by

SBY, AHY, Andi, Demokrat dan Gerung

Oleh : Sunardian Wirudono

Menyebut nama-nama dalam judul tulisan ini, setarikan nafas, terasa tidak melodius. Mangsalahnya, nama-nama itu mengemuka di permedsosan dikaitkan permainan ‘Jokowi End Game’Nama-nama itu, bersahut-sahutan muncul di media, dengan seruan-seruan nyaris identik. Kosakata dan frasa yang digunakan, dalam nlp (neuro linguistik programing), mengerucut ke tema sentral. Ujung-ujungnya juga nyaris sama. Dari sejak Rachland menyatakan sudah biasa Demokrat dibully (netizen), Gerung menghina-dina netizen dengan sebutan buzzerRp, sebagai biang masalah.

Endingnya, Partai Demokrat dan AHY siap melawan buzzerRp yang mengacaukan situasi. Ditutup kemudian pernyataan Andi, rakyat akan turun ke jalan jika SBY yang menyerukan. Mau bikin cluster baru? Atau, diam-diam jadi marketing vaksin?Oh, maijob! Dulu di tahun 2017, menjelang Pilgub DKI, pada faktanya Gerung adalah konsultan politik AHY, yang mundur dari TNI atas perintah bapaknya, maju Pilgub. Hasilnya, AHY tersingkir di putaran pertama. Kemudian ‘menggabungkan diri’ pada Anies Baswedan, menyingkirkan Ahok.Dalam pra-kampanye, Gerung selalu mengatakan, dan memuja, SBY sebagai jenderal intelektual. Dia merasa cocok berdiskusi dengan jenderal bongsor itu.

Tapi ketika sebagai konsultan politik (nggak mau disebut tim sukses atau pemenangan) AHY, semua omongan Gerung jadi terasa sumir. Apalagi mangsalahnya, orang ini tricky, cenderung tidak jujur. Dalam puncak kejengkelan pada Jokowi (entah kenapa, mungkin agar para musuh Jokowi bisa masuk lewat pintu itu), Gerung jauh bulan sebelumnya sudah menyatakan, Jokowi bakal jatuh sebelum Agustus 2021. Akan terjadi demonstrasi runtuhnya kepercayaan rakyat, pada sekitaran akhir Juli 2021. Seperti seorang nujum.Tapi lepas dari nujum atau bukan, setelah gerakan Jokowi End Game kandas, Gerung mengatakan itu hanya prank. Untuk cek gelombang. Dan mereka (para pengetes itu), kini ketawa-ketiwi melihat Pemerintah blingsatan. Dikatakannya intelijen kebobolan. Pemerintah panik. Darimana Gerung tahu semua itu, jika info tersebut dikatakannya valid?

Apa pula hubungan Gerung menuding gerakan itu gagal karena ulah netijen, yang disebutnya buzzerRp? Gerung entah tidak tahu atau memang dungu; bahwa gerakan Jokowi End Game, atau gerakan-gerakan sebelumnya yang konon diinisasi mahasiswa, juga buruh, dari skala politik nasional, tidak ada apa-apanya. Hilang ketulusannya.Gerakan itu hanya ditataran wacana, yang itu akan cukup selesai di peradaban medsos. Tanpa harus dibayar, tanpa harus disuruh, adalah lumrah jika pemilih dan pendukung Jokowi spontan membela Jokowi dengan berbagai cara. Medsos, adalah alat ampuh untuk ngebuzzer isu dengan contra isu. Tak ada kaitan dengan bayaran dan nasbung. Hal yang wajar, tanpa harus berlajar politik atau filsafat, dalam era kepemimpinan ethos di jaman tanos ini. Bukan pathos apalagi logos. Sila belajar ilmu politik jika tertarik. Masyarakat awam mengerti beberapa sebutan kelompok politik dengan beberapa nama dan kepentingan politiknya.

Ada sebutan kelompok Kadrun, Cendana, Cikeas, Chaplin, Kecebong, Kampret, Cingkrang, dan sebagainya. Karena masyarakat sekarang, apapun pendidikannya, bisa mengakses apa saja lewat berbagai platform internet. Ini bukan jaman Soeharto. Juga sayangnya bukan jaman SBY yang sama tricky dengan Gerung. Ini jaman Jokowi yang ‘membiarkan’ semua tumbuh liar. Termasuk liberalnya para pejuang demokrasi dan HAM, yang tak mencirikan seorang yang ngerti demokrasi dan HAM.

Urutan waktu dan urutan logika pernyataan-pernyataan Gerung, Rachland, Demokrat, Andi, seolah memiliki benang merah. Hingga menyeret-nyeret netizen yang bebas merdeka, dengan piranti gadget di tangan, yang dibeli dan dipulsai dengan duit sendiri. Bahwa ada buzzerRp mungkin saja, tetapi mereka biasanya selebritas, yang biasanya cenderung jadi penjilat. Sering ambil aman. Tidak punya loyalitas dan dedikasi. Kalau ada perang, meski cuma opini, milih nyungsep. Pura-pura nggak ngerti. Netizen rakyat jelantah, tidak rela jagoannya dihina. Nggak ada hubungan dengan duit, meski ini jaman susah cari duit.

Di medsos, yang militan memang pemilih dan pendukung Jokowi. Bagi mereka, Jokowi masih lebih baik dari yang lain. Di luar PDI Perjuangan, Gerindra, dan Golkar, tak ada lawan tangguh Jokowi. Apalagi cuma Demokrat. Mahasiswa dan Buruh tidak punya alasan kuat, meski presiden masing-masing (BEM atau Buruh) teriak-teriak konsolidasi. Mengganti Jokowi di masa pandemi, bukan hanya konyol tapi juga bunuh diri. Jika ‘all the President’s men’ buruk, tak terbayangkan jika presiden kemudian ganti SBY. Sejarah 10 tahunnya, membuktikan itu

.Jadi, bagaimana Gerung bisa mengatakan Jokowi bakal selesai Agustus 2021, karena bakal ada gerakan besar-besaran menjatuhkan? Namun ketika ramalannya meleset, Gerung mengatakan Jokowi End Game hanyalah prank. Untuk tes gelombang. Para pelaku prank ketawa-ketiwi orgasmus, melihat Pemerintah panik, tunggang langgang. Dapat pasokan info dari mana, dan dari siapa?

Membenturkan rakyat untuk masturbasi politik kekuasaan, ternyata masih dilakukan hingga hari ini. Tak pernah jauh dari contoh moyang kita, yang rebutan kekuasaan karena ego-sentrisme. Untungnya, jaman Ken Arok belum ada gadget yang canggih. Karena sebetapapun artikulatif alasan dibangun, Ken Arok jaman kini pun akan gagap. Panjang umur kedunguan. |

@sunardianwirodono PS: Andi, kalau rakyat nurut seruan SBY, ajakin gerakan sabunisasi atau imunisasi dong!

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirudono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed