by

Lebih Susah Jadi Agamawan Atau Ilmuwan?

Oleh : Irwansyah Syaputra

Jadi agamawan itu repot sebenernya… Saya lagi nyimak perdebatan antara para sarjana muslim lulusan Al Azhar dengan Prof bidang keislaman lulusan barat. Memperdebatkan tentang teks alquran yang bermasalah. Tentu saja saya ga ikutan, cuma nyimak aja. Yang akan sy bahas di sini adalah “Kenapa kok ajaran agama itu bisa multitafsir begitu?” atau “Kenapa kok ajaran agama itu punya peluang untuk di-multitafsir-kan bahkan oleh orang yang tak punya pengetahuan agama sama sekali?”

Jawaban sederhananya karena mayoritas ajaran agama berisi hal yang metafisik. Sedangkan sains dan teknologi membahas sesuatu yang sifatnya fisik. Karena metafisik, maka ajaran agama rawan untuk disalahartikan. Misalnya, ada orang yang ga percaya hadits dengan argumen “itu kan ucapan Nabi, manusia biasa yang bisa salah. Lagi pula hadits muncul dan dibukukan setelah nabi wafat”. Lalu muncullah paham quranist (atau bisa disebut inkar sunnah).

Atau yang percaya ada nabi setelah Nabi muhammad dengan berkata “Khataman nabiyyin itu artinya cincin para nabi bukan penutup para nabi. Jadi ada peluang nabi yang akan muncul setelah nabi muhammad”. Maka ini menghasilkan paham ahmadiyah. Berdasarkan hal tersebut muncullah istilah sesat. Sesat di sini bukan orangnya, tapi pola pikirnya. Sesat karena tidak berlogika sesuai dengan metodologi yang mengiringi dalil tersebut sesuai dengan pemahaman pembawanya (yaitu nabi).

Istilah sesat muncul karena bidang kajiannya metafisik. Coba aja kalo bidang kajiannya fisik, tentu bisa kita cek bareng2 mana yang bener dan mana yang salah. Sedangkan dalam sains dan teknologi ga ada istilah sesat menyesatkan. Kenapa? Karena sains dan teknologi membahas hal yang sifatnya fisik. Kalau salah ya tinggal direvisi lalu dijelaskan kebenarannya. Misal ada orang yang mengatakan “atom itu partikel terkecil di alam semesta”. Eh ternyata ada lagi yang lebih kecil, tinggal direvisi aja. Ga mesti menyesatkan orang sebelumnya. Ibaratnya, “lu kalo ga percaya bahwa atom itu bukan partikel terkecil, ayo liat bareng2”.

Sedangkan di ajaran agama, ga bisa bilang begitu, karena ya itu membahas metafisik, ga keliatan. Maka itulah, saintis sering lebih akur dibandingkan para agamawan.Karena ini pula, para agamawan sering diejek sebagai “penghambat peradaban” karena membahas hal “yang ga penting” menurut para saintis. Saintis lagi bikin teknologi agar bisa mengoperasi manusia dengan robot, eh agamawan malah ribut masalah tahlilan. Lalu apakah memang agamawan seperti itu? Sebenarnya ga juga sih.

Karena memang ini bersumber dari objek studi yang beda. Objek studi agamawan itu metafisik, tentu saja ributnya jauh lebih rame karena ributnya dalam pikiran (logika). Bahkan orang yang ga punya kapabilitas aja bisa ikutan nimbrung dengan modal ayat atau hadits copasan dari internet. Serius loh… Jadi agamawan jauh lebih repot. Orang bisa dengan seenaknya mengoceh tentang agama, atau mengolok ajaran agama seperti “jauh2 ke arab cuma mau muterin kotak dan lemparin tugu pake batu”.

Ya karena secara fisik, hal tersebut ga ada gunanya. Cuma ya salah sendiri, ajaran agama kok pake pendekatan empirisme. Bukti seseorang itu ga bisa memisahkan pendekatan metodologi yang pas sesuai dengan objek penelitiannya. Karena kedua objek yang diteliti berbeda, tentu aja metodologi yang digunakan antara fisik dan metafisik juga beda. Cuma masalahnya, bisa ga saling menghargai di antara keduanya? Saintis ga usah mengolok ajaran agama. Agamawan ga usah bilang “kopit ini buatan wahyudi untuk menghancurkan generasi islam”. Karena kita ini pasti awam dalam bidang yang tak kita kuasai.

Sumber : Status Facebook Irwansyah Syaputra

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed