Anies-Sandi
Dimana Al Maidah 51?
Bingung dan Linglung (Mati Ketawa Ala Gabener)
2 Minggu Kepemimpinan Anies, Menolak Maklum
Jangan Move On, Jangan Berhenti Mendukung
Semakin cerewet pemilih, baik mendukung maupun nyinyir, semakin baik, karena ini memberi sinyal-sinyal buat pemimpin bahwa mereka dikontrol rakyat. Pelan-pelan membentuk semacam saringan melahirkan pemimpin. 40 tahun lalu, mana bisa kita nyinyirin sayembara pantofel-nya sandy, mulut comberannya ahok, manut-manut aja dapet pemimpin karut marut kayak apapun.
Target 100 Hari Gubernur Pribumi
Move On
Anehnya, ada sekelompok orang yg nyuruh pencinta Ahok-Djarot move on, tapi mereka tidak bisa move on dari seseorang yg belum pernah memimpin, belum pernah berbuat kebaikan utk masyarakat bahkan belum pernah jadi pejabat pelayan publik. Dengan segala janji, mereka memaksa org lain bahwa orang itu layak jadi pemimpin. Kalau sekedar janji mah, semua tukang kecap mengatakan kecapnya no 1.
Seorang Jokowi
Masalahnya banyak lawan politiknya tidak melihat hukum sebagai panglima tapi masih hidup dalam culture politik sebelumnya dimana masalah apapun diselesaikan secara politik. Akibatnya terjadi transaksional dan pasti yang dikorbankan adalah rakyat. Karena bagi mereka jelas tujuannya bukan rakyat tapi kepenting pribadi dan golongan. Kalaupun Ormas di seret dalam aksi itupun masuk dalam political cost bagi mereka. Semua tidak ada yang gratis dalam aksi.
Manipulasi Agama dalam Pilkada Jakarta
Kelompok Jakarta Bersyariah Pendukung Anies-Sandi
Dari berbagai hal yang diungkapkan diatas jelas terlihat pendukung Anies-Sandi soal Jakarta Bersyariat ini ada 3 yakni HTI, FPI serta PKS. Dan isu Jakarta Bersyariat ini bukan baru saja terjadi karena sudah sejak 2016 lalu terbentuk Majelis Tinggi Jakarta Bersyariat. Berdasarkan penelusuran, Majelis Tinggi Jakarta Bersyariat ini dibentuk pada 19 November 2015 dalam rangka menghadapi Pilkada 2017. Sejak awal mereka mendorong adanya Gubernur Muslim, urai Ketua Majelis Tinggi, Rizieq Shihab.










