Oleh : Ainur Rofiq Al Amin
Saya tadi malam dijapri teman berpangkat kolonel yang agamis dengan menulis, “Baca Qur’an di trotoar boleh, tapi baca Qur’an di rumah orang yang meninggal bid’ah dan haram serta masuk neraka.. Bagaimana ini, Gus..?” Saya tidak menjawab pertanyaan sang kolonel ganteng ini, karena saya tahu itu oratoris.
Saya malah menambahi informasi dari laporan santri-alumni yang beberapa hari lalu datang ke rumah. Si santri menjelaskan bahwa setelah lulus, dia pulang kampung lalu berkelana mencoba ikut pelatihan pelatihan yang diadakan suatu komunitas. Salah satu pelatihannya adalah untuk menguasai medsos yang diantara triknya adalah dengan memperbanyak membuat akun agar bisa punya banyak pengikut yang siap “dicekoki”.
Saya juga juga ditunjukkan akun akun buatan mereka seperti di IG yang mencomot penceramah NU yang terkenal, lalu diselipi iklan donasi dan sejenisnya. Saya diberitahu ada akun yang menggunakan nama Gus Miftah, Gus Baha dan lain-lain yang disitu diselipi iklan donasi rumah tahfidz. Rasa rasanya di pesantren NU pada umumnya jarang ada penggunaan nama rumah tahfidz.
Saya kemarin diberitahu Kiai Dafid Fuadi bahwa dalam pengamatan beliau, muncul beberapa rumah tahfidz yang orientasinya adalah “bisnis”.Kembali ke kisah santri alumni. Suatu saat ada pelatihan di salah satu rumah mereka. Kebetulan tetangga depan rumahnya ada khataman. Eh tuan rumah pelatihan ini langsung menyilahkan para tamu masuk (termasuk alumni santri). Sambil menutup pintu rumah, si tuan rumah berkata entah iseng atau serius,
“Berisik saja khataman itu. Gimana kalau kita bom?”***Saya jadi berpikir, kelompok ini suka menyerobot “tradisi” NU dengan cara mengolok olok tradisi itu, lalu mengambil alih dengan balutan atau kemasan lain. Misal, “dukun-suwukan” mereka jauhi, tapi dalam praktek yang sama, dengan kemasan berbeda, mereka menyebarluaskan apa yang mereka sebut dengan ruqyah. Akhirnya paramuda NU menandingi dengan menyebut “ruqyah Aswaja NU” atau ‘suwuk ruqyah NU”.
Pun demikian, khataman atau ngaji Quran bareng bareng di rumah atau di musholla ala tradisi warga NU mereka tolak dan mereka bid’ahkan, tapi mereka menggeber acara itu dengan kemasan baru dengan cara yang lebih demonstratif dan “liar”.Kelakuan kelakuan model merebut ini menggiring saya untuk mengingat kelakuan tetangga Jiran kita saja hehehe ..***Kataman makan di rumah Dr. Wahid Hadi Purnomo dosen Syariah UINSA, tentu sebelum Ramadhan.-
Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin –











Comment