by

Baru 6 Tahun Kita Merdeka

Oleh : Harun Iskandar

Sore kemaren sepulang dari tur ‘Komodo National Park’, cek-in lagi di Loccal, Santorini Labuan Bajo. Tapi pindah kamar, jadi ndak perlu ‘mendaki’ lagi untuk menuju kamar. Sekarang ada di lantai 4, hadap laut.Masih rame dan cukup penuh juga. Menurut informasi, seluruh hotel ber-Bintang, dalam kondisi sama. Jelang maghrib jalanan 2 arah, masing2 satu jalur tersendat beberapa kali. Deretan mobil parkir di salah satu sisi jalan sebabnya. Depan hotel malah di kedua sisi. Panjang . . .Satu dua mobil saja hendak keluar, sudah cukup bikin heboh. Celaka atau untungnya, di sepanjang jalur jalan banyak kegiatan ekonomi. Cafe, rumah makan, hotel, sampai jualan pulsa. Jadi ‘kehebohan’ sering terjadi. Labuan Bajo sedang menggeliat bangun . . .

Menunggu cek-in kami berlima minta diantar makan durian. Lokal. Di sebuah warung pinggir jalan. Duren lokal enak juga ternyata. Sopir kami cerita dia punya kebun duren sendiri. Kemaren sore sudah panen dan dipasarkan. Makanya saat ditawari dia menolak. Orang kaya juga agaknya. Mobil yang dipakai type baru. Dan banyak mobil baru disana . . . Plat nomernya bukan saja EB, plat lokal. Tapi juga B, Jakarta. Bahkan W, Mojokerto atau Gresik. Sopir cerita, mobil baru di Labuan Bajo, jika ada maintenance di perbaiki disini. Sembuh 3 hari, rusaknya lagi bisa 3 bulan. Wong buka baut saja si montir pakai ‘hammer’, katanya. Untuk itu setiap jadwal maintenance rutin, mereka bawa saja ke Surabaya. Ndak repot ? Ndak seberapa repot. Karena ‘cuma’ butuh waktu tempuh 28 jam. Seminggu 3 kali ada yang wira-wira dengan 2 armada kapal. Itulah ‘Tol Laut’. . .Jadi ‘Tol Laut’ itu benar2 ada. Bukan ucapan dan janji2 kosong ‘the King of Lip Services’ . . .

Kami berlima makan malam di resto Chinese Food, dengan stempel ‘Halal MUI’. Sajian enak dan lumayan ‘murah’, dengan porsi ‘sak hohah’. Ada sisa kami bungkus . . .Saat menunggu jemputan di pinggir jalan, setelah makan malam, untuk balik ke hotel, lewat beberapa truk besar dan panjang. Sepertinya di pulau Jawa belum pernah ketemu model yang seperti itu. Kata sopir, ‘Itu juga baru2 saja masuk Flores’. Komennya, hendak kesankan Flores, dulu Pulau Nipah, baru saja dilirik dan disentuh pembangunan.Listrik, katanya juga baru masuk 2 tahun lalu. Kalau pun dulu ada, cuma beberapa rumah. Mungkin ‘kapasitas’ PLN belum besar, jadi belum merata dan mahal. Atau pakai genset.Jalan2 sekarang mulus, sampai di pelosok. Di ‘pusat’ malah sudah ber-trotoar. Hotel2 muncul bertaburan. Cafe2 kecil dan besar bertebaran. Ber-efek domino. Orang dusun bisa pasok Duren, Sayur, atau daging ayam dan telur. Nelayan bisa jual ikan atau cumi2. Mobil2 sewaan yang antar wisatawan berikan nafkah bagi penduduk lokal. Sebuah BUMN upgrade sebuah hotel lama, yang dulu bernama ‘Inaya’. Menjadi hotel besar megah cantik, bintang 4. Diberi nama baru ‘Meruorah’. Jokowi sendiri yang resmikan.

Hotel BUMN ini punya dermaga sendiri. Maklum yang punya otoritas pelabuhan. Yang juga sedang dibangun. Kalau sampeyan Muslim, enak inap disini. Ada mesjid besar ndak jauh, cukup jalan kaki. Mesjid Agung Nurul Falaq. Jika Kristiani, Gereja Stella Maris yang berdampingan dengan Gereja GMIT Gunung Zalmon, ada di jalan sebaliknya. Dekat juga. Bisa jalan kaki . . .Yang asyik, depan mesjid Agung Nurul Falaq, ada ‘Stabak’. Warung kopi ‘Londo’ yang punya logo ‘putri duyung’. Persis-sis di depannya. Hanya terpisah oleh jalan satu arah yang ndak begitu lebar, posisi mesjid pun mepet jalan. Jadi seakan hidung nempel hidung, ‘sarngi’ dengan ‘tapir’ . . .

Toleransi disini memang dikenal amat tinggi. Umat Muslim mayoritas, 60 persen lebih. Ada puluhan mesjid. Suara adzan mesjid terdengar dari hotel memang. Tapi sayup2, seakan, atau beneran, bersumber dari pulau di sebrang. Ndak bengak-bengok. Menjelang isyak, sebelum adzan berkumandang, sempat terdengar ‘Shalawat tarhim’. Sayup-sayup, syahdu . . .Konon, ada saatnya di bulan Puasa, tersedia Buka Puasa Bersama. Yang sediakan, bukan saja orang Islam, tapi juga Kristiani, bahkan Hindu . . .Pakaian turis bebas. Namun sudah pada ngerti sendiri. Sejauh ini belum nemu pakai bikini minim dalam kota.

Kata sopir kami, andai dibolehkan, penduduk disini akan pilih Presiden Jokowi terus, sampai beliau bosen atau mati. Saking cintanya. Karena hanya di jaman Beliau, Yang Mulia Presiden Jokowi, tanah ini dilirik dan disentuh. Persis seperti kata sopir kami, Indonesia klaim telah merdeka 76 tahun. Namun kami, di bagian timur-nya, termasuk juga Flores, dengan Labuan Bajo-nya, baru merdeka 6 tahun lalu. Tahun 2014 . . .Jadi, teriakan ‘Merdeka !’, masih kencang, dong ? Wong masih ‘baru’ berasa merdeka . . .Menuju makmur. Aman dan tentram. Karena Laskar Negeri Api pun belum sempat menyerbu. Jadi, nanti kalau mereka datang, dan mulai belajar bikin rusuh, mungkin start ‘reuni 212’, segera gebuki dan pithêsi saja, Bang ! Sebelum keburu besar dan nglunjak . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed