by

Wisata Bali Hidup Lagi

Oleh : Harun Iskandar

Tadi malam kami berdua kunjungi Monumen Bom Bali. Monumen 12 Oktober. Sudah lama terjadi, namun tetap saja terasa bikin pilu. Ratusan jiwa ‘tamu kita’ lenyap dalam sekejap.

Terbanyak wisatawan Ustrali, 88 orang. ‘Musuh Utama’ mereka, Amerika, justru cuma 7 orang. Warga Jepang, tamu santun kita, ada juga 2 orang. WNI sebanyak 38 orang. Dua diantaranya pakai nama ‘Islami’, Muhammad Khotib dan Faturahman. Nama ‘full Jawa’ hanya satu, Endang . . .

Pelataran Monumen dibuat ‘ceria’ dan berwarna, dengan lampu2 warna warni. Mungkin, diharap orang melihat ‘luka’ dengan perspektip baru. Sementara bangunan cafe pusat ledakan, yang ada di depannya, masih berupa puing2, dengan tiang2 baja gosong. Gelap tak berlampu.

Di seberang agak serong, dari sebuah cafe, terdengar jeritan nyaring. Justru penuh gembira. Teriakan pengunjung naik ‘Bola’ yang dilempar dan dijatuhkan dari dan ke ketinggian. ‘Bola’ terhubung pada 2 menara dengan rantai atau tali besar.

Pagihari setelah cek-ot dari Sanur, kami menuju Kuta. Bersama seorang teman, main ke kawasan Canggu. Yang konon sama sekali tak terpengaruh pandemi Covid. Masih banyak tamu asing. Tetap tinggal disitu, ndak pulang2. Bahkan ada yang punya bayi.

‘Berarti, made in Canggu Bali, tahun 2020/21,’ kata teman . . .

Yang dicari adalah sebuah ‘toko roti’. Milik orang Perancis. Yang terhidang tentu bakery ala2 Eropa. Pie, croisant, dan lain-lain.

Tapi memang enak. Kopinya sedap. Meski saya pesan banyak, salad dan pie, tetep saja tidak mengenyangkan. Masih perlu ketemu nasi . . .

Masih di area Canggu, kami juga mampir ke semacam area makan dan makanan. Ada beberapa tenant besar dan kecil. Masuk area tangan di ‘stempel’.

Sebuah tempat di pinggir pantai yang amat bagus bersuasana ‘modern’. Beberapa kolam renang ‘infinity’ tersedia, banyak. Di bawah tergelar pantai pasir yang cukup luas.

Yang punya adalah Hotman Paris. Kaya banget ya ? Memang pengacara yang pinter. Pinter cari duit juga.

Bahkan Tukang Parkir pun ketularan pinter. Masuk halaman segera disambut. ‘Perlu valet ?’

Banyak yang mau, karena kalau ndak, harus parkir diluar agak jauh, panas lagi. Yang pakai valet, mobil diparkirkan, letakkan dalam halaman depan.

Tapi mbayar 40 ribu . . .

Usai minum Air Kelapa, kami keluar. Ke kota Kuta. Untuk cek in dan makan ‘beneran’.

Agak macet jalanan. Jalan di Canggu banyak yang sempit dengan 2 arah. Pengemudi lain, sepeda montor atau mobil ndak sabaran. Tan ten tan ten.

Sepeda montor pub naik ke trotoar. Ndak peduli yang bawa orang kita, atau turis . . .

Setelah cek-in kami bawa mobil ke sebelah, Beach Walk. Sebuah mall. Cari makan Nasi Bebek Bali.

Pengunjung cukup ramai meski di hari kerja. Beberapa tenant masih tutup, imbas Covid. Namun suasana sudah ceria. Dari satpam sampai penjaga toko, pelayan resto, matanya sudah berbinar. Tanda ‘hidup lagi’ . . .

Namun pengemudi onlen masih mengeluh. Penumpang banyak, tapi ‘saingan’ juga banyak.

Pagi sarapan bareng tamu lain. Kebanyakan kulit putih. Tamu lokal atau Asia, tetap setia dan rajin pakai masker. Mereka, Eropa, Amerika, dan Ustrali, ogah2an. Apalagi di jalan2 . . .

Tapi masuk mall, Beach Walk, tetap wajib. Harus mulai pakai saat masuk tempat parkir. Peraturan Dinas atau Menteri Kesehatan, kata Satpam . . .

Ada yang menarik di hotel Hard Rock. Suasana genjrang-genjreng. Save Sound, tagar mereka. Di dalam kamar tetap saja ‘santun’.

Di salah satu dinding, ada ‘gambar’ Michael Jackson, gaya Moon Walk. Di plafon bagian salah satu sudut kamar, ada tanda arah ‘Kiblat’. Arah hadap Muslimin dan Muslimat sholat.

Seakan si Michael Jackson, tunjukkan arah dan persilakan.

U huuuu . . . Itu lho ! Ini lho !

U huuuu . . . Itu lho ! Ini lho !

Dengus Michael Jackson

Indonesia ini, Bung !

Dan sarapan pagi kami punnemu oseng2 ‘Kecipir’ . . .

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed