by

Srikandi Tanpa Panah

Oleh: Karto Bugel

Ketika bu Sri Mulyani berbicara tentang utang dan dalam pernyataan nya secara tak langsung harus menyenggol pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, dia dimaki dan dicerca. Dia dianggap tak professional.

Menjadi masalah manakala Deputi Balitbang Partai Demokrat, Yan Harahap turut menanggapi pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Melalui akun Twitter pribadinya @YanHarahap, Deputi Balitbang Partai Demokrat tersebut menilai bahwa kini Sri Mulyani mulai terkena ‘virus’ menyalahkan pemerintah sebelumnya.
Diketahui, Menkeu Sri Mulyani menyampaikan pernyataan yang menyebut tingginya utang Indonesia saat ini merupakan warisan masa lalu.

Sri Mulyani tak menyebut rezim namun dia berbicara tentang bailout krisis 1997-1998 lebih 20 tahun yang lalu.

“Dengan adanya bail out, makanya utang kita (negara) sangat tinggi karena obligasi. Jadi ujung-ujungnya adalah beban negara,” demikian dia berujar.

Sri Mulyani mencoba mengkritisi hutang yang seharusnya bukan kewajiban negara namun pemerintahan saat itu justru melakukan bailout dan menjadikannya hutang itu milik negara. Itu terkait kasus BLBI yang hingga saat ini masih panas dan tak kunjung selesai bahkan setelah lebih dari 20 tahun.

Adakah itu bukan beban pemerintahan Jokowi atas duit yang tak pernah dihutangnya?
Menjadi aneh ketika justru Yan Harahap seolah tersinggung dan merasa bahwa Sri Mulyani sedang bicara tentang hutang jaman pemerintahan sebelumnya yakni periode 2004-2014.
“Kelakuan menyalahkan pemerintahan2 terdahulu ternyata menular jg pada SMI,” kata Yan Harahap melalui akun Twitter @YanHarahap pada Kamis, 28 Oktober 2021.

Atas sikap Sri Mulyani tersebut, dikatakan Yan Harahap bahwa menteri keuangan tersebut tengah kewalahan dengan utang negara yang kini semakin menggunung, terlebih di masa pemerintahan saat ini.

“Nampaknya ia kewalahan juga dengan utang yg makin menggunung yg diciptakan rezim ini,” ujarnya.

“Benarkah Jokowi kewalahan atas hutang yang makin menggunung tersebut?”
Karena yang berbicara dengan nada seperti itu adalah kader Demokrat, pantas kiranya data kita ungkap. Ketika data kita ungkap, mau gak mau, menyebut rezim sebelumnya adalah sebuah keharusan bagi sebuah perbandingan.

Ketika banyak dari mereka yang selalu mengatakan bahwa hidup di jaman Jokowi makin susah, ada baiknya kita melihat apa itu susah.
Biasanya, orang yang susah hidupnya adalah mereka yang tak mampu beli beras. Setuju dong…??

Adakah harga beras terlalu mahal pada jaman Jokowi sehingga banyak orang kelaparan?
Harga beras hari ini adalah antara 9.000 hingga 11.000 rupiah. Tujuh tahun yang lalu saat awal Jokowi menjabat Presiden, harga beras juga setara dengan itu. Artinya bila ada kenaikan, itu sangat kecil.

Bandingkan dengan era sebelumnya. Pada 2004 harga gabah kering berdasarkan 651 observasi gabah berbagai jenis di 14 propinsi, pada Juni 2004 harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 847,23 per kilogram. Itu ditemukan di Bali sementara harga tertinggi yakni sebesar Rp 1.750 per kilogram di Kalimantan Tengah.

Harga beras berada pada kisaran 3.000 rupiah per kilogram dan dalam 10 tahun atau pada 2014 telah naik menjadi 10.000 rupiah. Ini berarti naik 330% kan?

Itu dari sisi beras. Sekarang kita bicara lauk yang paling enak, daging.
Harga daging sapi pada 2004 adalah 38.000 rupiah per kilogram dan 10 tahun kemudian naik menjadi 95.000 rupiah. Ada kenaikan setara dengan 250%.

Hari ini harga daging sapi adalah sekitar 125.000 an per kilogram. Dibanding dengan tahun 2014 yang lalu atau 7 tahun setelah pria kurus itu duduk sebagai Presiden kenaikannya ternyata hanya 31% saja.

