Merosotnya Pendidikan Studi Islam di Saudi

 

Di ketiga kampus inilah kebanyakan mahasiswa dari Indonesia kuliah dan belajar studi keislaman. Sebagian dari mereka ada yang menjadi dai, khatib, dan ngustad di Tanah Air. Ada juga yang menjadi “poli-tikus” dan “politisilit”.

Selebihnya adalah kampus-kampus yang berorientasi sekuler. Maksudnya, tidak fokus di kajian keislaman (seperti ilmu tafsir, hadis, syariah, aqidah, dakwah dan seterusnya) melainkan studi tentang eksakta, teknik, bisnis, ekonomi, manajemen, kedokteran, teknologi, industri, dan seterusnya.

Ada kampus-kampus non-Islamic studies itu yang membuka fakultas keislaman dan menawarkan gelar diploma tetapi ada juga yang hanya sebatas untuk “pantes-patesan” saja, tidak menawarkan gelar, seperti di kampusku ini.

Bahkan menariknya, ketiga kampus yang fokus “Islamic studies” yang saya sebut diatas, sekarang sudah berubah drastis dan mulai membuka fakultas-fakultas umum termasuk fakultas ilmu sosial dan humaniora. Ini seperti di kampus-kampus di Indonesia semacam IAIN, dimana awalnya hanya untuk kajian keislaman tetapi kini (setelah menjadi UIN) kemudian membuka fakultas-fakultas non-kajian Islam.

Apa alasan mendasarnya? Pekerjaan atau pasar kerja. Di Saudi, minat pelajar / mahasiswa untuk belajar studi-studi keislaman itu rendah sekali. Mayoritas mereka memburu kampus-kampus umum untuk belajar masalah non-Islamic studies karena pasar kerjanya jauh lebih jelas dan menjanjikan ketimbang mempelajari kajian keislaman yang paling-paling cuma jadi khatib, pegawai pengadilan, atau guru. Mau jadi “polisi syariat”, sekarang malah sudah dipreteli otoritasnya.

Para mahasiswaku pernah melakukan survei tentang minat mahasiswa terhadap studi-studi keislaman. Hasilnya lebih dari 80% menyatakan malas dan tidak suka mengambil mata kuliah keislaman karena dinilai membosankan dan hanya mengulang-ulang apa yang sudah mereka pelajari waktu sekolah SD-SMU. Menurut mereka, para dosen Islamic studies juga tidak kreatif berfikir dan “diktat minded”. Jika kampus tidak mewajibkan mereka mengambil beberapa mata kuliah keislaman sebagai syarat kelulusan sarjana, mereka lebih memilih untuk tidak mengambilnya.

Berdasarkan informasi dan survei para mahasiswaku, masjid-masjid yang dulu ramai digunakan untuk studi Al-Qur’an & keislaman, sekarang juga sudah merosot drastis fungsinya (selain untuk salat), selain di beberapa masjid saja (seperti Masjid Nabawi di Madinah atau Masjidil Haram Makah).

Jika gairah mempelajari keagamaan merosot di Saudi lantaran sudah terlalu lama hidup di dunia konservatif jadi bosan, di Indonesia malah sedang ereksi-ereksinya alias kemaruk belajar agama seperti sedang “berbulan madu” dengan pelajaran keislaman.

Demikian laporan singkat Ramadlan dari gurun Arabia…

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *