Oleh : Harun Iskandar
Mubaligh dalam hal ini adalah ‘Penyambung Suara’ Imam Sholat Jamaah’. Kalau di Masjidil Haram, mesjid utama dunia, yang ada di kota Mekkah, posisi penyampai ‘tabligh’ ini amat bergengsi dan penting. Harus bersuara merdu dan bagus. Paham ‘irama dan speed’ gerakan sang Imam. Dia pula terjemahkan ajakan waktu ‘dirikan’ sholat dari imam, ke bentuk suara, Iqomah. Selanjutnya bertugas ‘menyambung’ suara Imam.
Penyambung rantai komando gerakan, agar para jamaah bisa ‘bergerak’ berbarengan. Terutama saat Imam, posisi mulutnya agak jauh dari mikropon. Misal saat ruku’ atau sujud. Dan yang penting, Mubaligh ini mesti ikut sholat juga . . .
Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, pernah sakit, lalu kami shalat di belakang beliau, yang mana beliau dalam posisi duduk. Sedang Abu Bakar mengeraskan takbir beliau, agar bisa didengar oleh seluruh jamaah. (HR Muslim 413)
Jadi . . .Dalam hadits diatas, yang duduk dalam rangkaian sholat itu adalah Nabi. Karena sedang ‘gerah’. Sedang sakit. Abu Bakar, sahabat sekaligus mertua Nabi, berperan sebagai ‘Mubaligh’. Mengeraskan ‘suara’ Nabi. Dan tentu saja ikutan sholat.Mubaligh saat sholat di Masjidil Haram juga begitu. Setelah suarakan ‘iqomah’, semua siap berdiri untuk sholat, dia juga ikut sholat. Apalagi sebagai penyambung suara ‘komando’ Imam. Mosok ndak ikut ‘bergerak’Imam ruku’, Mubaligh juga ruku’.Imam sujud, Mubaligh juga sujud. Wong dia juga termasuk makmum . . .
Tapi coba lihat aksi ‘mubaligh’ di sholat jamaah ala kaum ‘itha-ithu’ tempohari. Saat demo gus Yaqut. Dia lihat gerakan imam, dari atas mobil komando, lalu menyampaikan lewat suara, dengan mikropon dan TOA. Biar yang lain, makmum atau jamaah paham.Tapi ada yang beda. Mubaligh di Masjidil Haram ikutan sholat. Bahkan Abu Bakar, seperti hadits diatas, juga ikut sholat.
Mubaligh grup ‘itha-ithu’ memang lain. Kayaknya salah baca hadits, mungkin. Dia sok2an ‘niru’ Nabi. Ambil posisi duduk. Namun jika Nabi duduk karena ‘gerah’ dan pimpin sholat, orang ini, mubaligh itha-ithu’, perintahkan yang lain sujud, ruku’, atau duduk, dia sendiri cuma duduk santai . . . Kayak makelar bis di terminal. Teriak mengajak, ‘Surabaya ! Surabaya !’. ‘Bengkulu ! Bengkulu !’. ‘Semarang ! Semarang !’Penumpang yang ‘diseru’ pada naik bis. Dan bis pun berangkat. Makelar ? Ndak ikut naik, apalagi pergi berangkat. Tapi balik lagi, duduk di warung. Ngopi2 dan ngrokok . . .
Begitulah ‘itha-ithu’, ndak pernah mengaca diri. Biar tahu jelas posisi dan kelasnya.Mendemo seorang ‘Gus’, seorang petinggi NU, dan Banser. Sekedar info, barangkali belum tahu, NU itu sebuah ormas Islam besar di Indonesia. nDemo perkara adzan lagi . . .Sungguh amat lucu dan menggemaskan . . .
Sumber : Status Facebook Harun Iskandar











Comment