Mari kita bicara harga bensin atau BBM untuk rakyat.
Pada 2004 harga BBM premium adalah 1.800 rupiah per liter dan pada akhir pemerintahan beliau pada 2014, harga itu telah menjadi 6.000 rupiah per liter. Ada kenaikan hingga 330% bukan?

Saat ini harga premium berada pada 6.450 rupiah per liter. Ada kenaikan 450 rupiah per liter dari 6.000 rupih atau kurang dari 7% saja.

“Hutang negara hingga lebih dari 6000 triliun ga dihitung po? Rezim yang lalu ga segila itu ambil hutangnya tahu..!!??”

Hutang Indonesia pada akhir tahun 2004 adalah 68.57 miliar dollar. Dan pada akhir pemerintahan pak Beye, hutang telah menjadi 292 miliar dollar.
Bisa dihitung dong? Ada kenaikan lebih dari 425%..!!

Bila selama 7 tahun Jokowi memerintah, hutang Indonesia telah meningkat menjadi 415 miliar dollar, artinya Jokowi pun benar telah menambah hutang.
Berapa besar penambahannya?

Besarannya adalah 143%. Jauh lebih kecil dibanding 425% pada rezim yang lalu dong??
Pun ketika kita berbicara terkait pergerakan kurs rupiah. Pada 2004 kurs kita terhadap dollar AS adalah 9.100 dan pada akhir 2014 telah menjadi 12.200 di mana itu berarti bahwa rupiah telah mengalami penurunan nilai sebesar lebih dari 35% dalam waktu 10 tahun.
Pada saat ini, kurs mata uang AS itu berada pada posisi 14.300 rupiah per dollar. Artinya sejak tahun 2014 juga ada penurunan nilai tukar, namun hanya sebesar 14% saja.

Sementara, bila itu dikaitkan dengan nilai penghasilan rata-rata yang diterima oleh warga negara, pada 2014, UMR DKI adalah 2,2 juta rupiah dan tahun 2021 ini naik menjadi 4.4 juta.
Artinya penghasilan rakyat selama 7 tahun Jokowi menjadi Presiden, naik 100%. Namun harga beras, daging hingga BBM pada nilai kenaikan rata-ratanya ternyata tak sampai pada 15%. Seharusnya bukan makin miskin dong?

Sementara pada SBY UMR DKI tahun 2004 sebesar 671.550 dan 10 tahun kemudian naik menjadi 2.2 juta rupiah per bulan. Di sana benar ada kenaikan sebesar 330%, namun harga beras, daging hingga BBM ternyata juga naik dengan presentasi rata-rata lebih dari 300%.
Ini bukan data diinput dan dibuat demi melihat siapa lebih baik dibanding siapa. Ini hanya data kita gelar demi tak bias perdebatan yang tidak perlu.

Ini belum bicara tentang berapa penambahan hutang ketika harus dibandingkan dengan berapa banyak waduk dibuat, jalan dibentangkan, bandara digelar dan lain-lain dan lain-lain. Ini nanti akan terlihat seolah menjadi sindiran tak netral yang tak perlu.

Yang pasti, Indonesia di bawah Jokowi kini justru dipercaya untuk memegang posisi Presidensi G20 2021-2022 sekaligus akan menjadi tuan rumah dari 19 negara dengan perekonomian terbesar dunia ditambah dengan Uni Eropa.

Masak sih negara terancam bangkrut karena kebanyakan utang bisa dipilih menjadi ketua dari 19 negara terkaya di dunia yang menghimpun hampir 90% produk nasional bruto (PNB, GNP) dunia, 80% total perdagangan dunia dan dua per tiga penduduk dunia?

Itu fakta yang tak dapat disangkal oleh siapa pun. Lijal Lamli, Sangit Didu atau para pengkritik hutang Indonesia tak mungkin lebih pintar dari 19 negara yang percaya pada Indonesia di bawah Jokowi.

“Trus makna kritik mereka pada bu Sri ga obyektif gitu?”
Bu Sri Mulyani tak ingin menyinggung pemerintahan siapa pun namun komen nyinyir mereka justru telah menelanjangi mereka sendiri.

Dia Srikandi tanpa panah yang telah berhasil menunjukkan kepiawaiannya ketika menjadi salah satu Panglima Perang di negeri ini.

(Sumber: Facebook Karto Bugel)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed