by

Ilusi Khilafah Jahiliyah

Oleh : Satrio Hening

Menjadi nyata sudah, bahwasanya meneladani para leluhurku sebagai manusia Jawa yang berpikiran lentur, yang berkepribadian dinamis, dan berestetika kebudayaan yang sangat tinggi, lalu jika disandingkan dengan kotak ajaran yang bercorak kolot maha beku yang dikonsep bangsa asing itu, tentunya akan begitu kontras bertolak belakang. Denyut naluri intelektual kejawaan yang kosmopolit tentunya penuh semangat mentakzimi kebebasan, sebagaimana semangat burung elang yang beterbangan bebas di cakrawala langit, maka semestinya ia takkan sudi manakala dibonsai dalam habitat kolot katak dalam tempurung yang dikhotbahkan para sales kebudayaan asing itu.

Suatu habitat kebudayaan asing yang pada faktanya benar-benar “menista kemanusiaan kita” dengan menganggap kita sebagai individu tidak akan pernah mampu berdaulat dalam bersikap dan berdikari dalam berfikir. Maka dari hal-hal yang kecil, sepele, remeh dan sampai politik bernegara pun sudah diatur dan didikte oleh suatu “Otoritas Tunggal” dan harus selalu menanyakan hukum-hukumnya pada mereka yang banyak memahami aturan otoritas itu .Jika sampai berani melanggar satu hukum yang sudah usang pun akan dipandang sebagai manusia hina dina dan pendosa. Maka sudah pasti dalam habitat katak dalam tempurung ini tak ada lagi kebebasan berpikir untuk mencairkan akal sehat yang membeku, juga tak dibutuhkan lagi perenungan untuk mencari kebenaran hakiki dan kesejatian dalam hidup.

Ya, benar-benar suatu atmosfer kolot yang begitu menjijikkan dan yang seharusnya tidak lagi bercokol eksis di abad 21 ini. Sebuah wajah dan masker sosial jelek yang semestinya ditanggalkan beramai-ramai oleh semua manusia yang berpikir, apalagi oleh anak bangsa di peradaban surga Bumi Nusantara ini. Mereka hanya dengan modal bualan pencucian otak dan omong kosong memonopoli klaim kebenaran, masih saja sukses menjerat banyak anak bangsa kita di abad digital ini. Bahkan dengan promosi digital seperti lewat Facebook, Youtube, dan Instagram mereka berhasil mengemas ajaran picik katak dalam tempurung itu menjadi lebih kelihatan “Mencerahkan” dan terkesan “Modernis”.

Padahal sejatinya tetap hanya akan “Membonsai” anak bangsa kita dengan “Racun Kekerdilan”, baik dari segi akal sehat maupun segi mental kepercayaan diri. Maka anak bangsa kita yang selama hidupnya hanya memikirkan dirinya sendiri, yang semisal latah tenggelam dalam dunia game produk kapitalis, yang tak pernah memanfaatkan serta mensyukuri anugerah akalnya untuk mengembangkan “logika kritis”, sudah pasti tak akan pernah menyadari dirinya telah diperbudak oleh suatu sistem dogmatis yang sejatinya hanya wadah yang membonsai kecerdasan. Akhirnya tak mampu mencegah akal sehatnya terbekukan oleh mantra dogmatis sakti yang mengatakan; “Akal manusia itu terbatas, berani mempertanyakan kebenaran ajaran dari kami adalah bukti nyata kekafiran yang harus kami perangi!”.

Hingga selanjutnya kekuatan akal sehat dan bahkan hati nurani pun benar-benar dibuat sirna dengan dicekoki tuak khayalan-khayalan surgawi yang terus mengilusi janji pemuasan hasrat hewani yang abadi. Setelah itu, tahap selanjutnya dilakukanlah permainan hipnosis yang paling sadis, yaitu memanipulasi dan menghantui pikiran dengan ketakutan-ketakutan kehidupan penyiksaan abadi setelah kematian bagi yang sedikit tidak patuh atau mencoba keluar dari sistem dogma keyakinannya itu. Tidak peduli senyatanya dalam kehidupan berlimpah amal kebajikan, tetap akan dianggap sebagai penjahat sekaligus pendosa besar dan diintimidasi ancaman hukuman abadi. Dan pikiran ketakutan atau hantu mental ini juga akan selalu diciptakan dan dimanfaatkan dengan terus-terusan menghipnotis, seakan-akan kita ini adalah sebagai penghuni dunia paling akhir dan sebentar lagi dunia akan hancur lebur dengan berbagai rangkaian peristiwa yang tak bisa dinalar.

