by

Menjakartakan Indonesia

-Politik-1,307 views

Oleh: Biakto

Semua kita tau politik identitas yg diusung JK dalam memenangkan Anis di Pilkada Jakarta yll, adalah sebuah tragedi pada sebuah republik yg menjunjung azas kebhinekaan, dan berideologi Pancasila.

Kajemuan negeri indah nan kaya ini seolah akan terus di belah, hanya karena kita dikotomi oleh paham mayoritas dan minoritas. Istilah itu seolah melegitimasi bahwa mayoritas lazim menindas kepada minoritas.

Pilkada Jakarta saat itu adalah pilkada terbuas selama negara ini ada, segala lini kekuatan dari pinjaman paksa memakai nama Islam utk sebuah kezholiman agar aman di jalankan. Targetnya adalah Ahok manusia minoritas, beragama minoritas, namun berakhlak cerdas tapi harus di tindas agar tidak bisa memimpin Jakarta.

Bahu membahu dalam kemungkaran di jalankan. Masjid, sampai kuburan diharamkan bagi pemilih Ahok, MUI ikut andil besar karena isinya MUI adalah kaum bar bar. Tak usah malu bahwa Makruf Amin yg saat itu adalah ketua MUI ikut andil besar memblow up editan potongan ayat yg dikerjakan Buni Yani.

Kampanye dijalankan sampai JK mengundang Zakir Naik sang ustadz usiran dari India. Kita tau orang ini Islam garis keras, tapi memang sepaham dgn JK yg juga suka dgn Taliban, paham yg membuat Afghanistan menjadi negara terbelakang di zaman terang benderang. Pemurnia ajaran Islam katanya, padahal mereka menghancurkan Islam dgn cara di mundurkan.

Anis adalah piaraan JK sejak di Paramadina, dia dibelikan kursi mengganti Sandi. Entah berapa harga pengganti yg di terima PS saat itu utk sebuah rencana bencana yg hrs di terima Jakarta.

Sekarang kita lihat hasilnya, Jakarta porak poranda. Tapi apakah JK merasa bersalah, tentu tidak sodara, karena ini memang sebuah rencana. Dan paham yg sama skrg terlihat ada pada SP yg terus akan merestorasi Indonesia ke arah yg lebih parah.

Sekarang mulai terlihat manuver politik melalui partai. Pemilihan capres terbaca awalnya. Nasdem dgn capres Anis, Andika dan Ganjar. Kita tau Andika dan Ganjar hanya pemanis yg tidak akan dipilih. Tapi baik juga buat Ganjar karena sampai skrg PDIP masih main gaple belum mau menunjukkan balak berapa yg ada di tangan.

KIB dgn PAN, Golkar dan P3. Belum ada jagonya, karena bibitnya kopong semua.

Gerindra dan PKB nyambut gawe, kalau terus yg ketebak PS dan cak Imin yg lama kepingin jadi capres walau kelakuan peres. Hasilnya pasti tak beres.

Walhasil akhirnya hanya ada dua kubu yg beradu. Koalisi Nasdem, Demokrat dan PKS pasti mengusung Anis. Sementara bisa saja akhirnya PDIP mengusung Ganjar dan Puan, walau terpaksa karena sang ratu tak laku. Atau malah Puan tetap di DPR atau MPR yg lebih pas dan pantas disana.

Kalau JK, SP dan SBY bakal pakai dana gede mengusung Anis. Maka Ganjar dan PDIP harus mengandalkan energi rakyat yg lebih punya power bersama Jokowi tentunya.

Ingat Mega boleh ketum, tapi Jokowi adalah king maker yg akan menyelamatkan Indonesia.

So, kita tidak akan kasi ruang atas manuver JK dan para durjana musuh Indonesian. Kita lawan mereka kalau kita tak ingin Indonesia di Jakartakan dan 1000% berantakan.

Galang tenaga dan persatuan utk menjaga Indonesia dari sasaran orba jilid 3. (Jilid 1 Soeharto, 2 SBY dan 3 Anis dkk).

(Sumber: Facebook Biakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed