Oleh : Rina Tiarawaty
Saya memang paranoid dengan trend berpakaian perempuan yang dicekokkan masuk dengan membawa nilai2 dosa dan neraka. Namun perlu digarisbawahi saya parno bukan karena bajunya, namun karena nilai2 submisif/domestikasi perempuan yang dipaksakan masuk perlahan lewat kain Pandora ini. Namun demikian, selalu teringat omongan seorang teman yang meyakinkan bahwa pendulum selalu bergerak mencari titik keseimbangan.
Kalau sekarang tarikannya menguat ke kanan jauh, maka akan ada saatnya pendulum bergerak kembali ke tengah.Semakin pencekokkan dilakukan secara massive, terstruktur, maka semakin banyak orang yang merasa mual dan muak. Belum lagi dengan makin dipaksa, pasti orang akan mencari informasi2 tentang kehidupan perempuan di daerah yang bajunya diseragamkan, apakah benar sejahtera dimuliakan seperti yang digadang2?
Banyak buku yang bercerita tentang hidup perempuan di daerah tersebut. 3 diantaranya jadi pegangan saya karena merupakan biografi, cerita nyata kisah hidup disana. Malala di Pakistan, Persepolis di Iran, dan Unveiled di Canada-Mesir. Dan, yah ceritanya memang bukan kisah hidup yang bahagia sejahtera. Kalau bukan memilukan. Harapannya, bila makin banyak perempuan yang membaca buku2 sejenis, kisah perempuan yang terjebak di kehidupan domestikasi, maka makin banyak perempuan Indonesia yang berani membalikkan badan, berani mendobrak dogma, berani kembali rileks berpakaian.
Seperti ibu dan nenek kita dulu. Seperti orang2 tua kita dulu.Dan hormat saya pada perempuan2 yang mulai berani kembali berbusana rileks. Membiarkan rambut kembali tergerai, dan yakin bahwa mereka tetap santun, tetap terhormat, tanpa harus memakai kode baju tertentu. Kalian semua cool! Perempuan yang kuat, pintar dan berani!
Sumber : Status Facebook Rina Tiarawaty











Comment