Lalu para penjajah mental itu terus menekankan sistem perbudakan mental ini sebagai kebenaran yang final dan satu-satunya sistem yang membawa keselamatan setelah kematian dan kehancuran alam semesta (yang menurutnya, terjadinya tidak akan lama lagi). Tidak peduli sebejad apapun moralitas kita asal tetap “berkeyakinan mutlak pada sistem itu” akan terselamatkan menuju kenikmatan surga, sebuah tempat abadi untuk ena-ena atau free sex. Alam bawah sadar kita dibuat menerima jika takdir mutlaknya manusia itu adalah diciptakan menjadi budak yang berkewajiban membela mati-matian suatu keyakinan agama .Pikiran bawah sadar terus dibuat terdelusi oleh kebanggaan sebagai “Preman Keyakinan” dan apabila mati sebagai pembela keyakinan adahal hal yang diyakini sangat mulia. Sungguh ajaran yang benar-benar membuat anak bangsa kita menjadi “Pecundang Peradaban”, hingga tidak aneh lagi jika banyak yang bangga mati sebagai penghianat bangsa.

Maka karena begitu muak dengan ilusi khilafah jahiliyah ini, tema-tema tulisan yang mewacanakan perlawanan terhadap mereka akan berusaha saya giatkan. Dan untuk tulisan yang murni permenungan intelektual dan pemelekatan pada sistem kepercayaan tertentu sedikit demi sedikit jelas akan saya minimaliskan. Tentu bukan maksudnya sekarang saya menjadi alergi pada intelektualisme dan anti pada sistem kepercayaan tertentu. Tidak, sama sekali tidak. Tetapi kini bisa saya katakan dengan nakal, jika batin saya sudah tidak ‘terangsang’ lagi terhadap kegenitan intelektual dan keseksian misterius dari sistem kepercayaan tertentu. Pengembaraan intelektual sudah terasa sangat kering dan membuahkan kegelisahan hampa yang membuat kesadaran saya tetap berputar di situ-situ saja.

Pun dengan kemelekatan sistem kepercayaan tertentu juga membuat jiwa saya semakin tidak merdeka, terkungkung ribetnya basa-basi, dan bahkan menjadi katak dalam tempurung di luasnya peradaban semesta. Ketika saya melihat para intelektual yang begitu congkak karena telah melahap banyak ‘teori omong-omong’ dari buku-buku tebal, tetapi toh ironinya ternyata kebanyakan dari mereka justru berpikir kerdil, tertutup, dan bahkan buta huruf dalam membaca perihal dunia batin. Dan justru di satu sisi ketika saya membaca perihal kerendahan hati para leluhur Nusantara yang meski begitu waskita dalam membaca dunia batin, tetapi mereka tetap tidak fanatik atau meninggalkan salah satu dari 3 epistemologi keilmuan paripurna di Nusantara atau bahkan mungkin di seluruh dunia, yaitu olah raga, olah pikir, dan olah rasa.

Saya pikir jika kita hanya lulusan saklek dari sistem rancangan pendidikan nasional saat ini, maka kita hanya akan dibentuk menjadi pribadi intelektual congkak yang hanya tahu dan fanatik dalam segi ilmu olah pikir. Dan selanjutnya berkaitan dengan kefanatikan atau bahkan penuhanan suatu sistem kepercayaan. Ketika di malam hari saya duduk di pelataran rumah dan menyaksikan bermilyar-milyar kilauan bintang di persada langit, atau ketika saya asyik-masyuk nonton channel national geographic yang menceritakan orang-orang dari berbagai bangsa dan berbagai ragam sistem kepercayaan yang berkerjasama meneliti dan mengulik kejayaan-kejayaan peradaban lampau di berbagai belahan muka bumi ini. Seketika di situ saya terhenyak jika membandingkan dengan sebagian saudara sebangsa saya yang masih begitu kolotnya berpikir jika tidak sengit bersaing dengan sistem-sistem kepercayaan lain dan mendirikan negara berdasarkan satu sistem kepercayaan tertentu akan dimurkai oleh Tuhan Semesta Alam.

Hah! Emangnya Tuhan Semesta Alam macam apa yang begitu dangkal, sempit, dan garing dalam leluconNya?Untuk itu, padahal tatanan peradaban Nusantara yang diwariskan leluhur kita itu sangatlah indah dan penuh nilai-nilai estetika spiritual, maka kiranya cuma orang ‘mabok’ saja yang minder, lalu memimpikan tatanan budaya asing yang tunggal dan lagi ‘sangat jelek’ ala khilafah itu. Salam berpikir nakal dan bersedekap hening!

Sumber : Status Facebook Satrio Hening

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed