by

Menjaga Privasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Ketika kemaren mbak Vincentia Anna mengadakan acara live dalam promosi bedah novel perdana besutan beliau yang keren yaitu Gauri, rame-rame anggota BUK Squad ngeledek untuk meminta supaya saya kapan-kapan bisa juga untuk ikutan tampil. Ada yang nantangin kalau katanya saya penakut, mungkin diperkirakan nyali yang saya punyai hanya ada segede upil. Atau mungkin saya yang demam panggung, ah nga juga, saat kuliah dahulu saya biasa menjadi mentor untuk berbicara di depan anak-anak yang usil dan degil. Dari pada mejeng mendingan bagi-bagi kaos, oh ya sekedar memberitahukan bagi yang nanya-nanya kalau hadiahnya sedang dalam perjalanan, entah-entah tersumbat di terusan Panama dan nyasar lewat Brazil.

Ada banyak yang kepengen mendengar suara saya, ketika saya membuat channel akun YouTube yang untuk sementara ini mati suri. Karena video-video perjalanan yang saya posting, cuma terdiri dari banyak gambar tetapi sangat minim tentang penampakan jati diri. Mereka ingin seperti YouTuber-Youtuber yang lain, yang berada di depan kamera menyerocos sambil wara wiri dan ketawa ketiwi. Sebenarnya itu yang membuat saya males, ketika menonton video-video tentang perjalanan yang sering beredar malah cuma kelihatan sang pembawa acara yang mejeng kebanyakan kadang-kadang sampai tidak tahu diri. Banyak juga dari deretan mantemanteman yang japri untuk meminta nomer WA dan bertanya tentang masalah tetek bengek mengenai urusan pribadi.

Dari ribuan yang terdaftar sebagai teman cuma ada tiga yang mempunyai nomer pribadi saya, salah satunya ya mbak Anna, bayangin saja ketua preman mbak Uma Sarwono saja tidak saya bagi. Sedang dua yang lain salah satunya adalah bertindak bagaikan mata-mata pribadi yang sering sekali memberikan saya berbagai informasi. Dan seorang ibu dokter yang sangat santun yang kadang saya sering berkomunikasi untuk urusan charity. Dari semua daftar teman yang ada, cuma satu saja yang pernah berbicara langsung dengan saya yaitu mbak Nana Padmosaputro. Saat itu kita membicarakan strategi menjadi pendukung di wilayah sosial media untuk melawan narasi negatif terhadap ayahanda Joko Widodo.

Mbak Nana ketika itu malah meminta pendapat saya untuk bagaimana caranya memulai membuat sebuah akun supaya bisa bersuara keras melawan orang-orang yang dungu dan bodoh. Ternyata saya ngajarin seorang yang berkelas professor, sekarang malah akun mbak Nana dengan follower yang berjibun merambah ke berbagai bidang dan berkali-kali kena setrap oleh si Markuji karena terlalu sering membuat heboh. Dari awal membuat akun di Facebook ini saya hanya mempunyai satu keinginan untuk menuliskan dukungan serta berbagi pengalaman hidup tanpa berpikir akan pernah menjadi ngetop. Kekaguman terhadap ayahanda Jokowi dan kokoh BTP alias Ahok menjadikan mereka sebagai tokoh idola serta mengikrarkan janji pada diri sendiri kalau saya akan selalu berada di belakang mereka melawan orang-orang bolot yang suka ngotot.

Belum pernah dalam sejarah di dunia dan baru kali ini ada rakyat yang malah menjadi zalim terhadap pemimpin yang sudah bekerja keras menaikkan martabat bangsa yang dahulu berjalan merayap dan mengesot-ngesot. Saya akan tetap bersuara keras terhadap kaum ngeyelan, bani kadrun beserta dalang-dalangnya yang malah ingin membuat harga diri bangsa semakin merosot. Dari semula saya sangat menjaga akan privacy dengan hanya menuliskan sedikit saja tentang data-data pribadi. Tidak ada daftar urutan sekolah tinggi di dalam biodata, sehingga pernah ada yang mencemoohkan dengan mengatakan kalau saya sok tahu, yang ada saya hanya tertawa sendirian dengan geli.

Beberapa pihak keluarga yang mengikuti akun saya sudah dari awal diwanti-wanti untuk tidak membocorkan rahasia pribadi dan mohon tidak menulis di kolom komentar yang mengisyaratkan garis keluarga bisa terhubungi. Eh, ndilalah ketika keluarga abang saya ikutan family gathering di Solo yang tadinya sebagai anonymous, akhirnya mleber karena tidak tahan dikasak-kusukin dan dikorek-korek oleh ahlinya ahli. Tidak semua orang yang bisa menahan diri untuk tidak tampil ke depan ketika panggung sudah disediakan dan lampu-lampu sorot sudah dinyalakan. Dengan mbak Anna saya juga sudah meminta maaf untuk tetap berada di belakang layar dan tidak bisa hadir ketika ada acara peluncuran novel besutan.

Mungkin suatu hari nanti saya akan mengadakan jumpa kangen dengan semua mantemanteman, misalnya membuat acara family gathering untuk para anggota BUK Squad yang budiman. Rencananya, saya akan mengambil photo kalian dari jarak jauh dan saya posting di lapak saya tanpa pernah ketahuan kalau saya telah berada di sekitaran.Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed