Oleh : Ahmad Topeng
Polemik tentang konflik Wadas ternyata masih menyisakan beberapa hal. Dan sepertinya Gubernur Jawa Tengah tidak hanya berdiam diri melihat yang terjadi disana. Walaupun beberapa pihak menyasar kejadian konflik bagian kesalahannya namun sepertinya orang nomor satu Jawa Tengah itu tak mau ambil pusing. Setelah menemui kelompok yang pro atas penjualan lahan, giliran warga yang kontra ditemuinya juga. Tanpa pengawal, maupun para pejabat penting ditingkat propinsi hingga kabupaten kali ini Ganjar sendirian.
Dengan tangan yang masih cedera, kini Ganjar berupaya melakukan dialog serta mendapat perspektif dari masyarakat yang kontra. Mereka bertemu di sebuah masjid desa dan berbincang bersama. Tidak tampak ada perlakuan istimewa. Bahkan ketika pria dengan satu anak itu sampai, disambut dengan dendang Ya Lal Wathan, sebuah lagu yang sangat identik dengan NU tentang rasa cinta tanah air. Ya, Desa Wadas di Purworejo itu basis NU yang kini masyarakatnya sedang bimbang dan terpecah antara menjual lahan atau tidak.
Kedatangannya seorang diri membuktikan bahwa dia datang sebagai seorang karib, seorang teman, seorang pendengar. Dia membutuhkan perspektif lain, apakah memang apa yang disuarakan oleh masyarakat penolak penambangan batu andesit benar-benar harus dipenuhi. Meski mendapat berbagai tekanan, namun kader PDIP itu tidak terlihat cemas, grasa grusu dan emosional menanggapi konflik tersebut.
Bahkan putri bungsu Presiden keempat, Yenni Wahid mengapresiasi upaya yang dilakukan Gubernur. Dari berbagai foto dan video yang tersebar atas pertemuan itu, tidak nampak ada konflik, pertentangan apalagi permusuhan. Mereka benar-benar menunjukkan rasa saling hormat, mencintai dan bersedia membuka ruang dialog. Lihatlah ketika usai dialog, Ganjar menawarkan pengobatan ke beberapa warga yang kebetulan lehernya terasa sakit. Bahkan bersedia mengantarnya ke rumah sakit. Atau mendatangkan petugas kesehatan melakukan swab pada warga yang anaknya kebetulan positif covid.
Bahkan ketika pamit, warga memberikan durian kepada suami Atiqah ini. Sebuah proses dialog dan komunikasi yang luar biasa. Inilah keindahan asli Indonesia yang ternyata masih mudah kita temui. Konflik, perbedaan pendapat, bahkan bagi sebagian orang melihat sebagai kepentingan ternyata mereka mampu menunjukkan bisa duduk bersama, berdialog dengan santai serta berbincang layaknya saudara. Paska selesai dialog, tidak ada satu komentarpun tentang keputusan apakah proyek akan dilanjutkan atau tidak. Hal ini menandakan bahwa, mereka masih membutuhkan waktu untuk memahami apa yang dirasakan oleh masing-masing pihak.
Kita patut mensyukuri dan mencontoh peristiwa ini sebagai teladan dan perlu dilestarikan dalam menyelesaikan masalah. Semoga ke depan akan ada kesepakatan bersama yang membahagiakan semua pihak.
Sumber : Status Facebook Ahmad Topeng











Comment