by

Menyikapi Kekalahan Ala Kampret

 

Modus ini persis yang dijalankan saat Pilpres 2014. Ketika itu PKS mengeluarkan quick count versi hoax yang menyatakan pihak mereka adalah pemenang Pilpres. Dan hanya TV One yang merilis quick count versi hoax PKS itu. Lantas Prabowo dan para pendukungnya melakukan sujud syukur. Padahal semua quick count di luar mereka dan TV One menempatkan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang Pilpres. Dan akhirnya KPU pun dalam rekap manualnya menyatakan Jokowilah pemenang sejati. Lalu mereka ramai-ramai menuding KPU dan pihak pendukung Jokowi melakukan kecurangan.

Hingga saat gugatan di MK kalah pun para Kampret ini tetap bergeming. Pokoknya pihaknya merasa gak mungkin kalah. Hingga waktu berlalu, para kampret terus hidup dalam dunia ilusi. Presiden yang sah terus mereka bully dan serang dengan hoax-hoax murahan. Mereka berharap negara ini chaos agar bisa mengail di air keruh.  Sementara Prabowo yang tidak legowo, main presiden-presidenan pun dijalani. Saat ada peringatan Hari Kemerdekaan, mereka bikin upacara sendiri dengan Prabowo menyaru sebagai presiden ala Soekarno. Menggelikan, menyedihkan sekaligus mengenaskan.

Berbeda sekali melihat apa yang dilakukan TB Hanuddin, Cagub yang juga kalah. Dengan sportif dia langsung menemui Ridwan Kamil untuk mengucapkan selamat. Sikap ksatria juga ditunjukkan Gus Ipul-Puti yang kalah dari pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim. Kedua pasangan itu bahkan tertawa-tertawa bareng. Indahnya…

Rupanya memang susah sekali bagi kaum kampret untuk bersikap ksatria. Mungkin mereka dulu bukan anggota Pramuka yang didoktrin untuk selalu bersikap ksatria. Alih-alih mengakui kekalahan, malah sibuk menyalahkan orang lain dan berhalusinasi bahwa mereka adalah pemenangnya. Tentu ini bukan pendidikan politik yang baik untuk anak cucu kita. Apa susahnya bersikap ksatria, kemudian membangun bersama bangsa yang besar ini dengan kapasitas masing-masing. Karena kursi kepemimpinan tak mungkin dibagi dua.

Mari ajarkan kepada publik dan generasi penerus tentang indahnya bersikap ksatria. Indahnya mengakui kekalahan, dan mengapresiasi kemenangan orang lain. Indahnya hidup dalam perbedaan namun tetap saling menghormati.

Preferensi politik boleh beda. Persatuan tetap yang utama.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed