by

Idol dan Fandom

RedaksiIndonesia-Beberapa waktu lalu Ayesha memberi tahu saya kalau ia keluar dari grup fandom sebuah grup musik Korea favoritnya. Alasan yang ia kemukakan ke grup itu sederhana, tapi cukup menohok: “Banyak hal yang ingin aku kejar untuk masa depanku. Aku ingin fokus pada kehidupan real life aku”.

Bagi sebagian orang, mungkin pernyataan keluar dari sebuah fandom grup Kpop itu sederhana, tapi bagi sebagian remaja, hal itu tidak sederhana. Sebuah fandom ibarat sebuah keluarga. Secara emosional mereka saling terikat satu sama lain. Mereka saling support, bahkan saling bantu dalam kehidupan nyata (misal, bantu memecahkan soal-soal ujian sulit). Mereka juga acap membuat proyek kerja bersama. Umumnya proyek-proyek itu seputar grup musik favorit mereka, seperti proyek amal atas nama grup idola (meski uangnya dari mereka sendiri), proyek tanam pohon, bikin buku (seputar kecintaan terhadap idola), atau bikin album musik bersama (yang musik-musiknya umumnya diadaptasi dari musik sang idola).

Kegiatan-kegiatan mereka cukup positif, meski, bila dibandingkan dengan persentase waktu yang dihabiskan untuk mengurus sang idola, porsinya lebih sedikit. Apa yang saya sebut mengurus itu, memang benar-benar mengurus. Seperti, mereka mengurus jumlah viewer video musik idola. Begitu sang idola mengeluarkan video musik baru, mereka semua langsung beramai-ramai streaming video untuk mencapai target viewer, misalnya, 10 juta dalam 24 jam, 50 juta atau 100 juta dalam 24 jam.

Untuk grup populer macam BTS dan Blackpink, target viewernya 100 juta dalam 24 jam. Untuk grup baru naik, cukup 10 juta, bahkan grup debut cukup 1 juta saja. Target-target ini sangat menguras energi, waktu, dan juga uang tentu saja (untuk membeli pulsa supaya bisa memutar video tersebut terus menerus selama 24 jam). Apa yang didapat setelah target tercapai? Perasaan bangga yang semu saja. Keuntungan finansial toh tetap milik grup idola. Hitung saja berapa miliar yang mereka dapatkan dari jumlah viewer?Itu baru satu kasus saja. Kegiatan ‘mengurus idola’ jauh lebih banyak dari itu. Saya sebut saja beberapa contohnya, voting di berbagai aplikasi (agar grup idola menang), proyek ulang tahun idola, proyek target penjualan album idola, dan proyek mention idola supaya tetap berada di tangga teratas Billboard Sosial.

Para fandom ini melakukan dengan senang dan bahagia. Kenapa? Karena faktor emosi. Ketika mereka mendapat support dari orang-orang yang satu ide dengan mereka, perasaan terikat muncul. Inilah alasan kenapa banyak sekali remaja susah keluar dari fandom sebuah grup musik. Sebab, di kehidupan nyatanya, mereka tidak mendapatkan ikatan emosi seperti ini. Banyak sebabnya, seperti, orang tua yang tidak komunikatif, lingkungan sekolah yang kurang kondusif, pembulian, dll.

Akhirnya, mereka melarikan diri ke fandom. Mereka hidup di dunia (mengutip Ayesha), ‘unreal life’ karena seluruh kebutuhan emosi mereka terpenuhi di sana.Ini bukan cuma menimpa Kpoper saja. Perasaan terikat, bahkan sampai mengkultuskan idola bisa terjadi di fandom mana saja. Penggemar Madonna, misalnya, pernah membeli celana dalam sang idola seharga miliaran. Seorang penggemar petenis Andre Agassi, pernah mengambil jejak telapak kaki Agassi dan menyimpannya. Semua yang berasal dari sang idola dianggap seperti berkat.

Obsesi, imajinasi, kultus, membutakan akal. Ini bisa terjadi pada siapa saja, untuk tokoh mana saja, entah artis, olahragawan, tokoh agama, pengarang, atau seniman. Jadi, ketika Ayesha bilang dia keluar dari fandom grup favoritnya, lalu, sepanjang hari menerima japrian dari teman-teman segrup yang membujuknya kembali lagi, dan dijawab dengan cool, saya tidak heran. Sejak awal Ayesha memang tidak suka praktik-praktik pemujaan yang terlalu. Semalam misalnya, dia membicarakan proyek ulang tahun anggota sebuah grup Kpop terkenal yang memakan biaya semiliar. “Aku sungguh heran dengan fans-fans seperti ini,” ujarnya, “Untuk apa mengeluarkan uang segitu banyak hanya untuk menampilkan foto seorang idola di depan umum selama beberapa menit, padahal di saat yang sama jutaan orang kelaparan dan kekurangan air bersih.

Mereka tidak hidup di dunia nyata. Imajinasi membuat mereka lupa hidup nyata yang kita hadapi bersama.” Salahkah remaja-remaja ini? Saya pikir, akar persoalanlah yang perlu diulik, bukan permukaannya. Mengapa mereka bisa begitu? kebutuhan emosi apa yang tidak mereka dapat dari lingkungan terdekatnya sehingga mereka mencarinya di dunia yang semu. Seseorang yang sudah remaja, pasti butuh ikatan-ikatan sosial baru di luar keluarganya, itu alamiah sifatnya, tapi, ketika ikatan itu menenggelamkan mereka sangat dalam, berarti ada masalah di sini.

Sudah saatnya itu ditelisik.”Kamu sedih keluar dari fandommu?” tanya saya pada Ayesha.”Biasa aja. Silaturahmi bisa dilakukan dengan japrian kok,” ujar Ayesha, “Aku juga masih menikmati musik-musik grup idolaku. Aku cuma tidak mau menyesali hal-hal yang nanti akan kusesali setelah dewasa. Aku tidak mau nanti berpikir, seharusnya aku melakukan ini dan itu saat berusia belasan, namun aku tidak melakukannya karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu. Waktu berjalan cepat, aku juga tidak tahu usiaku sampai berapa.

“Yah, pada akhirnya, saya bersyukur tidak menjadi orang tua yang memaksa anak untuk tidak menyukai Kpop. Saya hanya menguatkan ikatan terus menerus dengan dia, mementori dia untuk kehidupan ini. Pada akhirnya, seiring kematangan pikirannya, dia akan melihat mana hal yang betul-betul penting untuknya.Seperti prinsip pendidikan saya, jika cangkang telur dipecahkan dari luar, kehidupan di dalam cangkang akan mati, tapi, ketika cangkang dipecahkan dari dalam, kehidupan baru akan muncul.Saya pikir itulah yang terjadi ketika Ayesha, dengan kesadarannya, memutuskan apa yang ia anggap terbaik untuk masa depannya.

Sumber : Fanspage Lembar Homeschooling

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed