by

Ilmu dan Politik

Oleh : Ahmad Sarwat

Belajar ilmu tidak akan ada habisnya, semakin banyak belajar semakin banyak koleksi ilmu. Dan kalau benar proses menuntut ilmu itu, pada akhirnya nanti kita akan punya banyak ilmu yang dibutuhkan orang. Sehingga kita akan dikelilingi oleh banyak orang yang ingin berguru kepada kita. Kita dikelilingi oleh murid-murid setia. Murid ini nantinya akan jadi guru dan punya murid lagi, punya murid lagi dan begitu seterusnya. Sebuah hirarki dan pramida keilmuan yang abadi.

oOo

Berpetualangan di bidang politik juga tidak ada habisnya. Di puncaknya ada jabatan politis yang memberinya kekuasaan besar, serta kekayaan tentunya. Namun jabatan itu sifatnya gantian, tidak ada yang abadi. Kita tidak bisa terus menerus ada di puncak Piramida itu. Karena semua teman bahkan bawahan pada menunggu giliran, bisa dengan sabar antri atau pun dengan cara menyalib secara jalur pengkhianatan. Membesarkan bawahan itu berbahaya karena ibarat memelihara anak macan.

Kecilnya buat luci-lucu, begitu besar kita dimakannya. Kemenangan politik itu tidak abadi. Hari ini jadi pejabat, besok dan seterusnya hanya jadi mantan pejabat yang sakit hati. Maksud hati masih ingin menjabat, tapi masanya sudah lewat. Akhirnya terkena post power syndrome. Kecuali dia taubat dan ganti orientasi hidup, berhenti berpetualang politik, ganti saluran, ganti pergaulan, ganti atmosfer dan ganti dunia.

Bermetamorfosa untuk menjadi makhluk lain. Baru akan tenang hidupnya. Bagaimana dengan orang berilmu? Dia tidak kenal syndrome post power. Karena ilmu itu abadi. Tidak perlu bermetamorfosa. Tetap menjadi dirinya sendiri.

oOo

Lembaga pendidikan, apalagi yang berlabel Islam, mesti menyiapkan generasi yang berorientasi pada ilmu, bukan pada jabatan. Jangan terbalik-balik.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed