by

Agama dan Konflik

Oleh : Islah Bahrawi

Konflik berlatar agama bagaimanapun tidak selalu apa adanya. Apakah itu kekerasan Hindu dan Muslim di India, Hindu dengan Buddha di Sri Lanka, Buddha dan Muslim di Myanmar, pertikaian Sunni dan Syi’ah di Irak, Katolik dengan Protestan di Eropa dan Amerika Selatan, pada dasarnya hanyalah sebuah pertempuran liar sesama manusia. Kekerasan antar keyakinan sejak lama selalu didominasi oleh permusuhan yang diwariskan.

Dikotomi antar kelompok dalam agama selalu dijaga kesegarannya dari generasi ke generasi. Sebagian kesadarannya diborgol, agar setiap perbedaan selalu menjadi medan pertempuran. Dalam tafsir kekerasan, Tuhan seringkali dilekatkan sebagai amarah dan kecurigaan. Agama menjadi media hegemoni atas keimanan orang lain. Konflik itu lalu terus berlanjut, memaksa “tuhan orang lain” untuk dibenturkan dengan “tuhan dirinya”. Voltaire pernah menuntut: “Jika Tuhan tidak ada, maka perlu untuk menciptakannya.” Karena Voltaire adalah seorang kritikus tajam terhadap agama terorganisir, sindiran ini sering dikutip dengan sinis.

Tapi nyatanya dia benar-benar tulus. Dia berargumen bahwa kepercayaan pada Tuhan diperlukan, agar manusia secara kolektif bisa berfungsi. Tapi Voltaire tidak sepenuhnya benar, sebagian orang hari ini yang percaya akan eksistensi Tuhan justeru membuat kemanusiaan semakin tidak berfungsi. Belakangan ini agama menjadi bejana segregasi, diskriminasi dan intimidasi. Tuhan telah diubah menjadi “kami bukan kalian”, sedang agama menjadi “mereka dan kalian bukanlah kami”.

Akibat rasa itu, lalu melahirkan berbagai tragedi yang seolah menjadi cetak biru perjalanan agama-agama. Muslim membunuh ulama, seorang Kristen meledakkan gereja, dan kali ini di Kalimantan Barat: segerombolan Muslim membakar Masjid. Agama seolah menempatkan Tuhan dalam posisi yang semakin relatif dan sektarian. Di Kalbar itu, manusia mencopet kekuasaan Tuhan, bertindak barbar dan merawat murka. Mereka merasa membela agama, padahal sedang mengkhianatinya. Menjadikan agama semakin tidak menarik bagi yang belum tertarik, semakin tidak disukai oleh yang belum menyukai. “Agama telah dikempiskan paksa oleh penganutnya”, kata penyair Zoram Rehman.#lawanintoleransi#antiradikalisme

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed