by

Menyikapi Kasus Internal Keluarga MT dan AKT

Oleh: Ahmad Komara (Ujang Akom)
 

Setelah menonton tayangan versi wawancara AKT di salah satu acara media teve berikut (tonton full ya, bukan cuplikan-red):

https://youtu.be/wFShsSq3Gs8

Dan menonton juga tayangan versi wawancara pak MT di acara ekslusif di media lainnya berikut (tonton full ya, bukan cuplikan) :

https://youtu.be/t_lbOWvMeKw

Baru kita bisa mengamati posisi masing-masing, dan berkomentar lebih tenang dan gak grasa grusu sambil menghakimi salah satu.

Biasanya jika ada yang bekomentar bernada bully, memang gak nonton kedua tayangan tersebut secara utuh tetapi hanya cuplikan saja atau membaca framing media. Dan sedang menunggu momen seorang MT ditemukan ada celahnya.

Meskipun acara wawancara teve biasanya di setting untuk tujuan komersial dengan mencapai rating dan bahkan viral di medsos, tetapi seharusnya kita lebih paham duduk persoalan dari pelakunya langsung maupun tidak langsung. Dalam konteks ini pak MT adalah pelaku langsung dan AKT adalah bukan pelaku langsung di kisruh masalah perceraian antara pak MT dengan ibunya AKT.

Mungkin saja AKT yang mengklaim sebagai anaknya pak MT belum mendapatkan informasi yang utuh sebagaimana disampaikan pak MT di wawancaranya dengan media teve. Tetapi, AKT memang memegang bukti dokumen sah hubungan keluarga dengan pak MT.

Yang jelas, perlu ada klarifikasi lanjutan yang menjadi kunci jawaban persoalan internal keluarga pak MT di masa lalu tersebut yakni :

1. Pernyataan pak MT bahwa mantan istrinya yang bilang bahwa si anak yang berinisial AKT tersebut bukanlah anak dari pak MT. Siapapun suami akan sangat kaget dengan pernyataan tersebut, jika tidak kaget, suami tersebut mungkin memang sudah tidak peduli lagi dengan istrinya. Dan ini harus diklarifikasi langsung oleh ibunya AKT.

2. Tantangan pak MT supaya dilakukan tes DNA pada AKT untuk membuktikan keabsahan sebagai anak kandung pak MT sekaligus mengkonfirmasi klaim dari mantan istrinya bahwa AKT bukan anak dari pak MT. Dan ini harus melalui serangkaian pengecekan lab.

Dengan posisi yang masih belum bisa ditarik kesimpulan finalnya, enggak elok dan jauh dari elegen rasanya jika ada yang sangat bersemangat mem-bully pak MT seolah manusia paling bersalah di muka bumi. Juga tidak usah menyalahkan AKT selama dia bisa menjaga sikap yang sopan sebagai anak pak MT sebagaimana diklaimnya selama ini.

Meskipun secara pribadi, saya mengharapkan masalah internal keluarga mereka di masa lalu terselesaikan dengan baik dan kekeluargaan. Secara idealis, mungkin status anak kandung atau bukan, sebaiknya memang tidak perlu mengurangi dan menghalangi curahan kasih sayang, apalagi sebagai pribadi teladan dan pemaaf. Tetapi secara manusiawi, cobalah memahami situasi psikologis yang dihadapi pak MT saat itu.

Yang penting juga adalah jangan sampai ada pihak-pihak berkaitan langsung atau enggak langsung dengan kisruh ini memancing publikasi negatif terhadap pak MT. Kehilangan sosok motivator pastinya membuat para provokator akan bersorak sorai dan riang gembira karena semakin leluasa dan merajalela menguasai medsos. Itu.

Salam super..

 

(Sumber: Status Facebook Ujang Akom)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed