Having Sense of Crisis

Oleh: Heni Nuraini

Sejak dari minggu kemarin, waktu Sabtu Minggu saya gunakan untuk jalan santai memantau kondisi ekonomi di bulan Ramadhan. Seperti hari ini, dengan menempuh jarak kurleb 15-20 KM dalam waktu 4 jaman, berhasil memantau pusat-pusat kegiatan ekonomi yang ada di kota tempat saya tinggal, selusin hari jelang lebaran (iyalah, masa tempat Kate Middleton tinggal, bisa gak valid info A1 yang ingin saya share yekan).Yang tidak tinggal sekota dengan saya, masih bisa menyimak kesimpulan yang saya buat.

Karena saya perkirakan kondisi yang serupa juga terjadi di daerah2 lain, baik di Pulau Jawa maupun Luar Jawa.Kalau yang tercatat di gambar hanya 8 KM, karena saya banyak mampir ke sana ke marinya untuk me-recharge energi, jadi record nya terpecah2. Tadi ada mampir di bakmi ayam, bandar juice, dll… Lumayan jadi gak kerasa cape, haus dan laparnya sih walau jalan2 di bulan puasa jelang musim kemarau)

Beberapa lokasi yang saya pantau,- CSB Mall, pasar menengah ke atas, ramai lancar, parkiran tidak penuh, didominasi oleh kendaraan roda empat.- Grage Mall, pasar menengah ke atas, ramai padat, parkiran meluber hingga keluar area, dominan kendaraan roda empat. Pemandangan yang sama antara pandemi maupun tidak pandemi setiap jelang lebaran. Bedanya, tahun ini parkir kendaraan roda dua menurun drastis.

  • Toko Fashion di seberang Grage Mall, pasar menengah ke bawah, normal lancar, parkiran motor cenderung kosong. Biasanya setiap jelang lebaran toko ini selalu padat pengunjung.
  • Pasar Kanoman, pasar menengah ke atas, ramai padat, dijubeli kendaraan roda empat, pemandangan yang tidak berbeda setiap jelang lebaran.
  • Pasar Pagi, pasar menengah ke bawah, cenderung kosong, banyak toko kelontong yang tutup meskipun weekend, Toko yang buka didominasi oleh toko bahan2 kue.
  • Pusat kulakan di jalan Pasuketan, pasar pengusaha menengah, ramai padat, meskipun tidak sepadat di masa sebelum pandemi.
  • Pusat kulakan di jalan Kanggraksan, pasar pengusaha UMKM, cenderung sepi, jalan yang biasanya macet sebelum pandemi sekarang normal lancar.- Hotel-hotel di kawasan jalan Siliwangi, Cipto dan Pemuda, semua parkiran penuh oleh kendaraan roda empat (jangan tanya tingkat okupasinya ya, saya tidak memantau sedetail itu.

Kesimpulan :

Di luar seberapa valid kesimpulan yang saya buat, tapi secara umum saja, dari uraian di atas, gampang sekali untuk ditarik kesimpulan.

1. Ekonomi Indonesia sedang morat-marit, tidak sedang baik-baik saja di masa pandemi ini.

2. Kalau banyak yang menggunakan ukuran, “itu semua mall ramai, pengunjung berjubel, foodcourt penuh, jadi ekonomi sulit ?” sambil memberi emoticon ‘haha’ berderet2… berarti anda middle class ngehek yang kurang jalan-jalan, tidak berbaur dengan masyarakat umum. Sorry to say ya, bukan maksud menyindir, hanya menjulid

3. Jika anda rajin mengikuti berita, pasti sering mendengar Presiden Jokowi yang berulang kali menghimbau agar masyarakat meramaikan PASAR TRADISIONAL. Artinya, Presiden Jokowi pun sudah menguasai data lapangan, persis seperti pantauan lapangan saya, bahwa pasar tradisional salah satu pusat ekonomi masyarakat yang sangat terdampak pandemi. Ramainya mal tidak menggambarkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya sedang terjadi.Dengan meramaikan pasar tradisional artinya anda turut membantu kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah PEKERJA INFORMAL.

