by

Ciri Khas Ceramah/Dakwah Ulama Islam Garis Keras

Oleh : Agung Wibawanto

Saya hanya sebagai pengamat sosial yang pastinya kerap melihat apa yang terjadi dalam masalah-masalah sosial negeri ini. Benar, saya tidak harus berada di mana-mana untuk menyaksikan langsung, tapi karena kecanggihan teknologi, sekarang saya bisa di mana-mana meski tidak kemana-mana. Cukup dengan membuka infochanel di YouTube ataupun lihat dan baca kabar-kabar di media sosial lainnya. Jadi sebelumnya saya mohon maaf bila memamg tidak berada di TKP. Seorang jurnalis juga biasanya memang tidak harus berada di TKP namun tetap bisa menyampaikan berita kepada masyarakat. Sudah banyak yang saya tulis dan saya saksikan berdasar apa yang saya lihat/dengar, pikirkan lalu pahami. Kali ini saya bahas terkait gaya ceramahnya para ulama dari kelompok Islam Garis Keras (IGK) Ada yang khas memang jika kita perhatikan setiap ulama IGK berdakwah.

Baik itu ceramah acara di masjid, di rumah, pondok atau di manapun. Nah, ke-khas-an tersebut sedikit berbeda dengan kelompok yang masih sesama Islam namun yang rahmatan Lil Al-Amin. Terlebih sangat berbeda dengan ceramah tokoh atau rohaniawan dari agama lain. Apa sih pentingnya membahas gaya ceramah, toh tiap orang bisa berbeda-beda cara dan gaya. Benar sekali, dan memang kurang penting. Yang perlu dipahami, bahwa dalam teori komunikasi, sebuah komunikasi akan berhasil mencapai tujuannya, salah satunya karena faktor gaya atau style. Atau bagaimana komunikan merespon akan bergantung dari gaya seorang komunikator. Terlebih forum “ceramah” di sini menunjukkan posisi yang berbeda antara komunikator dengan komunikan. Keduanya tidak dalam posisi atau level yang sama. Komunikan dalam posisi lebih tahu segalanya dan lebih benar segalanya, wajib dihormati dan dipatuhi. Sementara komunikan sebuah ceramah adalah kebalikannya.

Mereka dianggap tidak tahu, harus patuh mendengar dan patuh menuruti yang disampaikan. Jika komunikan menolak atau melawan, ya dia bisa terancam dikeluarkan dari forum saat itu juga.Jadi, gaya bicara atau penyampaian dalam setiap ceramah juga bisa mempengaruhi bagaimana pengikutnya mensikapi. Kalau keras ya pengikutnya akan ikut keras, tapi kalau disampaikan lembut dan penuh candaan ya pendengarnya akan lebih lembut dan kalem. Manfaat atau tidak tulisan ini kembali kepada pembaca. Baiklah, kembali kepada topik, apa sih ciri khas ceramah kelompok IGK?Pertama, menggunakan pengeras suara. Ini memang lazimnya ceramah agama, terutama kaum muslim. Biasanya mengenakan pengeras, wong saat ibadah saja terkadang memakai juga. Sementara jarang sekali dalam ceramah di agama lain yang menggunakan pengeras.

Jika pun pakai maka hanya pengeras di dalam ruangan. Coba ke gereja, ke kuil dan klenteng, saya jarang mendengar apa isi ceramahnya dari luar tempat ibadah. Kedua, meski sudah mengenakan pengeras suara, penceramah IGK kerap menggunakan suara keras bahkan kadang berteriak. Ini ceramah atau orasi politik ya? Seperti ingin membangkitkan semangat pendengarnya, seperti mau berperang. Beda dengan IGK, kelompok Islam lainnya penuh kelembutan dalam berintonasi. Hanya ketika memberi penekanan khusus barulah agak diperkeras suaranya. Beda ya. Ketiga, diksi yang digunakan banyak sekali menggunakan kata kasar dan kotor. Jelas sekali menunjukkan bahwa penceramah sedang marah. Terasa aneh jika ceramah agama yang harus nya terkait dengan ajakan untuk beribadah dan berbuat kebaikan dengan sesama tapi justru marah-marah menyalahkan entah siapa?

Tentu dalam konteks (sekali lagi) membakar semangat jamaah atau pendengar ya sudah benar. Tapi semangat untuk apa? Semangat untuk ikut marah?Keempat, konten yang disampaikan kok kebanyakan malah soal politik? Kok nge-ghibah ngomongin orang? Kok menyalah-nyalahkan seseorang? Kaitannya dengan ibadah dan taqwa kepada Allah SWT itu apa? Topik yang diangkat adalah kasus-kasus politik, bahkan bagaimana menang pilpres pun dibahas. Ini majelis pengajian atau majelis politik? Sangat beda dengan kelompok Islam lainnya yang lebih membahas soal keimanan. Kelima, tidak terbantahkan. Setiap kata yang diucapkan, jangan sekali-kali pernah dibantah, disangkal ataupun sekadar diluruskan. Ucapan ulama IGK ibaratnya hukum bagi jemaahnya.

Kalau itu dianggap hukum ya berarti harus dituruti. Entah paham atau tidak, pendengar harus menuruti yang disampaikan dalam ceramah. Sementara dalam ceramah kelompok lain sering terjadi dialog, dan kadang tidak sungkan jemaah meralat jika memang keliru dan penceramah minta maaf memperbaiki. Dari gambaran ini saja, bagaimana kira-kira karakter yang terbangun dari pendengarnya? Sudah pasti bisa ketebak dengan mudah. Pendengar ataupun jemaah dari penceramah IGK akan tumbuh dengan militan, suka mencaci maki, penuh kemarahan dan berpikir pendek ingin bertindak sesegera mungkin melaksanakan perintah gurunya. Perintah yang dimaksud bukan lah soal beribadah dengan benar, tapi ikutan marah turun ke jalan dan lakukan protes. Jika perlu buat kegaduhan agar chaos. Pertanyaannya,mengapa harus begitu?

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed