by

Ngaji Massal Di Ruang Publik, Ngikut Siapa?

Oleh : Ismail Amin Pasannai

Di Iran, sebagai Republik Islam memang pemandangan seperti ini tidak jarang…tapi ya tidak gitu juga… ada momen-momennya… seperti di bulan Ramadhan khususnya pada malam-malam Qadr, selain masjid, langgar dan pemakaman, taman-taman akan menjadi tempat alternatif untuk berburu keutamaan Lailatul Qadr dengan membaca Alquran…

Di luar itu, pada hari-hari biasa, momen membaca mushaf Alquran di ruang publik seperti di taman-taman atau di tepi jalan bukan aktivitas yang dicari dan disengaja… tapi aktivitas untuk mengisi waktu karena sedang menunggu, menunggu bis, menunggu teman janjian, atau menunggui anak yang sedang bermain… itupun dengan mushaf saku, itupun tanpa suara yang terdengar oleh yang lain…

Yang tampak di video ini adalah aktivitas yang sengaja untuk membaca mushaf Alquran di ruang publik, yang bukan disediakan untuk itu… sepanjang jalan Malioboro di jogja katanya sampai seribu muslim membaca Alquran secara bersama-sama…. kalau sekedar membaca dalam hati atau suara yang dikecilkan, tentu bukan masalah, tapi ketika sengaja dibesarkan, ini sudah terkategorikan menganggu pengguna ruang publik yang lain…

Membaca Alquran secara bersama-sama itu ada tempatnya yang pantas, ada momennya yang pas… sehingga majelis Alquran menjadi majelis yang terhormat, majelis yang mulia, yang tidak dilakukan serampangan dan seenaknya… lakukan dengan sikap duduk yang penuh hormat, dalam kondisi yang suci, yang didengarkan dengan khusyuk dan seterusnya… jangan sampai niat untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada Alquran, justru jatuhnya adalah bersikap tidak hormat pada Alquran itu sendiri.

Belum lagi, buat pengguna jalan yang terganggu, bukannya justru bisa menimbulkan antipati? sebab jalan pada dasarnya tidak diperuntukkan untuk itu… ada masjid kok, ada langgar kok, apa di jogja tidak punya masjid? Pertanyaannya, kalau majelis yasinan, atau salawatan,atau zikir berjamaah, yang meskipun itu dilakukan di masjid, atau di tanah lapang, yang itu adalah tempat yang layak, ada yang menyebutnya bid’ah, terus mengaji di jalan malioboro atau jalan manapun tentu jatuhnya jauh lebih bid’ah?

Sebab, toh, tidak ada riwayat bahwa Nabi itu mengajak sahabat untuk ramai-ramai membaca Alquran di pinggir jalan dan juga tidak ada hadis yang menyebut itu sebagai keutamaan atau bisa jadi sebagai bentuk syiar Islam… So, ramai-ramai membaca Alquran di tepi jalan, apa itu sesuatu yang membanggakan atau tidak? saya pribadi menyebutnya, tidak. Ibadah tidak patut dibangga-banggakan, toh belum tentu juga diterima, apalagi jika niatnya memang dari awal untuk pamer..

Bedakan pamer dengan syiar… sebab syiar juga ada kaidahnya… Islam itu membanggakan jika dijadikan inspirasi untuk menyelesaikan problem sosial… sebab umatnya diminta untuk hidup mulia di dunia dan akhirat…

Sumber : Status Facebook Ismail Amin Pasannai

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed