by

Sedikit Lanjutan Membongkar Nalar Penjajahan

Oleh : Mas Toto

Sebenarnya asik membongkar bagaimana nalar penjajahan dibangun dan diimplementasikan. Tapi saya masih terngiang kasus mahasiswi yang mau diusir dari kosannya, membuat gue galau. Dan untung gueh tadi bisa sok sok an jadi dewa penyelamat. Hahahaha. Saya ingin sedikit melanjutkan mengupas nalar penjajahan dibangun.

Meminjam teorinya Michel Foucault yang juga dipinjam oleh Edward Said, ada 4 jenis relasi kuasa yang hidup dalam discourse orientalisme. Ingat jika Edwar Said menggunakan pisau analisis orientalisme untuk “menelanjangi” Barat, saya dengan pisau analisis yang sama untuk menelanjangi Arab, wabil khusus kaum Islamismenya. Dalam studi Orientalisme ada empat relasi kuasa yang dibongkar yakni 1) the power of politics 2) the power of science 3) the power of culture dan 4) the power of moral. Dari sini sesungguhnya kita sedang membokar operasi diskursif yang berlansung dalam sebuah proses penjajahan.

Untuk kuasa politik melalui imperialisme dan kolonialisme secara fisik atau ekapansi wilayah, saat ini jelas beresiko tinggi. Selain besarnya biaya dari Arab ke Indonesia, tetapi juga resiko akan dikutuk dunia internasional. Maka kekuasaan yang paling mungkin adalah melalui micro powet yang tidak kelihatan, dan hanya bisa dibongkar oleh nalar kritis pula. Saat ini yang sedang berlangsung adalah pertama kekuasaan intelektual melalui produksi pengetahuan dan bahasa.

Yakni penjajah membangun standar pengetahuan dan bahasa. Taglinenya kalau ingin Islam yang benar kalian harus kuasai bahasa kami, karena bahasa kami adalah bahasa yang canggih dan kitab suci kami adalah bahasa Arab, maka kalau ingin jagi muslim yang kaffah kalian harus menguasai bahasa kami. Lagian di sorga nanti bahasa Arab yang dipakai. Sedang produksi pengetahuannya menggunakan tagline menjadi Islam yang kaffah jangan dicampurkan dengan kearifan lokal. Islam harus murni dari pengaruh non Islam. kedua, kekuasaan kultural melalui selera, teks dan estetika.

Yakni bagaimana agar orang Nusantara hari ini bisa seakan bercita rasa Arab. Misal pakaian, seni, estetika berpakaian. Pakaian yang baik harus nutup seluruh tubuh, kalau tidak berdosa dan masuk neraka. Anda masih ingat selebaran/brosur kaum cingkrang menyelinap di sekolah-sekolah negeri, Pramuka, instansi Kepolisian, Korpri dll dengan membangun wacana “Awas neraka ada di celanamu” untuk menyerang celana yang menutupi mata kaki dan mempromosikan celana cingkrang? Atau kutukan para akhwat kepada perempuan yang tidak berjilbab, yang saat ini merangsek ke burqo?

Kesenian wayang haram, kuda lumping perbuatan seran dan lainnya. Ketiga, kekuasaan moral yang diembeded ke dalam nalar sang terjajah. Arab telah membangun standar atau ukur baik-buruk, benar-salah, yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh yang terjajah Narasinya. Narasinya, yang baik yang diajarkan agama kami, kepercayaan kalian itu rendahan dan dianggap sisa-sisa masyarakat primitif. Cara bergaul yang baik itu cara kami, kalian musyrik kalau masih sedekah laut. Kalian sedang bertakhayul dengan mandi balimau, pasang sesajen, menyebut dewi sri, menyebut ibu pertiwi. Nama kalian haram pakai kata Wisnu (kelar loe Tengku Wisnu hahaha). Dilanjutkan cara beragama yang baik itu ya cara kami. Keyakinan kalian itu tidak termasuk agama, karena tidak lengkap unsur keagamaannya. Lalu bagaimana respon terjajah? Kita akan bahas lebih lanjut dengan pendekatan studi pos kolonialnya Hommy K Bhaba. Tapi sesoklah.

Sumber : Status Facebook Mas Toto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed