Lagi-Lagi Anarko

Karl Mark menggunakan gerakan buruh untuk membentuk negara . Sedangkan Michael Bakunin sama sekali tidak percaya pada negara.

Dia merujuk pada pendapat John Wistanie “Ketika Tuhan menciptakan bumi, tidak terdapat satu kata pun yang disebutkan adanya negara”

Gerakan ini pertama kali muncul di Eropa pada abad ke-20. Sekumpulan orang itu percaya bahwa serikat buruh bisa menjadi kekuatan revolusioner untuk menggantikan sistem kapitalisme.

Anarko Sindikalis lahir dari buruh yang kecewa terhadap penindasan dan pengabaian hak. Mereka menjalankan berbagai aksi langsung seperti pemogokan, sabotase, boikot, dan blokade. Anarko Sindikalis jenuh terhadap Komunisme.

Lalu mereka berjuang untuk menghapuskan sistem kerja upah dan memperjuangkan perebutan alat produksi.

Beberapa tahun ini, di Indonesia, Anarko Sindikalis selalu muncul ada moment pergerakan massa.

Kostum hitam dan bendera merah hitam menjadi ciri khas mereka. Selain itu, atribut dengan logo anarki, huruf A di tengah lingkaran juga sering mereka bawa.

Anarko tidak punya organisasi tidak punya struktur dan tidak ada pemimpin. Sebagian yang tertangkap tidak menyebut anggota Anarko tapi melakukn aksi anarki.

Metode gerakan ini melalui aksi langsung, baik dalam perjuangan ekonomi maupun politik.

April 2020 lalu kelompok mereka membuat coret coret di berbagi tembok di sentero kota pulau Jawa dengan ajakan yang provokatif. “Kill The Rich” (bunuh orang kaya) “Saatnya membakar” .

Pelakunya terekam kamera CCTV dan berlanjut dengan sederet penangkapan. Pelakunya umumnya masih ABG.

Jangan salah. ABG ABG itu hanya penampakan kulit luarnya. Coro coro di garis depan. Di balik mereka ada tokoh dan gerakan intelektual. Ada ideologi laten yang membahayakan banyak negara. Karena ini bagian dari ideologi internasional.

Gerakan itu mudah diterima anak muda dalam berbagai kegiatan seni dan kerja-kerja kebudayaan. Gerakan Anarko Sindikalis diikuti orang-orang terdidik, suka membaca, dan berpikir kritis. Mereka terjun langsung melawan berbagai ketidakadilan dan ketimpangan sosial di sekitar mereka.

Sabotase, pemogokan, serta boikot, demi tatanan ekonomi yang dikehendaki terwujud – adalah beberapa contoh dari metode aksi langsung itu.

Mereka menumpang pada demo buruh. Pada 1998 mereka menumpang di PRD pro rakyat demokratis (tokohnya Budiman Sujatmiko). Juga menumpang di PKI di masa lalu.

Modus menumpang dilakukan bukan untuk mendukung yang punya hajat, melainkan “tahapan belajar ribut sama negara” sebagaimana diakui oleh tokohnya yang disamarkan namanya.

Penganut Anarko Sindikalis tak peduli pada nasib buruh. Sejak awal mereka punya ideologi sendiri.

Tapi di lapangan kehadiran mereka tidak ditolak (oleh massa buruh), lantaran punya musuh bersama: negara. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *