by

R Ajoe Lasminingrat, “Kartini” Pertama Asal Garut

Oleh: Badru Salam

Wanita GARUT ini bisa sy anggap sebagai Perempuan Intelektual Pertama di Indonesia. “Kartini” yang pertama. 

Semua berawal ketika ayahnya (RH. Muhamad Musa, Penghulu Garut) mendirikan sekolah Eropa (Bijzondere Europeesche School). Dan Ajoe Lasminingrat mendapat didikan dari kenalan dekat ayahnya yaitu Kontrolir Levisan (Levyson Norman), seorang sekretaris Jendral Hindia Belanda, hingga Ajoe pun mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda. 

Alhasil, Ajoe pun fasih berbahasa Belanda, bahkan Karel Frederick Holle (administrator Perkebunan Teh Waspada, Cikajang), memuji Ajoe yg dinyatakan dalam surat Holle kepada PJ. Veth : “Anak perempuan penghulu yang menikah dengan Bupati Garut, menyadur dengan tepat dongeng karangan Grimm, cerita dari negeri dongeng (Oleg Gouverneur), dan cerita lainnya ke dalam bahasa Sunda.” 

Dan mulai thn 1879, Ajoe mendidik anak-anak melalui buku bacaan berbahasa Sunda, pendidikan moral, agama, ilmu alam, psikologi dan sosiologi. Dia sisipkan dalam cerita yg disadur dari bahasa asing yg disesuaikan dengan kultur sunda sehingga mudah dimengerti. 

Sampai akhirnya, pada thn 1907, Ajoe mendirikan Sakola Kautamaan Istri di lingkungan Ruang Gamelan, Pendopo Garut. Awalnya hanya terbatas untuk lingkungan para bangsawan saja dengan materi pelajaran berupa baca, tulis, dan pemberdayaan perempuan. 

Ajoe menikah dengan Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII (Bupati Garut). Karena kesibukan ngajarnya, Ajoe menghentikan kegiatan jadi pengarang. Konsentrasinya lebih banyak dalam bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda. 

Pada thn 1911, sekolah tersebut pindah ke Jalan Ranggalawe, berkembang, sampai jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah Pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. 

Pada thn 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang. 

Pada thn 1912, Ajoe mendirikan kembali Sakola Istri untuk kaum perempuan dimana letak dan bangunannya sekarang dipakai SMA Negeri 1 Garut, Jl. Merdeka.

Pihak pemerintah kolonial menganggap jasa dan peranan Ajoe sangat besar dalam membangun pendidikan untuk kaum bumiputera dan bumiputeri, makanya Ajoe diberi penghargaan dan kompensasi bulanan selama mengajar, seiring dengan pergantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kab. Garut pada thn 1913. Dan 2 tahun sesudahnya, Wiratanudatar VII pensiun setelah menjadi Bupati sejak thn 1871. Jabatan Bupati Garut kemudian dipangku oleh R.A.A. Suria Kartalegawa, yg masih terhitung keponakannya.

Akhirnya Ajoe Lasmingrat pindah dari Pendopo ke sebuah rumah di Regentscheweg (sekarang Jl. Siliwangi, Yogya Department Store). Sampai usia 80 thn ia masih aktif, meskipun tidak langsung dalam dunia pendidikan. 

Pada masa pendudukan Jepang, Sakola Kautamaan Istri itu diganti namanya menjadi Sekolah Rakyat (SR) dan mulai menerima laki-laki. 

Pada tahun 1950, SR ini berubah menjadi SDN Ranggalawe I dan IV yg dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Garut. Tahun 1990-an hingga kini berubah lagi menjadi SDN Regol VII dan X.

R. Ajoe Lasminingrat meninggal 10 April 1947 dalam usia 105 tahun, dan dikebumikan tepat di belakang Mesjid Agung Garut. 

Beberapa karya R. Ajoe Lasminingrat : 

– Tjarita Erman (1875). Buku ini merupakan terjemahan tulisan karya Christoph von Schmid. 
– Warnasari jilid 1 (1876). Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I. Buku ini ditulis dalam aksara Jawa, terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Gouverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872). 
– Warnasari jilid 2 (1887).

Semoga…

(Sumber: Facebook Badru Salam)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed