Oleh: Erizeli Bandaro
Tahun 2010 Anak perusahaan holding dapat konsesi bisnis bangun Kawasan Industri di Ginzhou, provinsi Guangzie. Kebetulan saya dapat mitra dari Jepang. Kawasan ini akan menjadi tempat relokasi bagi perusahaan Jepang yang akan masuk pasar dalam negeri China. Maklum kawasan ini bebas bea dalam rangka CAFTA. Ketika saya sedang berusaha cari uang untuk bangun proyek ini, ada berita di koran bahwa kawasan industri ginzou menjadi koloni Jepang. Ini menjadi issue nasional terutama bagi elite politik. Di media massa mereka bilang” kita tidak boleh ada wilayah menjadi koloni asing. Apalagi jepang yang pernah jajah kita.”
Dalam situasi ini saya minta direksi saya diam. Walau seburuk apapun. Biarkan saja. Saya akan hadapi. Tak lebih sebulan setelah dapat pinjaman dari lembaga keuangan AS di Swiss, pemerintah China menghentikan proyek itu. Alasan mereka perlu ada investigasi atas penyalah gunaan izin bebas bea. Ini artinya akan mengusut calon tenan. Serentak para calon tenan mengundurkan diri. Banker di swiss juga mencabut komitmen kredit. Puluhan juta dollar uang untuk bayar commitment fee terancam hilang. Belum lagi bank guarantee kepada EPC teracam dicairkan. Saya tetap tenang. Ini udah soal politik. Dimana saja sama. Saya orang asing. Jadi wajar saja kalau dicurigai.
Direksi sarankan saya agar pulang ke Indonesia. Karena berbahaya. Tapi saya menolak. Saya justru terbang ke Beijing. Saya temui perdana menteri. Saya yakin kalau diberi kesempatan bicara 10 menit saya bisa mengubah persepsi mereka terhadap proyek ini khususnya terhadap holding saya. Saya sudah kirim surat untuk bertemu. Namun tidak ada jawaban. Saya datang saja ke kantornya. Selama 10 hari saya datangi kantor PM. Setiap ditolak saya tetap datang lagi. Akhirnya pada sore hari pada musim dingin. Saya diminta untuk masuk ke kamar kerja PM.
Dia tatap saya agak lama setelah mempersilahkan saya duduk di sofa. “ Bandaro, kami ingin keterbukaan soal bisnis yang anda lakukan. Itu berlaku bagi siapa saja. Bukan hanya kepada anda. Kami butuh investor asing tetapi kepentingan nasional adalah segala galanya. Harap anda maklum”
Saya berlutut “ maafkan saya….Saya sangat paham. Empat pemegang saham pendiri, hanya saya orang Indonesia. 3 orang China. Kami melakukan investasi sesuai dengan visi China. Kami persilahkan pemerintah lakukan investigasi. Kami siap dan patuh apapun keputusan pemerintah. Apapun resiko kami terima. Mohon saya dimaafkan. Maafkan. Saya hanya memikirkan mereka yang bekerja pada proyek ini. Andaikan saya sendiri harus keluar, saya siap. Demi mereka. Demi china tentunya“ kata saya menunduk. .
“ Ok saya sudah paham. Kita akan lihat nanti. “ Katanya minta saya berdiri. Saya membukukan tubuh sebagai tanda hormat. Mundur tanpa menampakan punggung.
Dalam perjalanan ke hotel saya dapat telp dari kantor di Nanning” Bro, proses investigasi selesai. Entah mengapa dipercepat prosesnya. Kita selamat. Proyek bisa terus dilanjutkan. Soal kredit yang dibatal di Swiss, bank di China bisa bantu memberikan kredit. Besok kita akan adakan pertemuan dengan para tenan. Semoga mereka mau kembali jadi tenan. Terimakasih.” Kata direksi saya. Sampai di hotel saya sholat dua rakaat tanda sukur kepada Tuhan. Saat itu juga saya telp istri. Saya sangat merindukan istri di rumah…
Hikmah cerita : Apapun yang terjadi jangan pernah berburuk sangka pada pemerintah. Jangan pernah berpolemik dengan pemeritah. Dimana saja sama. Bahwa pemerintah itu mengutamakan kepentingan nasional. Siapapun yang dianggap ancaman pasti dilibas.
(Sumber: Facebook DDB)











Comment