by

People Power di Mesir dan Indonesia

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Ketika garakan people power melakukan aksi secara besar besaran di Mesir, Husni Mubarak pun jatuh. Hasil pemilu berikutnya di menangkan oleh Mursi. Namun hanya seumur jagung Mursi pun di jatuhkan oleh militer. Banyak analis dari berbagai pihak menyimpulkan penyebab kejatuhan Mursi. Namun menurut saya penyebabnya adalah tidak adanya persatuan di kalangan umat islam. Umat islam dari berbagai golongan bisa saja bersatu untuk menjatuhkan lawan tapi ketika berhasil menang, diantara mereka akan bersiteru satu sama lain.
Mursi terpilih menjadi Presiden Mesir karena di dukung kelompok Ikhwanul Muslimin ( IM). Namun ketika Mursi berkuasa dia membagi bagi kursi kekuasaan kepada kader kader IM. Dia berniat untuk melaksanakan syariah Islam secara kaffah. Untuk itu dia mengeluarkan dekrit dimana semua keputusan presiden kebal dari gugatan hukum (judicial review). Dia ingin menjadi diktator demi tegaknya syariah Islam. Karena itu membuat pengusaha mesir melarikan dananya ke luar negeri. Ini membuat ekonomi Mesir semakin tertekan, sehinga semakin sulit bagi Mursi untuk melakukan recovery. Keadaan ekonomi memburuk di jadikan fuel bagi lawan untuk memprovokasi golongan islam lain menjatuhkan Mursi.
Ketika persatuan di kalangan umat islam bubar maka kekuatan lawan akan sangat mudah merebutnya. Militer yang konon di dukung oleh Saudi dan Amerika dapat dengan mudah menjatuhkan Mursi. Gerakan massa dari IM yang berjihad membela Mursi di tembaki oleh Militer. Tidak sampai di situ saja, bahkan banyak elite partai IM di tangkap dan Mursi akhirnya di hukum mati.
Mengapa umat islam tidak bisa bersatu ? Penyebabnya adalah munculnya paham nasionalisme dari kalangan intelektual islam. Yang kadang di sikapi sinis oleh umat islam yang berpaham fanatisme dari berbagai mahzab yang ada.. Perbedaan paham nasionalisme dan fanatisme ini menimbulkan sikap pesimisme akan terjadinya persatuan dan kesatuan di kalangan umat islam. Karena keduanya sulit untuk duduk bersama ketika berhasil merebut kekuasaan. Jadi seyogianya apabila kemenangan di raih, maka salah satu pihak harus mengalah. Kalau tidak mengalah maka keduanya akan saling menghancurkan. Tidak ada lagi kedamaian, dan tidak ada lagi agama yang harus di bela.
Kita bersyukur kepada ALlah, karena para pendiri negara kita bisa berdamai dengan kenyataan. Nasionalisme di kedepankan namun prinsipnya adalah agama berkata adat memakai. Itulah yang di sebut dengan Pancasila dan sampai kini NKRI tetap utuh karena pancasila. Dan memang perbedaan itu ujian untuk mendapatkan rahmat, dan karenanya tidak seharusnya di persatukan dalam lambang atau harakah tapi dalam akhlak islami, di mana perbedaan di hadapi dengan cinta sehingga dapat bersatu untuk meraih rahmat Allah.. Umat islam di Indonesia besar tapi kebesaran itu seharusnya tidak di tunjukan dengan kekuatan menggalang massa tapi di bidang ekonomi dan sosial..Dengan itulah islam bisa menjadi rahmat bagi bangsa indonesia dan juga dunia..
 
(Sumber: Status Facebook Erizeli)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed