by

Pedurenan Nan Jelita

Oleh : Ahmad Sarwat

Aslinya ini adalah judul sebuah puisi karya alm. Ust. Rahmat Abdullah. Guru sekaligus muroabbi saya sebelum era kepartaian,. Puisi itu digereskan sekitar 40-an yang lalu, saya masih duduk di SMP. Isinya sebagai ungkapan kekhawatiran beliau memandang kondisi kampung halamannya, Pedurenan Masjid, di masa mendatang. Ungkapan rasa khawatir yang dihembuskan, jangan-jangan 40 tahun lagi agama Islam sudah tidak ada lagi di kampung kita. Gara-gara kampung kita sudah jadi kota modern. Itu selalu diulangnya dulu dalam setiap kajian.

oOo

Namun hari ini saya menjawabnya dengan mengatakan ketakutan itu tidak perlu. Buktinya agama Islam masih ada di kampung ini. Meski kampung kita sebagiannya sudah jadi belantara beton, namun masjid masjid ramai orang shalat. Tiap waktu shalat suara speaker TOA kumandangkan adzan bersahutan di sekian banyak masjid dengan memekakkan telinga.

Malam Jumat masih berkandang pembacaan rawi Barzanji. Gedung-gedung itu bukan perwujudan dari kekafiran atau pun kemurtadan sebagaimana issu yang dulu sempat dihembuskan.Buktinya saya mengambil gambar ini dari lantai P6 Mal Kuningan City, sesaat setelah menyampaikan khutbah Jum’at. Ya Jumatan di mal sekarang sudah trend. Dan di tiap pencakar langit Jakarta itu setiap hari ada kajian, ada shalat berjamaah dan ada Jumatan. Dan Allah senantiasa menyempurnakan cahaya-Nya.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed