by

Sebelum Poligami, Pertimbangkan Ini

Oleh : Mamang Haerudin

Pada dasarnya “mendua” itu kurang baik. Sebab pernikahan itu akadnya setia. Sepanjang hayat dalam suka maupun duka. Perilaku mendua itu yang kita kenal dengan istilah poligami. Jadi kasusnya begini. Ada seorang istri yang ditinggal wafat suaminya. Meninggalkan 2 orang anak laki-laki. 1 anak telah dewasa dan berkeluarga, 1 anak lagi masih sekolah. Ia tentu membutuhkan biaya untuk keperluan sehari-hari maupun biaya sekolah anaknya.

Setelah sekian tahun lamanya, kini tiba masa di mana ia saling menyukai antara satu sama lain. Hanya saja posisi calon suami masih beristri. Menurut informasi, istrinya yang pertama belum punya buah hati. Akhirnya sebagai manusia biasa, entah karena ingin punya anak atau lainnya, memutuskan akan menikah lagi. Jujur persoalan ini nggak gampang. Malah bisa semakin rumit. Berbekal pengalaman para jamaah sebelum-sebelumnya, saya selalu menyarankan agar tetap hati-hati, segala sesuatunya dipertimbangkan, terutama meminta petunjuk Allah Swt.

Meksipun keputusannya berkisar pada dua hal: lanjut dengan niatnya berpoligami (atau menikah dengan suami yang telah beristri) atau menyudahi hubungannya. Dua keputusan itu punya risiko masing-masing. Namun jujur kalau pertanyaan atau pilihan itu dialamatkan ke saya, saya akan menyarankan agar sebaiknya menyudahi saja. Mengurungkan niatnya. Tidak mudah menjalin hubungan rumah tangga dalam balutan poligami. Apalagi kalau tanpa sepengetahuan istri pertamanya.

Oleh karena itu sebelum semuanya berkecamuk, lebih baik beralih keputusan saja untuk tidak poligami. Sebab kalau poligami terjadi, ia (istri kedua) akan mendapatkan hukuman sosial, bisa jadi dituduh sebagai perusak rumah tangga orang lain. Menikah pun nanti tidak resmi dicatat di KUA. Akhirnya pernikahan pun siri. Pernikahan siri ini mestinya dihindari. Poligami secara sembunyi-sembunyi akan tetap ketahuan suatu saat nanti. Istri pertama akan marah semarah-marahnya.

Akhirnya pernikahan yang mestinya membawa keberkahan dan kebahagiaan malah berujung kerusuhan. Sebab kalau urusannya nafkah, terlalu banyak istri yang bisa mencari rezeki, ada atau tidak ada suaminya. Tetap bisa mandiri. Risikonya besar, sehingga jangan hanya memikirkan keinginan sendiri, sementara nanti di kemudian hari berujung penyesalan. Lalu bagaimana cara menyudahi rencana poligaminya? Selain yang utama meminta petunjuk kepada Allah, memalui shalat istikharah dan sedekah, selanjutnya harus dibicarakan baik-baik. Bahwa berbahagia–dalam arti menikah–secara sembunyi-sembunyi itu bagaimana pun bukan akhlak seorang Muslim atau Muslimah yang baik.

Selalu ke depankan pikiran yang jernih, hati yang bersih. Yang mau jadi istri kedua harus punya empati. Bagaimana jika poligami itu terjadi pada posisinya dulu ketika menjadi istri pertama. Suaminya punya niatan untuk poligami. Maka dari itu kalau belum bisa menempuh jalan hidup yang istimewa, ya minimalnya kita berjalan biasa saja. Jangan menempuh jalan yang risikonya ribet dan besar. Masih banyak laki-laki yang belum menikah dan duda yang jauh lebih siap dan mapan dalam segi apa pun. Untuk pertimbangan lainnya, bahwa laki-laki yang kau sukai dan harapkan menjadi suami dengan jalan poligami, belum tentu bisa menuntun pada kebahagiaan.

Bagaimana bisa membahagiakan istri kedua, kalau istri pertamanya saja tega disakiti? Walhasil, nikah siri dan nikah poligami sebaiknya dihindari. Sebab yang rugi itu diri sendiri bahkan orang-orang terdekat kita kena imbasnya. Hidup di dunia ini terlalu indah, jangan kau kotori keindahannya dengan keputusanmu yang prematur, tanpa pertimbangan yang matang. Semoga Allah meridai setiap do’a dan hajat kita ya. Semoga menuntun kita ke jalan syariat, jalan yang Allah ridai. Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed