by

Ali Kalora Terjepit dan Berniat Serahkan Diri

Oleh : Agung Wibawanto

Belum lama kan banyak kritik dan sindiran warganet yang mengatakan “Semut di seberang lautan tampak, gajah yang di pelupuk mata tidak”. Hal ini terkait dengan keterlibatan Indonesia dalam konflik Gaza. Mereka mengaku kecewa dengan pemerintah Indonesia yang dianggapnya tidak berbuat banyak terhadap aksi teror yang dilakukan kelompok MIT (Mujahidin Indonesia Timur). “Negara kemana?” Atau, “Mengapa dibiarkan/didiamkan?” Perlu dipahami, kejahatan selalu ada di mana saja dan kapan saja (tidak terduga datangnya).

Ada yang sifatnya ketahuan aparat sebelum berbuat kejahatan, ada pula yang terjadi namun tidak diketahui aparat (kebetulan tidak berada di tempat). Lantas konteksnya apa jika dikatakan “negara tidak hadir”? Berapa personil aparat yang ada dibanding jumlah penduduk Indonesia? Jadi tidak mungkin aparat bisa selalu hadir mengamankan seluruh masyarakat. Hal yang pasti, pemerintah melalui aparat sudah berbuat dan bertindak. Tidak benar jika disebut mengabaikan. Hanya saja memang kadang masyarakat gak sabar. Pinginnya semua kejahatan kemanusiaan (apapun bentuknya), begitu terjadi maka tidak lama langsung tertangkap pelakunya lalu diproses hukum.

Kasus MIT sama dengan KKB di Papua. Mereka gerombolan bersenjata sadis yang bersembunyi di hutan pegunungan. Selain soal pencarian yang menyulitkan (geografisnya) juga karena mereka berjumlah banyak. Meski pemimpinnya tertangkap, namun kadang masih ada anak buahnya yang belum tertangkap yang akan melanjutkan aksi teror. Aparat sudah berusaha sekuat tenaga, bahkan mereka harus meninggalkan keluarga dengan resiko tewas menjalankan tugas. Silahkan baca berita sudah berapa aparat kepolisian dan TNI yang menjadi korban luka maupun meninggal.

Hal ini mereka lakukan demi memenuhi tuntutan keadilan dari masyarakat yang kadang hanya bisa teriak saja. Aparat menjalankan tugas, aparat berkorban, namun mereka tidak menuntut apa-apa jika berhasil ataupun gagal bahkan menjadi korban. Pernahkah membayangkan jika kita berada dalam posisi seperti mereka yang memburu pelaku teror di hutan pegunungan? Sementara masyarakat sipil lainnya hanya duduk atau tiduran dengan nyaman di rumah sambil bermain medsos.

Berikut ini berita perkembangan perburuan kelompok MIT di Poso. Pemimpin MIT, Ali Kalora berserta tiga DPO lainnya, dikabarkan sudah berencana menyerahkan diri ke Satgas Madago Raya. Namun hal itu mendapat ancaman dari anggota kelompok DPO lainnya. Upaya Satgas Madago Raya dalam pemberantasan DPO terorisme di Kabupaten Poso terus dilakukan salah satunya dengan cara menghimbau pihak keluarga agar menyampaikan kepada para DPO untuk menyerahkan diri.

Hanya saja, menurut laporan Satgas Madago Raya saat ini, kelompok MIT terpecah kedalam dua kelompok. Kelompok pertama beranggotakan empat orang yang dipimpin oleh Ali Kalora, sementara kelompok lainnya beranggotakan lima orang dipimpin oleh Qatar. Kelompok Qatar inilah yang sering melakukan teror dan pembunuhan terhadap para petani di wilayah Lore, Kabupaten Poso termasuk pembunuhan 4 petani yang baru saja terjadi pada tanggal 11 mei 2021 di Desa Kalemago.Selain Ali Kalora yang ingin menyerahkan diri karena semakin terdesak (kekurangan logistik), kelompok Qatar juga masih terus diburu aparat.

Seorang prajurit sempat menyatakan bahwa tugas mereka tidak ringan, namun bagaimanapun karena demi NKRI, mereka bertekad tidak akan pulang sebelum misi selesai. “Lebih baik pulang nama tapi misi selesai. Daripada pulang badan tapi gagal!” Itu komitmen setiap anggota TNI-Polri. Salut!!

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed