by

Rambut Bukan Sauat, Apalagi Aurat

Oleh : Deni Ardian

Sudah sama-sama kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang paling indah dan canggih struktur fisiknya dibandingkan makhluk lainnya. Selain itu manusia juga dilengkapi kemampuan imaginasi dan daya pikir yang luar biasa, juga pola karakter dan prilaku yang bahkan semakin hebat dari masa ke masa.

Salah satu hasil dari kelebihan manusia tersebut yaitu naluri berpakaian. Hanya manusia yang memiliki naluri berpakaian dan juga membuat pakaian. Makhluk lainnya hanya dibuatkan dalam format cangkang-cangkang pelindung. Salah satu fungsi pakaian pada manusia yaitu menyembunyikan bagian-bagian tubuh yang tidak pantas terlihat. Dan untuk hal ini Tuhan tidak perlu memberikan perintah atau larangan secara tertulis atau naratif. Cukup dengan memasangkan sistem naluri fitrah pada setiap jiwa manusia, maka manusia (yang berakal sehat) dimanapun dan kapanpun akan berpakaian yang menutupi bagian-bagian tubuhnya yang dia rasa malu bila terlihat.

Maka di dalam Alqurán ayatnya tidak berbentuk perintah atau larangan melainkan berbentuk informasi untuk mengingatkan dan menegaskan hakikat. “Wahai anak-anak Adam. Sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian kepadamu untuk menyembunyikan SAUÂTmu dan sebagai perhiasaan (yang memperindah).. (Al-A’rof : 26)Jadi mesti dipahami bahwa fungsi pakaian itu bukan untuk menutup aurat, tetapi untuk menutupi atau menyembunyikan sauât, dan untuk tujuan itu Tuhan sudah menginstalkan kewarasan bagi manusia sehingga manusia tidak perlu diperintah secara naratif, dan juga manusia tidak perlu mencari-cari perintah tertulisnya. Cukup rasakan.Secara harfiyah “sauât” sama dengan “sayyiaat” merupakan kata benda jamak (plural) dari lafadz “suů” yang berarti jelek / buruk / tidak bagus, baik dalam aspek estetika ataupun etika.

Bagian-bagian mana dari tubuh kita yang tidak bagus secara estetika dan etika akan secara naluri kita tutupi tanpa harus diperintah. Tergantung pada tingkat sensitifitas rasa kita masing-masing terhadap nilai etika dan estetika, maka kita sendiri yang secara naluri akan membatasi bagian mana dari tubuh kita yang harus disembunyikan atau boleh diperlihatkan. Menyembunyikannya pun bisa dengan beragam cara, bisa dengan berpakaian, menunundukkan wajah, menutupi bagian tertentu dengan tangan, dengan bedak, dengan obat anti jerawat, dan lain sebagainya.

Selain faktor sensitifitas rasa, bagian-bagian tubuh yang juga dititupi tergantung pada situasi dan kondisi dimana tubuh itu berada dan bermasyarakat. Maka jenis pakaian pun ditentukan oleh situasi lingkungan dan juga corak budaya yang tumbuh di sekitarnya. Kita akan menertawakan bila ada teman kita yang mengenakan piyama ke kantor, atau mengenakan singlet olah raga ke kondangan, itu misalnya. Kita juga akhirnya akan mempertanyakan bagaimana ceritanya pengantin yang kedua-duanya orang Sunda tapi menikah dengan pakaian adat Minang atau Dayak, misalnya.

Berbicara bagian tubuh yang tidak bagus dan tidak sopan bila terlihat, maka bisa dikatakan bahwa pada tubuh laki-laki lebih banyak bagian yang harus ditutupi dibandingkan tubuh perempuan. Dan hampir seluruh tubuh perempuan itu indah dilihat namun tetap tidak baik atau tidak sopan secara etika bila bagian-bagian tertentu diperlihatkan. Tidak perlu mencari ayat hukumnya, just feel it, rasakan. Di antara sauât-sauât pada permukaan tubuh manusia dimana saja dan kapan saja manusia berada, ada bagian tubuh tertentu yang semua manusia bersepakat tidak boleh terlihat dan diperlihatkan dalam situasi, kondisi, dan wilayah apapun kecuali saat bersama pasangannya (suami isteri) atau bersama anak kecil yang masih polos. Bagian tubuh itulah yang disebut Áurat. (Áar = aib /cela).