4. Dugaan saya, yang meramaikan Mal adalah kelompok pekerja formal, baik PNS maupun BUMN/Swasta, yang menerima gaji bulanan tetap. Kelompok masyarakat ini yang cenderung tidak terlalu terdampak pandemi, masih hidup layak sebagaimana sebelumnya.Jadi sangat tidak elok, tidak sopan, dan mainnya kurang jauh sehingga tidak memiliki ‘sense of crisis’, jika kelompok masyarakat ini, hari ini ramai menuntut pembayaran THR full tunjangan. Just for your information, agar dipahami & disadari bersama, di masa pandemi ini negara harus melebarkan utangnya, untuk menjamin para PNS tidak dipotong gajinya, untuk menjamin seluruh strata sosial masyarakat, baik kelas atas, menengah, hampir miskin, sampai rakyat miskin, tetap bisa beraktivitas ekonomi dan berpenghidupan yang layak.

Negara harus menggelontorkan dana untuk semua strata sosial, kepada semuanya harus dibagi-bagi, karena tidak ada yang tidak terdampak pandemi. Jadi kepada ASN & BUMN, bersyukurlah negara masih tidak memotong gaji. Kepada karyawan swasta, bersyukurlah dan doakan yang baik-baik kepada bos-bos kalian yang masih bisa menggaji, baik full maupun tidak full, bersyukurlah yang masih bisa bekerja, karena bisa jadi untuk memastikan anda tetap bisa bekerja, selamat dari PHK, mereka harus menjual aset-aset pribadinya.

5. Kalau memperhatikan jumlah kendaraan roda dua yang berkurang signifikan bersliweran di pusat-pusat ekonomi, artinya makin meningkat jumlah masyarakat hampir miskin dan miskin. Terutama pada pekerja di sektor informal. Kalau melihat pada data validnya di BPS, saya yakin angkanya akan menunjukkan hal yang sama seperti kesimpulan yang saya buat. Mereka inilah yang menjadi sasaran Bansos pemerintah yang bentuknya sangat banyak itu, ada sembako, BLT, Kartu Prakerja, bantuan UMKM, dlsb.

Jadi, jika Menteri Keuangan menyunat THR PNS untuk dialihkan ke anggaran Bansos, apa iya masih tega diprotesi? Tuna rasa kemanusiaan? Kalau bicara kesulitan hidup di masa pandemi, semua orang juga tidak ada yang tidak terdampak pandemi. Jadi tidak perlu berlomba siapa yang paling sulit hidupnya di masa pandemi. Bukan salah orang lain kan jika punya banyak cicilan? ehh..

6. Kesimpulan akhir, sedih saya melihat fakta lapangan bahwa yang masih lancar berbelanja atau punya daya beli hanyalah kelompok upper & middle class. Maka kalau boleh menghimbau, bagi yang mampu, kurangilah belanja konsumsi yang tidak perlu, kurangi berfoya-foya dalam makanan. Kalau masih ada uang lebih, amplopi dan berikan kepada masyarakat di sekitar. Masyarakat miskin juga harus dimampukan daya belinya, agar pengusaha mikro yang konsumennya adalah masy kelas bawah, bisa ikut hidup.

Moral of the Story:

Saya sering menghayal begini, seandainya saja 270 juta jiwa masyarakat Indonesia, bersedia mematuhi PROTOKOL KESEHATAN atau 5M, tanpa perlu berdebat ada atau tidak Covid-19 itu, berbahaya dan mematikan atau tidak Covid-19, rekayasa dan hanya lumbung korupsi atau bukan pandemi Covid-19 ini, dan segala teori2 lainnya… pokoknya hanya patuh PROKES saja.. Lalu Indonesia akan mencapai Zero Case atau 0 kasus, tanpa perlu menunggu vaksinasi yang sangat mahal harganya dan sulit didapat itu, atau Herd Immunity…

Maka tidak perlu ada pembatasan2 aktivitas dan mobilitas, seperti PPKM, pelarangan mudik, dlsb.. maka perekonomian Indonesia akan segera normal kembali.. Orang2 yang mendadak miskin dan hampir miskin bisa kembali naik kelas, kembali hidup layak, karena berpenghasilan seperti semula. Namanya juga mengkhayal, boleh dong terlalu muluk juga..

(Sumber: Facebook Heni Nuraini)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *