by

Ada Made in Indonesia Disebut

Oleh : Karto Bugel

Minyak disayang, minyak disimpan. Minyak digadang, minyak juga harus selalu tersedia di gudang. Itu dilakukan AS sejak dulu. Itu pula yang membuat AS menjadi penguasa minyak dunia. Api tak pernah terlihat padam walau sekejap pada dapurnya. Dia membakar dan terus membakar dan karenanya dia melesat sangat cepat menjadi penguasa dunia karena ekonomi yang ditopang dengan penguasaan minyaknya.

Anehnya, meski AS memiliki cadangan minyak amat sangat besar di negaranya dan ga akan habis hingga puluhan tahun kedepan, AS terlihat lebih senang menampungnya dari banyak tempat. Adi daya yang melekat pada dirinya membuat dia tergoda mengendalikan pasok minyak dunia. Dia mampu menciptakan harga murah bagi dirinya ketika membeli dan bila dihalangi, perang seringkali tiba-tiba muncul. Perjanjian iklim Paris 2015 telah membuat runtuh bangunan minyak sebagai masa depan utama. Energi hijau secara perlahan akan mengganti peran minyak yang diduga sebagai TSK global warming. Energi terbarukan dan ramah lingkungan mulai dilirik demi ramah pada bumi.

Tiba-tiba Jerman, Perancis, Jepang dan banyak negara maju di dunia berikrar tahun 2030 tak lagi boleh ada mobil berbahan bakar minyak lalu lalang di negaranya. Perubahan total paradigma hidup ramah lingkungan sedang disusun dan dimulai oleh mereka yang telah maju dan kaya. Dalam kebersamaannya, mereka akan mampu membuat minyak sebagai andalan AS tumbang pada titik yang tak dapat diprediksi. Perubahan harus dimulai sejak sekarang. Siapa tak ingin tertinggal, tak boleh abai dengan perubahan ini.

Nikel tiba-tiba melesat menjadi bintang baru dan diduga akan mengganti bintang lama, minyak. Nikel sebagai bahan baku baterai bahkan diprediksi akan tumbuh besar dan kuat melebihi peran minyak di masa yang akan datang.Pemain sekaligus pengguna terbesar nikel adalah China. Negeri Panda ini menyerap lebih dari 50% produksi nikel dunia untuk kebutuhan industrinya. Sama dengan AS yang senang menabung minyak, China mengikutinya. Bukan minyak ditimbun, China senang menumpuk nikel pada banyak gudang rumahnya. China terlihat sangat nyaman menyimpan nikel sebanyak dunia mampu memproduksinya. Padahal, di sisi lain, China juga adalah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia.

Negara ini jauh-jauh hari sudah mengamankan pasokan feronikel sebagai salah satu hasil pemurnian bijih nikel dengan menanam banyak modal untuk pembangunan smelter. Indonesia adalah salah satu yang terbesar di mana China berinvestasi. “Berarti, Indonesia cuma dikadalin dong?” Pelarangan ekspor nikel dalam bentuk ore telah memaksa mereka yang sungguh membutuhkannya berinvestasi sesuai hukum yang ada di Indonesia. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019 adalah aturannya.

China memang lebih agresif dibanding barat dan tak butuh waktu lama smelter milik China telah terbangun pada banyak tempat. Itu membuat nikel kita memiliki nilai tambah sekaligus tersedianya banyak lapangan kerja. “Tapi kan tetap saja nikel olahan kita dibawa ke China kan? “Saat ini ya..!! Smelter hasil investasi dari negeri itu masih yang terbesar. Tapi tidak semuanya serta merta dieksport ke China. Sebagian telah diolah menjadi stainless steel di dalam negeri dan fakta berkata bahwa kita telah terdaftar sebagai salah satu eksportir terbesar produk stainless steel dunia.

Berawal dari jualan barang mentah yakni nikel ore kini negara kita naik pangkat dan telah mampu menjual nikel olahan. Baterai mobil sebagai “end product” nikel kita, adalah produk berteknologi yang kini menjadi target berikutnya.Peletakan batu pertama dibangunnya proyek sangat strategis baterai mobil listrik akan dilakukan akhir Juli atau awal Agustus tahun ini. Itu dimulai dari paling ujung yakni tambang dan smelter dan dibangun di Maluku Utara.

Sementara untuk pabrik baterai akan dibangun di Kawasan Industri Batang Jawa Tengah dan akan sudah mulai berproduksi pada tahun 2023. Investasi strategis di industri sel baterai kendaraan listrik ini merupakan yang pertama dilakukan dalam sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sekaligus ini adalah proyek terbesar di dunia dalam industri baterai. Itu dibangun dari hulu ke hilir. Dari mining, smelter, prekursor, katode, sampai recycle pun daur ulangnya di Indonesia.

Artinya, produk nikel olahan yang berasal dari tambang Indonesia, sebagaian besar akan dibuat dan digunakan untuk mensuplai kebutuhan kita sendiri. Tidak harus dijual dalam barang setengah jadi lagi. “Trus baterainya dijual ke siapa? China lagi?” Baru-baru ini Hyundai telah membangun pabrik mobil di Karawang Jawa Barat sebagai satu kesatuan kontrak antara Indonesia dan Korea Selatan. Antara PT Industri Baterai Indonesia sebagai konsorsium empat BUMN yaitu Mining and Industry Indonesia, Pertamina, PLN dan PT Antam dengan konsorsium LG yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO dan Huayou Holding.

Nilai investasi keseluruhannya mencapai 9,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 140 triliun. Seluruh hasil produksi baterai yang ditargetkan pada tahap pertama kapasitas produksi baterai mencapai 10 gigaWatt hour (GWh) di tahun 2023 nanti telah diambil tanpa sisa oleh Hyundai. Produk dalam rupa mobil listrik itu akan dijual di dalam negeri dan sebagian lagi untuk eksport.

Dan bila pada tahun 2025 nanti sudah akan ada 2 juta mobil listrik di Indonesia, 400 ribunya adalah buatan kita dengan harapan komponen lokalnya pun benar-benar telah mencapai 100%. Pada saat itu kita telah menjadi bagian dari pusat rantai pasok dunia dalam industri mobil listrik.”Berarti kita cuma tukang jahit dong? Yang bikin baterai LG Korea dan mobilnya merk Hyundai Korea juga. Apa hebatnya Indonesia?” Tidak. Tukang jahit kainnya beli, benang juga beli, dan mesin jahitnya pun bukan dia yang buat. Tidak dengan mobil listrik kita. Hanya teknologinya saja yang milik asing namun semua proses pembuatan dilakukan oleh tenaga lokal dan menggunakan bahan-bahan lokal.

Bila teknologi tersebut masih milik Korea, itu hanya masalah waktu. Itu akan terkejar saat terjadi transfer teknologi mulai dari proses perencanaan produk hingga proses produksi dilakukan. Itu juga akan memberi keuntungan pada hadirnya peluang kita dipaksa harus dapat menciptakan teknologi baru terkait kendala dan tantangan yang muncul selama proses tersebut berjalan.”Menciptakan sebuah teknologi butuh riset yang terus-menerus. Butuh dana tak sedikit. Emang kita punya lembaga riset yang mumpuni seperti itu po? Korea maju karena negara itu memberi dana riset sangat besar, terbesar no 2 di dunia sebesar 4,2% dari GDP-nya. Nomor 1 dipegang oleh Israel dengan 4,3% dan Indonesia jauh lebih kecil bila dibanding dengan 2 negara tersebut.

Bisa dibilang terkecil di dunia dengan hanya 0,08% saja dari GDP. Ada gula ada semut. Karena Indonesia pada masa akan datang pasti menjadi bagian dari rantai pasok dunia dan pasar pasti akan semakin besar, swasta hadir. Investasi besar dalam bidang riset menarik minat investor untuk turut membuka gerainya. Peluang untuk menciptakan teknologi baterai mobil yang lebih baik semakin dibutuhkan. Waktu charge baterai yang hanya 1 jam tapi mampu menempuh 1000 km misalnya, terbuka lebar. Teknologi cetak 3 dimensi atau 3D printing dalam membuat body mobil tiba-tiba terbuka sangat lebar. Massal produksi mobil sangat membutuhkan teknologi seperti itu demi waktu, efisiensi, kekuatan struktur hingga biaya yang lebih murah.

Mobil listrik biasanya adalah mobil pintar dan maka artificial intelligence atau kecerdasan buatan tersemat pada banyak perangkatnya. Ini adalah peluang. Pasar bagi riset mendapat tantangan sekaligus hadir pasar yang siap membelinya. Penemuan dan pengembangan teknologi semacam itu layak kita kejar menjadi bagian yang berasal dari kita. Itulah kenapa penelitian atau riset harus menjadi budaya kita. Menjadi keseharian kita berbincang.” Ini pasti mau kampanye bukit algoritma kan? Mau branding Budiman kan?”

Itulah kita. Sebentar-sebentar selalu harus dikaitkan dengan pesta politik tahun 2024. Saat negara tak mampu memberi dana riset dalam jumlah pantas, kita marah dan ngedumel. Saat hadir sosok terobsesi menambal celah tersebut, kita cepat berprasangka dia sedang branding. Komunitas berbasis science dan makna riset yang ingin dihadirkan pada bukit algoritma tak mungkin tak terkait dengan rencana besar Indonesia menjadi bagian rantai pasok dunia. Komunitas itu hadir karena ada pasar yang siap membeli hasil risetnya. Itu bisnis. Sesederhana itu saja. Ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi komunitas di bukit algoritma.

Namun, paling tidak, ketika Indonesia sangat sulit memberi dana riset dalam jumlah yang pantas, ada swasta hadir mengisi celah itu dan nasionalisme kita terbangun. Kita diajak terlibat di dalamnya di mana kita selama ini miskin kemampuan seperti itu. Kita tak ingin gelar tukang jahit atau sekedar pandai merakit seperti selama ini selalu tersemat, namun kita membuatnya dari awal berdasar teknologi hasil riset kita dan menggunakan sumber daya alam milik kita sendiri. Sementara kita sibuk berpolemik dan selalu mengaitkan dengan isu branding, di luar sana, Filipina sebagai eksportir nikel terbesar ke 2 setelah kita pun ternyata telah berencana mengembangkan baterai sendiri untuk energi terbarukan dan industri kendaraan listrik. Institut Teknologi Filipina mendirikan Center for Advanced Batteries dengan menggandeng University of the Philippines-Diliman (UPD) mengembangkan baterai kendaraan listrik itu.

Kabarnya, dua institusi itu akan menerima pendanaan lebih dari 142 juta peso (Rp 42,4 miliar) dalam tiga tahun ke depan (Bandingkan dengan investasi 18 triliun pada bukit algoritma). Pendanaan itu disiapkan untuk mengembangkan baterai canggih untuk transportasi alternatif dan industri energi terbarukan.

Perlukah kita masih ingin berpolemik? Komunitas bisnis di Maluku Utara yang diwakili Harita Group telah membangun smelter nikel kadar rendah untuk bahan baku baterai mobil. Pabrik ini merupakan pabrik pertama di Indonesia yang memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate – campuran padatan hidroksida dari nikel dan kobalt. Pabrik ini dibangun dengan kapasitas produksi sebesar 365 ribu ton per tahun. Pabrik ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional yang mengolah produk perantara dari proses pengolahan dan pemurnian nikel kadar rendah sebelum diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat. Selain pabrik bahan baku, Harita juga sedang mengembangkan fasilitas produksi lanjutan yang menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan material utama baterai kendaraan listrik.

Dan terbaru, akhir Juli ini, peletakan batu pertama sebagai tanda bagi hadirnya konsorsium Indonesia dan Korea Selatan dalam membangun industri dari hulu ke hilir dalam baterai mobil listrik, layak kita sambut dengan bangga. Nikel sebagai SDA warisan melimpah milik negeri ini telah memberi jalan bagi bangsa ini mengejar ketertinggalannya. SDM yang tak anti dengan kemajuan teknologi dan senang bergumul dengan science adalah aset paling berharga bagi ngebut bangsa ini menjemput takdirnya. Ketika di Perancis, Jerman dan Jepang pada 2030 nanti berseliweran mobil tanpa deru suara mesin terdengar dari mobil tersebut, kita berharap bahwa komponen baterai yang tertanam pada mobil-mobil itu tertulis Made in Indonesia… RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed