by

Hijab dan Bla Bla (untuk Kalian yang Bertahan & Melawan)

Oleh: Nury Sibli

Selain fenomena Riba yang diyakini membawa manusia ke neraka, gerakan membully perempuan yang tak berjilbab atau berhijab (menurut kaum hijrah) ini nampak terang dan sistemik. Persis gaya orde baru yang gak sesuai aturan siap-siap dibedil.

Baru-baru ini Yuni Shara kembali ramai menjadi cemoohan karena fotonya mengggunakan kain ulos batak dikatai cantik tapi ahli neraka. Foto itu dibuat beberapa tahun lalu tapi tetap menarik bagi para zombie hijrah. Pesohor lain yang baru mengenakan jilbab siap dielu-elukan sambil sesekali dihujani nasehat seolah mereka anak cucu serahim yang harus ini itu sesuai aturan yang dimau. Maksa banget!!

“Aduh mbak, udah pakai jilbab kok bajunya ketat, bla bla bala..” “Kalo udah berhijab, jangan posting2 foto-foto begitulah (baju adat),” kata netizen pada Aurel yang juga lagi disirami oleh mama mertua yang bilang, “Kamu cantikan pakai hijab deh.” O’oow lalu orang yang tak berjilbab tak cantik tanta?

Apa yang menjadi inti dari tausiah berbunyi bullyan itu? RAMBUT. Semua perempuan yang tampak rambutnya akan dikomentari “cantik tapi calon ahli neraka.” Dan ini terjadi dimana mana. Di sekolah, di tempat-tempat arisan, di kelompok pengajian, di komplek-komplek perumahan dan banyak lagi. Bagi yang tak berjibab dinilai aneh dan menjadi terasing.

Beberapa tahun ini banyak istri teman yang dulu rambutnya kerap berwarna sekarang tertutup karena dia satu-satunya wali murid yang tidak berhijab. Seiring busana yang berganti, pergaulan bahasa pun mengikuti ke arab-araban untuk menunjukan identitas kehijrahannya. Misalnya kata ana, antum, halaqah, isbal, rihlah, qadarullah bahkan kalimat Masya Allah dan Tabarakallah seolah menjadi tagline yang keren.

Belum lagi ucapan selamat tak lagi afdhol bila berbahasa Indonesia, seperti barakallah fi umrik, syafakillah dan bla bla bla. Kalau mengucapkan semoga lekas sehat, cepat pulih kenapa rupanya? Seolah kalau sudah berbahasa arab ucapannya paling didengar oleh Tuhan.

Lupa kalau Tuhan maha mengerti, maha mendengar dan maha segalanya. Sampai2 ada istilah #sisterfillah#brotherfillah. hahaha Mameeeen kawan lama dilupakan. Akhi, ukhti, bahasa arab sebagai bahasa Qur’an memang sebaiknya dipelajari agar mengerti isi dan kandungan ayatnya dan juga boleh dipelajari oleh siapapun bagi yang tertarik dengan kajian islam.

Bisa dimulai dengan belajar nahwu shorof sebelum membaca tafsirnya. Tapi bukan berarti meninggalkan bahasa indonesia sebagai bahasa ibu dalam keseharian. Kembali ke soal rambut, lihat perempuan-perempuan di pasar, kantor-kantor dan para artis sinetron bahkan iklan yang wara-wiri di layar tivi hampir tak terhitung perempuan muslim yang tiba-tiba mengenakan jilbab.

Kira-kira apa yang menjadikan jilbab kian menjamur? Jangan-jangan mereka yang tiba-tiba berjibab itu karena gak tahan dengan tekanan lingkungan yang terus menerus menghakimi (bully) tentang ahli syurga. Seolah-olah Tuhan menciptakan rambut karena kesalahan produk atau supaya perempuan hidupnya bersalah atau menjadikan perempuan sebagai penyebab neraka jahannam?

Ukhti yang sholehah, mari menengok pernyataan Ibu Shinta Nuriyah beberapa waktu lalu yang mengatakan, “tidak ada kewajiban bagi Muslimah mengenakan jilbab”. Lalu pernyataan ini dibanjiri hujatan oleh para netizen. Seolah pemahaman netizen maha benar. Tidak ada celah sedikitpun untuk belajar memahami argumentasi pendapat yang berbeda.

Aurat itu wajib ditutup. Sepakat dengan kalimat ini. Tapi yang menjadi persoalan adalah apa batas aurat bagi perempuan? Diskusinya bisa panjang ukht. Mengutip Nadirsyah Hosen ‘Kita fokus pada frase “illa ma zhahara minha” yang diterjemahkan oleh Kemenag RI dengan “kecuali yang (biasa) tampak darinya.” Nah para ulama juga berbeda pandangan mengenai frase ini.

Jadi dalam satu cara pandang, petikan ayat ini bermakna: jangan tampakkan tubuh kalian, kecuali apa yang biasa kelihatan. Lalu apa yang biasa kelihatan itu? Tangan, rambut, wajah, kaki dst. Jadi, gerakan pemaksaan berjilbab itu untuk siapa? Kalau sudah berjilbab yakin masok sorga? Dalam beragama ada istilah muamalah, berbuat baik saja dulu dg sesama dan kepada sang pencipta. Ini lihat anjing aja udah bawa sapu.

Selama berpijak di tanah maka jadilah menusia. Jangan menghakimi seseorang karena rambutnya atau merasa dirinya paling ahli apalagi merasa menjadi wakil Tuhan. Indonesia itu memiliki keragaman busana yang tak dipunya oleh negara-negara lain. Ini sebuah maha karya manusia berkat anugrah sang pencipta.

Ada songket dari tanah minang, tenun ikat dari nusa tenggara, batik dari jawa, bajo bodo, kebaya dan banyak lagi ragam warisan leluhur yang hendaknya dijaga dan dihormati sebagaimana kita memuliakan sang penciptanya. Jadilah perempuan merdekaJadilah Indonesia dan Jagalah Selamat hari kartini, 21.04.21

Wa Allahu a’lam bish-Shawab

Tabik,

Nury Sybli, Alumni UIN Ciputat, Kembaran Dian Sastro

(Sumber: Facebook Nury Sybli)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed