by

Dukungan Pemerintah Bagi Pendidikan

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Pagi ini anak saya yang kuliah S1, berangkat ke Jakarta selanjutnya menuju ke Toronto lanjut Waterloo, Kanada,untuk mengikuti program mobility student yang dibiayai LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). LPDP sekarang mengelola sekitar 71 T untuk penelitian, pengembangan SDM dan bantuan bencana. Tahun 2014 lalu dana yang dikelola masih 16 T (dana abadi di luar APBN).Beberapa dosen di ITK nyeletuk “Coba jaman kita dulu ada program mobility student gini, pasti kita rebutan ikut ya “.

Ya benar program ini relatif baru. Banyak teman2 yang anaknya juga ikut program ini. Teman lain anak2nya sekolah master atau doktor ke LN dan di dalam negeri dibiayai LPDP. Anak saya sejak di sini sudah dberi uang untuk membayar dorm selama beberapa bulan ke depan. LPDP juga membiaya program afirmasi kuliah lanjut untuk saudara2 kita dari daerah 3 T.Teman dan senior saya Prof Udisubakti Ciptomulyono, awal tahun 90an kuliah S3 ke Perancis dengan beasiswa pemerintah, 3 bulan uang tidak dikirim.

Di sana numpang di kos-kosan teman. Menyedihkan, saking sempitnya. Mahasiswa S3 harus tinggal numpang di kamar orang sampai berbulan-bulan. Untuk biaya hidup akhirnya harus dikirim uang dari keluarga di Indonesia. Tapi bersyukur masih ada yang bisa ditumpangi. Mengapa beasiswa telat? katanya itu kerjaan oknum nakal di Jakarta yang mencari selisih bunga. Kejadian serupa masih berlangsung hingga beberapa tahun ketika para dosen dapat beasiswa kuliah dalam negeri, beasiswa sering dirapel di belakang.

Bayangkan jika orang keuangannya mepet, betapa susahnya karena perilaku korup para pejabat pengelola beasiswa ini.Sekarang sudah beda. Keuangan dikelola lebih baik(meski masih ada korupsi). Anak2 pintar begitu mudah kuliah ke LN ke kampus2 top, dengan beasiswa yang sangat memadai. Bahkan anggota keluarga bisa dibiayai jika sudah berkeluarga. Anak2 bisa ambil 1 semester kuliah di kampus top di luar negeri. Semua dibiayai pemerintah lewat LPDP.Jadi kalau ada yang bilang hidup makin susah, ekonomi hancur ( di luar pandemi) barangkali perlu berkaca dan melihat masa lalu lagi. Apakah ucapannya hanya karena hidupnya yang makin susah, atau salah memilih aliran agama atau melihat secara umum kondisi kehidupan masyarakat Indonesia?

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed