Sigi dan Hayya Ala Jihad

Seorang teman sekolah pernah japri saya. Omong apa saja, termasuk keluhkan dirinya. Yang sudah berumur belum sempat ber-haji, atau umroh. Semua dana tersedot untuk biaya sekolah anaknya. Dia orang tua tunggal.
Saya pun berusaha menghibur. Sekolah anak memang harus diutamakan. Normal itu. Toh nanti kalau anak2 selesai, kan tiba waktunya. Waktu tunaikan ibadah umroh atau haji.
Dia mengiyakan . . .
 
Satu hari di malam jum’at, dia kirim ucapan. “Selamat tunaikan Sunnah Rasul. Itu sama dengan membunuh orang2 kafir,” Maksud teman tadi sunnah rasul, dalam konteks ini artinya sama dengan ber-‘senggama’.
“Lhuk ! Serem e, Rek !” Jawab saya. Dengan emoji ketawa.
“Yo embuh. Ndak tau. Wong ustat yang omong begitu,” dia segera menimpali.
“Malah gak sido ‘ngacĂȘng’ aku !”Jadi ndak nafsu lagi aku malahan . . .
 
Nah, ngustat2 seperti yang jadi ‘guru ngaji’ teman saya ini, yang ‘bahaya’. Dan ngustat model begini buuuanyak jumlahnya. Beredar dari satu pengajian ke pengajian lainnya.
 
Lagi viral adzan pakai kalimat ‘hayya alal jihad’. Ayo ber-jihad. Sebagai pengganti ‘hayya alal sholah’. Ada videonya. Malah lengkap dengan video sembahyang, sholat, pakai ‘takbiratul ihram’ yang ndak enak dipandang.
Karena biasanya dengan angkat kedua belah tangan, telapak terbuka, sampai dekat telinga. Yang ini ndak begitu. Tangan satunya, yang kanan, malah sibuk pegang senjata. Ada pedang, ada golok bercabang, ada clurit . . .
Niru sopo ? Emboh !
Yang pasti nurut ngustatnya. Yang sekelas dan sejenis dengan ngustat ‘guru ngaji’ teman sekolah saya tadi . .
 
Kita katakan saja, teror di Sigi itu memang tidak mewakili satu agama. Islam. Tapi benar jika disebut akibat agama, akibat pemahaman agama yang salah.
Agama sama2 ngaku Islam, tapi orang NU, tahlilan, yasinan, pasang bedhug di mesjid, disebutnya bid’ah.
Sama juga dengan ‘kilapah2’an. Mereka usung dengan gagah. Jihad. Tapi nurut yang lain bisa berarti bid’ah. Karena Nabi ndak ngajari, dalil yang dipakai pun lemah, bahkan palsu.
 
Bedanya cara wong NU asli ‘produk’ cara, bukan aliran, khas ‘dalam negeri’. Bikin adem khusyuk suasana. Ndak ngrepoti yang lain.
Kilapah2an, produk ‘asing’, ngajak kita wong Endonesah mau ‘dijajah asing’, juga suka ngrepoti orang. Yang beda harus dimusuhi, kalau perlu bisa disembelih. Persis kayak yang di Sigi . . .
Jadi peristiwa Sigi, teror Sigi, ‘full’ disebabkan oleh agama, tepatnya ‘pemahaman’ agama yang salah. Dan agama itu namanya Islam . . .
Tabek . . .
 
Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *