Mendalami Ilmu Dan Berperilaku

Keberadaan makam adalah salah satu bukti dari rantai keilmuan. Lha kalo ziarah kubur diilangi, bahkan yg ekstrem dibom karena takut musyrik, bagaimana kalo nama2 yg di klaim sebagai pensahih itu fiktif belaka? Atau dimodifikasi untuk kepentingan tertentu? Sebuah paradoks ketika kaum pemurni selalu bilang jangan taklid buta, tapi mereka sendiri sangat taklid buta. Suruh nunjukin makam gurunya aja tak bisa.

Lha yang punya guru aja paham betul bahwa rantai informasi yg panjang dan jarak yg jauh sangat memungkinkan untuk terjadi perbedaan. Mereka tak berani mengklaim diri paling benar, melainkan hanya berusaha mencari berkas2 cahaya lalu mendekat. 
—-
Sebagaimana urusan makan,( sebagai pemuja slowcook dan dunia kemarin aku kurang cocok dengan hal2 instant. Aku lebih menyukai kopi tubruk hitam daripada sachet, dan aku tak peduli ketika dibully kalo pas ngopi bareng. Aku bengek ketika makan mie instant berturut2 2x saja, aku demam kalo kecolok minuman2 pop), aku tersiksa dengan cara beragama instan ini…. Ntah berapa tahun aku menjalaninya, dan aku merasa hampir gila.

Sebab kegilaan itu kini kutahu…tersesat karena kesombongan untuk mengambil ilmu langsung dari sumbernya, sedang jarak sedemikian jauh, tirakat nol puthul, puasa lihat bakul es degan aja ngamuk. Melek cuman dalam rangka fesbukan.
Sedang ilmu itu harus ditirakati dengan sesungguh sungguhnya tirakat, dan sadar diri bahwa kita ini suangattttt jauh jaraknya dengan Rasulullah. Beliau2 yg masih sempat bertemu Rasulullah saja gelut sesama sodara sepeninggal Rasulullah, apalagi kita, yang jauh jarak dan kualitasnya seperti ini. Bisa menangis saat denger sholawat saja sudah sangat bagus.

Betapa urusan agama itu harus sangat hati2 dan ora etuk kemlinthi.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *