudik, walaupun sudah disarankan tetapi tidak juga mau menurut. Kemudian mengabarkan kalau anaknya akhirnya mati terkena wabah, siapa yang akan disalahkan akan keadaan yang akhirnya menjadi carut marut.

Tuhan mungkin juga sudah angkat tangan terhadap kaum agamis pembangkang yang merasa serba tahu dan sok imut. Yang lagi ramai adalah kompilasi postingan seseorang yang tadinya tidak percaya akan kehadiran virus Corona yang menjadi penyebab dari bencana. Selalu mengolok-olok dan menantang untuk berjumpa, dan akhirnya menderita karena do’anya benar-benar dikabulkan oleh Allah. Bukannya hendak mengatakan syookooorr, tetapi kaum yang satu ini memang sifat ngeyelnya bisa menembus jauh ke ruang angkasa.

Sebegitunya mereka masih juga tidak belajar dari pengalaman orang yang lain, bagaikan serombongan keledai dungu yang digiring untuk terperosok ke dalam lubang yang sama. Di Sumatera Barat pemimpin daerah dan para gerombolan ulama pekok, menentang kebijakan pemerintah dengan tetap membuka pintu mesjid. Herannya dahulu-dahulu mesjid dan surau selalu sepi karena jarang dikunjungi, kini ketika disarankan untuk ditutup sementara waktu, mereka menjerit bagaikan ketika biji peler terjepit.

Padahal Allah juga pasti akan memaklumi karena keadaan memang serba darurat, tetapi kaum yang banyak menghasilkan cerdik pandai ini tampaknya sejak dikuasai oleh partai sesapian, otaknya seperti dikempit dan mengericit. Mereka sepertinya ingin menantang maut ketika Allah telah melimpahkan begitu banyak rahmat kesehatan, dan herannya nanti pemerintah yang akan kembali disalahkan kalau mereka jatuh sakit. Sudah berkali-kali kita melihat kekuatan akan sebuah do’a yang buruk yang biasanya akan kembali menghantam diri sendiri.

Orang-orang yang katanya beriman tetapi suka berbicara kasar dan senang sekali mendoakan orang lain supaya cepat mati. Tetapi Tuhan Yang Maha Mendengar tidak suka, justru malaikat maut yang menjemput mereka terlebih dahulu, mati konyol karena virus yang mereka katakan sebagai perbuatan konspirasi. Abu Janda yang banyak didoakan supaya cepat meninggal, malah semakin membaik dan sebentar lagi tampangnya yang emang rada ngeselin itu masih akan wara wiri. Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed