Oleh : Sunardian Wirodono
“Ketika saya berdiri di depan Tuhan, saya adalah seorang muslim. Tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang, saya bukan seorang muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia,…” Tan Malaka menyengat dalam kongres Komunis Internasional ke-4 (12 November 1922) ketika berbicara soal “Komunisme dan Pan-Islamisme”. Sebuah pidato yang terdengar sama-sama sumbang di telinga para anggota organisasi komunis dunia sekaligus kalangan muslim. Karena pidato itu, ia dipecat dari Komunisme Internasional, dan dibenci kalangan muslim.
Waktu itu, komunisme merupakan salah satu kekuatan utama dunia. Posisinya saat itu memang anti-agama, meski diposisikan di atas diktum ‘agama sebagai candu’ sebagaimana ujar Karl Marx. Marx waktu itu kesal pada otoritas gereja yang dianggap tak berpihak pada perjuangan kaum tertindas jamannya. Sementara Islam dalam ajaran Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wasallam, seperti tertuang dalam tesis Ali Syariati, justru adalah kekuatan bagi kaum tertindas (musthad’afin).
Pada sisi ini, Tan tampak sama dan sebangun dengan Syariati. Apalagi lingkungan keluarganya yang ketat. “Saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ibu-Bapak saya keduanya taat dan orang takut kepada Allah, dan jalankan sabda Nabi,…” tulis Tan dalam ‘Islam dalam Tinjauan Madilog’ (1948).Tan mungkin founding father yang kerap ditempatkan bukan di mana ia memilih berpijak. Tan lebih banyak berada dalam stigma, cap dengan logika bahlul bahwa ia kiri, komunis, PKI, dan parallel dengan ateis. Padahal ia muslim yang patuh dan sejak kecil hafal Alquran.
Dalam perspektif ini, ‘ajaran’ Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) Bung Karno bisa dipersepsikan.Sejarah Indonesia, sering hanya diwarnai dua hal, stigma dan mitos, dua hal yang sesungguhnya tak sepantasnya jadi rujukan. Tan memilih untuk bersikap jujur terhadap Islam. Ia tentu seorang komunis, namun tak anti-Islam. Bahkan Tan menaruh harapan pada Pan-Islamisme di belakang gerbong Sarekat Islam. Cita-cita Republik Indonesia, mempertemukan komunisme dan Islam dalam satu barisan beda warna. Apalagi sebagai sesama tertindas.
“Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis,” kata Tan sebagaimana pernah dituangkan dalam Naar de Republiek (1922). Menceraikan keduanya, bukanlah lantaran jalan berbeda masing-masing, melainkan karena propaganda politik semata. Tulisan di atas, pernah saya posting di fesbuk 5 Nopember 2016, dan 90 persen saya kutip verbatim di atas, untuk kemudian saya gabungKan dengan apa yang terjadi di Malioboro beberapa hari lalu, soal ‘pengajian on the street’. Apa hubungannya?
Sekarang, seolah terjadi bagaimana pembelokan sejarah menjadi penting, karena ada yang harus disembunyikan. Misal soal hubungan a dan kom. Bukan hanya karena faktor ‘komunisme’, namun disisi lain ada upaya bahwa a dalam nas-a-kom maunya digeser jauh karena air dengan minyak. Bahwa a berbeda dengan kom (komunisme, ingat komunisme tak dengan sendirinya PKI, meski PKI adalah partai politik di Indonesia dengan azas komunisme).
Kenapa? Karena ada kepentingan politik dengan konfigurasi baru. Dimana a tak ingin bersama kom, meski pola dan strategi perjuangannya kali ini (apalagi berkait dengan kekuasaan, wa bil khusus Pilpres 2024), bisa jadi equivalen. Apalagi sebagai padang perjuangan habis-habisan setelah dua kali kalah dalam Pilpres 2014 dan 2019. Meski sempat menikmati ‘kemenangan’ pada Pilgub DKI Jakarta 2017. Sekarang kesempatan, karena kalau tertunda 2-3 kali Pilpres para elite die hard-nya sudah renta atau sudah mati. Siapa mereka? Tidak terlalu penting siapa, sekiranya masih dalam jalur demokrasi dan hukum yang disepakati. Masih bisa dimengerti dan tak perlu dikhawatirkan.
Lain halnya jika hal itu dilakukan dengan mengompori massa majoritas, untuk merebut kekuasaan secara inkonstitusional. Kita tahu, politik selalu kesulitan bersikap jujur pada sejarah. Sejarah kita hanyalah sejarah rejim demi rejim. Bukan sejarah dialektika Indonesia. Bayangkan cerita proses dan prosedur pencalonan Gus Dur sebagai presiden (1999) yang diceritakan Mahfud MD, Kofifah Indar Parawangsa, Saifullah Yusuf, dan tak dibantah Yusril Ihza Mahendra.
Makanya komunisme masih sering jadi dagangan, bagi yang hobi membenturkan akar rumput. Cara-cara bodoh hanya dipakai mereka yang bodoh, dan diikuti serta dibela oleh yang lebih bodoh lagi, yang naif melihat hal ini sebagai ‘peristiwa’ bukan ‘permasalahan’. Apa yang terjadi di Malioboro dengan ‘pengajian on the street’? Ini bukan hanya akan terjadi di Malioboro, apalagi dengan alasan Ramadhan. Fenomena religiusitas, atau model gerakan politik baru dalam mendesakkan kepentingan politiknya? Nya siapa? Yogya selalu sexy sebagai testing the water.
Makbedunduk, beberapa hari lalu, disetiap kursi kiri-kanan sepanjang Malioboro, diduduki orang-orang demonstratif membaca kitab, dengan kostum tak jauh beda. Kok bisa? Kayak ada korlapnya. Saya jadi ingat, dulu ada flashmob orang njoget Beksan Wanara di Malioboro, untuk promosi pentas tari di kraton Yogya. Yang kemarin ‘ntu semacam flashmob? Mempromosikan apa? Mau pentas di mana? Kapan? |
Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono III











Comment