Again, kesepakatan universal tersebut bukan karena ada perintah tertulis atau naratif dari Tuhan tetapi karena insting atau naluri yang sama yang universal bagi manusia-manusia berakal sehat yang sudah Tuhan instalkan pada setiap jiwa manusia yang Dia ciptakan.Jadi kita tidak akan menemukan batasan-batasan secara hitam putih dan tertulis bagian mana yang sauât dan bagian mana yang aurat. Tidak perlu mencari hukum tertulis tentang hal itu karena memang tidak perlu ada hukumnya. Batasan-batasannya adalah batasan universal berupa naluri fitrah manusia berakal sehat.

Namun Tuhan memang perlu mengingatkan beberapa hal karena manusia suka lengah dan kadang lebay, yang didorong oleh tingkat sensitifitas dan awareness atau kesadaran setiap jiwa manusia yang memang berbeda-beda, dan padahal di sisi lain Tuhan menghendaki manusia menjadi makhluk yang tetap maju, bahagia dan selamat. Maka Tuhan mengingatkan secara umum saja bahwa kita harus aware terhadap sauât kita, menutupinya dengan dengan sesuatu yang fashionable (riisyan), bukan dengan sesuatu yang justru menjadikannya tambah jelek dipandang mata. Selebihnya Tuhan membebaskan manusia dengan rasa, cipta, karsa, dan karyanya masing-masing agar bisa berkompetisi menuju yang semakin baik.

Mengenai aurat pun Tuhan tidak membuat garis pada tubuh manusia mana yang disebut Aurat karena manusia berakal sehat akan sepakat dengan manusia secara universal bagian tubuh mana yang terlarang untuk dilihat dan diperlihatkan karena akan menjadi aib dan tercela, selain kepada pasangannya (suami isteri) atau anak kecil yang belum paham apa-apa. Dengan demikian nyata sebetulnya, rambut perempuan bukan sauât, apalagi aurat. Rambut itu mahkota yang layak dipercantik dan diperlihatkan pada dunia. Bukan anggota tubuh yang memalukan apalagi mendatangkan hasrat birahi. Tidak ada secuilpun ayat Alquran yang mengisyaratkan bahwa rambut adalah aurat. Bahkan tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan bagian mana yang disebut aurat. Again and again, kalau akal kita sehat, pakai saja itu untuk mengukurnya. Itu bekal yang sangat berharga dari Tuhan, akal sehat.Namun kenapa banyak orang menganggap rambut perempuan adalah aurat ?

Karena mereka membuat deadline, garis mati melingkar bahwa apa yang dilakukan dan dikatakan Rasulullah dulu di tanah dan budaya Arab adalah final and binding, akhir keputusan yang mengikat sampai akhir jaman dan dimana saja. Sedangkan bagi saya yang apa yang diputuskan Rasulullah dahulu disana adalah final and binding untuk disana pada masanya, sesuai dengan kultur budaya masyarakatnya, dan dapat berubah seiring perubahan dimensi ruang dan waktu.”Itu adalah umat yang telah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka usahakan, dan bagi kamu apa yang kamu usahakan. Dan sedikitpun kamu tidak akan ditanya tentang apa yang mereka lakukan”. (Albaqarah : 134, 141)

Satu yang final dan binding adalah ketetapan Allah melalui Ayat-ayatNya dan fenomena-fenomena yang Dia hadirkan dimana saja dan kapan saja, sepanjang masa (45 : 2 – 5).

Lantas bagaimana kita sholat bila rambut perempuan bukan aurat ? Apakah rambutnya boleh dibuka saat sholat ?Sholat adalah ritual (manasik) dan formal. Dalam ritual apapun ada ketentuan atribut yang dipakai dan tata laksananya. Ritual sholat telah Allah lestarikan untuk diambil pelajaran dan juga dilaksanakan sebagai ritual / manasik. Selain sholat ada pula ritual lainnya seperti manasik haji. Maka atribut juga lafadz dan tatalaksan sholat, haji, dan ritual lainnya harus sesuai dengan format aslinya, sakral dan formal sesuai pelestarian dari Allah YMP, termasuk memutupi rambut saat sholat.

Namun di luar itu tidak ada larangan dalam Alquran untuk memperlihatkan rambut. Bahkan perlu dirawat, diperindah dan dibanggakan sebagai bentuk syukur dan terima kasih kepada Allah atas karuniaNya. Bukan malah disembunyikan seolah malu atas pemberian Tuhan yang indah itu… Namun demikian, please jangan perlihatkan rambut pada orang yang gampang orgasme saat melihat rambut tergerai ditiup angin di pagi, siang atau senja hari. Repot kemana-mana dia harus pakai pampers…#RambutBukanAurat

PS. Bagi yang tetap menganggap rambut perempuan adalah aurat yang malu bila terlihat sehingga harus ditutupi yaa silakan saja… You have rights, so do I and every other women…

Sumber : Status Facebook Deni Ardian

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed