by

Firehose of Falsehood : Pilpres dan Covid

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Dulu teori di atas digunakan oleh Donald Trump saat pilpres AS. Pun dalam pilpres di Indonesia beberapa elemen pendukung capres memanfaatkannya. Hembusan dan semburan komodifikasi agama plus berita bohong terus menerus dilakukan lewat medsos. Sehingga banyak orang menjadi “mabuk dan terjengkang” akibat overdosis menelan sebaran informasi yang masif tersebut.

Banyak orang mempercayai berita yang aslinya hoaks namun dianggap benar, entah karena keluguannya atau kurang kritisnya. Kalau lupa, ambil contoh masalah operasi kulit seorang wanita yang pada mulanya banyak dipercaya oleh banyak tokoh nasional. Atau penyebaran foto pidato DN Aidit yang dinarasikan ada foto Jokowi muda. Atau kampanye halus yang bawa-bawa mimpi 5 kali.

***Mirip dengan firehose of falsehood walau tidak identik adalah peristiwa di era pandemi. Selama dua tahunan ini, masyarakat dibombardir dan dicekoki berita kopid yang overdosis. Berita yang menyebar bercampur antara fakta sesungguhnya dan hoaks. Masyarakat sulit membedakan laiknya saat pilpres dulu. Dalam keadaan begitu, bagi yang takut akan bertambah takut. Bagi yang komorbid semakin merasa kayak tiada harapan, bersembunyi pun serasa selalu diincar kopid. Apalagi untuk bersembunyi dari berita juga sulit, karena informasi baik hoaks atupun bukan berseliweran lewat gawai yang dia pegang.

Benar kata Jokowi bahwa musuh terbesar kita bukan virus koronanya, tapi kecemasan yang berlebih plus berita hoaks yang tentu menambah ketakutan:http://nasional.kompas.com/…/jokowi-musuh-terbesar-kita…

***Kalau lupa berita yang terkategori hoaks dan menakutkan, berikut ini contohnya. Tersebarnya informasi bahwa virus bisa bertahan 3 jam di udara. Ternyata hal itu salah, lihat video tahun 2020 dari pawang virus, baca : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1022700278535147&id=100023855536914

Kenapa saya tulis sebagai pawang virus? baca : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10225985847173180&id=1245462127

Ataupun berita OTG yang tidak jelas kaitannya dengan penularan sehingga ada yang menyiapkan tantangan uji OTG, baca : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=948910279239730&id=100023623007183

Ivermectin yang merupakan obat untuk skabies dan parasit pada hewan malah diberitakan mau dibagikan ke Kudus untuk orang yang kena kopid, baca : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2709147452724537&id=100008879261456

Ataupun berita akan ada mati 10 juta gegara kopid di Indonesia, baca : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=320757079609705&id=100050262470598

Demikian pula adanya mutasi maupun varian yang katanya lebih ganas. Padahal tiada varian yang lebih ganas. Kalau lebih cepat menyebar memang benar, baca : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=948910279239730&id=100023623007183

Atau berita tentang long kopid yang menganggap semua gejala dikaitkan dengan Covid-19. Mulai dari mudah kelelahan, sesak nafas, anosmia, hingga munculnya ruam. Padahal itu telah lama dalam dunia medis akibat penggunaan antibiotik salah guna maupun karena berlebihan, baca : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4659998024014797&id=100000139368193

***Agar kita tidak mempan dengan semburan-semburan berita hoaks, hendaknya menggunakan akal sehat dan terus belajar bersama sehingga sedikit demi sedikit bisa mengenal bagaimana “perilaku” pirus kopid, dan juga bisa ikhtiar untuk menghadapinya secara normal, serta yang paling penting, bisa membuat orang lain lebih tenang serta terhibur. Bagi saya, hal yang pokok adalah angka kesembuhan tinggi dan angka kematian relatif kecil di seluruh dunia adalah pegangan bahwa yang kena kopid banyak yang bisa disembuhkan. Semoga kita semua sehat dan yang sakit segera sehat. Pun yang sakit akal dan hatinya juga segera pulih, kalau ada lho? ***

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed