by

Suara Penyintas

Mungkin tidak ada satupun etnis di Indonesia yang mengalami kekerasan rasial sebagaimana yang dialami oleh etnis Thionghoa. Beradad-abad jauh sebelum kedatangan Belanda, dalam berbagai catatan sejarah, etnis Thionghoa telah mengalami ragam kekerasan rasial dan menjadi sasaran amuk massa dari berbagai kelompok. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang dari etnis Thionghoa yang telah menjadi korban tewas dalam berbagai peristiwa kekerasan rasial, paling tidak bila merujuk berbagai literatur yang ada, salah satunya adalah: “Sejarah 400 tahun”, karya Susan Blackburn.
Apa sebenarnya yang menjadi akar dari sentimen rasial terhadap etnis Tionghoa di Indonesia? Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan konstruksi sosial, hasil dari politik pecah belah yang dilakukan oleh penguasa baik era pra kolonialisme, kolonialisme Belanda hingga era Indonesia merdeka. Dalam penelitian berjudul “Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia,” Freedman menyebut konstruksi sosial tersebut memaksa masyarakat Tionghoa untuk melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi.
Akhir-akhir ini kebencian rasialis terhadap etnik Thionghoa kembali gencar dikobarkan. Bermula dari politik pemisahan identitas, bahwa orang Tionghoa di Indonesia selamanya adalah pendatang, mereka kerap menjadi kambing hitam dari banyak kekerasan dan masalah sosial. Media dalam hal ini semakin memupuk prasangka itu tanpa ada upaya rekonsiliasi. Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari warga negara Indonesia, terlepas dari ras yang ia sandang.
Lalu, bagaimanakah Penyintas Thionghoa dalam Jalan SUNYI berbagai diskriminasi dan kekerasan rasial yang dihadapinya?
 
Sumber : Status Facebook Penrad Siagian

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed