by

Matematika dan Nahwu

Oleh : Ahmad Sarwat

Saya dulu sekolah double, pagi di SD belajar umum, sore di madrasah belajar agama.Kalau di SD pelajaran yang paling susah itu matematika. Sedangkan di madrasah, pelajaran paling susah adalah nahwu. Nahwu itu grammer bahasa Arab, tapi teori seratus persen tanpa praktek dan implementasi. Sepenuhnya rumus-rumus njelimet. Susahnya matematika dan Nahwu itu karena kita merasa tidak menapak ke alam sesungguhnya. Matematika dan Nahwu telah didesain menjadi betul-betul pelajaran yang 100% teori doang, tidak pernah ada kenyataannya.

Menurut saya itu kesalahan kurikulum dan kurang tepatnya teknik penyampaian dari guru. Gurunya kurang kreatif bagaimana mengolah matematika dan Nahwu jadi natural, realistis, alami dan nyambung dengan kehidupan nyata. Angka dan rumus matematika itu terlalu abstrak untuk mudah dicerna otak. Kaidah dalam Nahwu juga sama saja, sama sekali tidak membantu memberikan gambaran yang sesungguhnya.

oOo

Padahal otak kita terbiasa menerima hal-hal yang nyata, nampak terlihat dan lebih mudah menerima informasi yang bersifat visual dan kasat mata. Karena itulah kita lebih mudah melihat jam yang pakai jarum ketimbang jam digital. Kalau jam digital angka, kita tidak bisa melirik jam sambil lalu, tapi butuh proses berpikir dulu. Antara jam 23:59 dengan jam 00:01 sebenarnya hanya berjarak 2 menit saja. Tapi rasanya kok jauh sekali. Lain kalau kita lihat jarumnya. Begitu juga rambu lalulintas, akan lebih mudah dipahami ketika menggunakan lambang dan simbol, ketimbang ditulis dengan kata-kata.

Itulah kenapa menu-menu di MS-Word banyak menggunakan simbol, gambar dan icon. Tentu agar menulis pakai MS-Word itu lebih nyaman. Bandingkan dengan menuliskan tag-tag html di notepad, ribet banget. Baca komik bergambar pastinya ebih enak dan sangat mengasyikkan, ketimbang baca buku undang-undang yang ratusan halaman isinya teks semua. Sudah bahasanya kaku, tidak ada lucu-lucunya, ditambah njelimet pula.

oOo

Itulah mengapa Matematika dan Nahwu jadi pelajaran paling menyebalkan. Karena tidak menapak di bumi. Ke depan kita perlu mendesain ulang tehnik dan metodologi serta kemasan baru pada penyampaian Matematika dan Nahwu. Biar otak mudah mencerna.Tips saya, kalau bikin contoh soal, upayakan yang realistis dan aplikatif keseharian. Biar serasa ada manfaatnya belajar Matematika dan Nahwu.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed