by

Polemik Ucapan Menag Tentang Agama Bahai

Oleh : Mamang Haerudn

Belum lama ini, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Naw-Ruz 178 EB yang lazim dirayakan oleh umat agama Baha’i. Sontak saja ucapan ini menimbulkan polemik, di satu sisi ada pihak yang mengapresiasi, namun di sisi lain juga ada pihak yang mempertanyakan konsistensi pluralisme Menag tentang legalitas agama Baha’i. Meskipun harus diakui, ketimbang dengan umat Kristen, selain Ahmadiyah dan Syiah, kelihatannya umat agama Baha’i hampir tidak pernah mendapatkan diskriminasi dan intoleransi dari umat Muslim.

Saya tentu saja mengapresiasi ucapan selamat dari Menag kepada umat agama Baha’i. Ia merupakan langkah awal, untuk langkah lanjutan menuju legalitas agama Baha’i ke depannya. Sebagaimana dulu, Presiden Gus Dur berhasil melegalkan agama Kong Hucu sebagai agama yang resmi diakui Pemerintah. Pengakuan Pemerintah tentu saja menjadi penting agar hak-hak beragama dan hak lain umat agama Baha’i yang ada di Indonesia terpenuhi dengan baik. Dasarnya bahwa pluralitas itu realitas, ia nyata dan ada.

Oleh sebab itu, kita tidak perlu lagi mempersoalkan ucapan Menag tersebut. Malah seharusnya kita sekalian mesti mendorong Menang, untuk tidak hanya sekadar pengakuan Pemerintah, melainkan menjamin kehidupan beragama bagi umat agama mana pun dan aliran agama mana pun. Tidak boleh ada satu agama atau aliran agama apa pun yang mendapatkan diskriminasi dan intoleransi.

Dalam perspektif dan konteks NKRI, semua umat agama dan aliran agama adalah setara. Tidak boleh ada superioritas dan inferioritas. Menag sendiri yang berlatarbelakang Nahdliyin–sebutan umat Muslim yang berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama–harus terus menyuburkan pluralisme di negeri ini. Menag yang juga selama ini tercatat sebagai Ketua Umum PP Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dikenal sebagai sosok yang tegas terhadap kelompok-kelompok Muslim keras dan intoleran, terbukti bisa lebih soft manakala menjabat sebagai Menag.

Mampu memposisikan dirinya sebagai Menteri semua agama dan jauh dari kontroversi yang tidak berarti. Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed