Oleh : Agung Wibawanto
Dalam hadis disebutkan riwayat al-Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudry, bahwa Rasulullah saw. bersabda,
إذا رأيت من نزل إلى المسجد فاشهد أنه مؤمن بحق الله سبحانه وتعالى. قالت؛ إن الذين نجحوا في مساجد الله هم فقط الذين آمنوا بالله واليوم الآخر
“Apabila kamu melihat seseorang biasa pergi ke masjid maka saksikanlah ia benar-benar beriman, karena sesungguhnya Allah swt. berfirman; Sesungguhnya hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”. Sementara itu, Allah SWT berfirman,
لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًاۗ لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ
“Janganlah engkau melaksanakan salat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108). Ditambahkan pula riwayat hadits, di antaranya :
عَنْ سَعْدِبْنِ اَبِى وَقَّاصٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اللهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ جَوَادٌيُحِبُّ الْجَوَادَفَنَظِّفُوْااَفْنَيْتَكُمْ
Artinya: “Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR. Tirmizi)Rasulullah juga bersabda, الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ Artinya: “Bersuci (thaharah) itu adalah setengah dari iman.” (HR. Muslim)
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa masjid adalah tempat terbaik untuk melaksanakan ibadah. Maka yang dimaksud dengan memakmurkan masjid bukan sekadar fisik bangunan yang bagus sementara jemaahnya kosong. Memakmurkan juga berarti (disarankan) mendatangi untuk meramaikan dalam tujuan beribadah, seperti sholat, mengaji (baca Qur’an), kajian tafsir, berdzikir, sholawat, berzakat, dsb. Mengapa masjid karena di masjid nilai ibadah yang dilakukan akan berlipat-lipat pahalanya ketimbang di tempat lain.
Selain itu karena masjid adalah rumah Allah SWT yang terjaga kebersihannya. Allah menyukai hal yang bersih. Kebersihan menjadi salah satu aspek penting dalam agama Islam. Tak heran jika kita pun diwajibkan membersihkan atau menyucikan diri sebelum mengerjakan suatu ibadah, seperti berwudhu sebelum sholat, mandi wajib, dan lain-lain.
Dengan itu, umat muslim diwajibkan untuk selalu membersihkan diri juga lingkungan sekitar. Karena yang disebut kotoran tidak hanya bentuk fisik yang terlihat kotor, kusam ataupun berbau, melainkan juga kotoran dari segala sikap perilaku, ucapan maupun tulisan. Maka, bersihkan masjid dari ceramah-ceramah di luar konten ibadah. Bersihkan kampus dari faham atau aliran radikal. Atau, bersihkan pula jalanan dan ruang terbuka publik dari segala kegiatan ibadah (misal membaca Al Qur’an, kecuali kondisional, seperti sholat id dsb). Tidak ada alasan tidak ke masjid untuk ibadah.
Mengingat sekarang ini berjamur masjid bahkan di tiap RT pun ada. Hindari meramaikan ataupun memakmurkan jalan sementara masjid menjadi sepi penghuni jemaahnya. Bagi dosen jika ingin memberi ceramah agama pun silahkan di masjid. Bukan tidak boleh melakukan ibadah dimanapun silahkan (bahkan di gereja sekalipun), sepanjang tempatnya bersih. Hanya saja, jika ibadah dilakukan di luar masjid, maka pahalanya yang diterima tidak sebanyak jika beribadah di masjid. Termasuk juga di jalanan atau ruang publik sangat riskan dari segi keamanan selain juga berisik.
Hal terpenting lagi, jangan tunjuk-tunjukkan ibadahmu kepada orang lain atau kalian termasuk golongan yang riya’.Hati-hati jika dia riya, maka dia telah berbuat syirik dalam ibadahnya ini, dan ibadahnya tidak diterima. Rasulullah SAW bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku adalah yang paling tidak butuh pada sekutu, jauh dari persekutuan. Barangsiapa yang melakukan suatu amal, sementara dia menyekutukan (syirik) Aku dalam amalnya itu dengan yang selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya (yang disekutukan denganKu),” (HR. Muslim).
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto











Comment