Kota Tua di Lock Down?

Rakyat Indonesia ini meski pinter2 tapi sering kepinterannya ndak dipakai.

Kita memang ndak pakai sistim transparan yang ‘blak’. Semua perlu diomongkan. Jadi kalau ditemukan warga yang terpapar, ditanya ‘ditulari’ siapa dan ‘nulari’ siapa. Tracing-tracking. Lalu di’lockdown’ seminim mungkin. Biar ndak heboh.

Pasien nomer 01 dan 02 dari Depok, cuma rumahnya saja yang diberi garis polisi, masyarakat sudah gaduh. Pada mborong barang dan hoax bertebaran. Kalau diisolasi sak kelurahan apalagi. Dan apa perlu ?

Jaga keseimbangan antara waspada atas ‘ancaman’ dengan dampak ekonomi, memang ndak gampang. Terbuka beri informasi dengan tetap jaga keseimbangan agar masyarakat tahu dan paham, dengan agar tak panik, bukan juga perkara mudah. Ya karena itu, kita kadang ndak mau pakai kepinteran-nya. Sukanya panik plus serakah.

Salah satu contoh yang bagus. Pemerintah sembari tolak turis dari beberapa negara, beri juga diskon hotel dan tiket pesawat untuk 10 daerah Tujuan Wisata.

Biar masyarakat, terutama diluar daerah dampak, atau diluar area ‘isolasi’, ndak panik. Biar juga ekonomi tetap jalan.

Nyàtanya, diluaran memang biasa2 saja. Di tivi, pedagang pasar Gede Solo, kota yang di KLB kan, ya tetep jualan. Pembeli juga seperti biasa. Rame. Juga pasar tradisional di kompleks saya. Maskapai Garuda Indonesia pun, agak tertolong rute2 domestik, setelah ambruknya pasar luar-negeri . . .

Ada lagi yang bikin gêrêgêtan. Sudah tahu lagi musim corona, malah hampir 700 WNI ikut Tabligh Akbar di Malaysia. Data terakhir yang positip ‘hasil’ tabligh itu ada 3 orang. Seorang Brunei dua orang malaysia.

Nah, yang WNI ini belum terlacak. Dihimbau lapor jika merasa ‘ndak enak badan’. Tapi susah diharap, wong yang sedang diisolasi saja lari . . .

‘Lock-down’ tempat wisata dan liburkan sekolah bole2 saja. Atau tetapkan KLB kayak Solo juga oke. Tapi jangan terkesan bikin panik. Memang bagus jika efeknya bisa bikin warga lebih peduli dan lebih tenang.

Cuma kalau punya target tahan penyebaran virus, ya kurang ‘spektakuler’. Nurut saya, untuk Jakarta perlu tutup juga pasar Tanah Abang, pasar Tebet, pasar Santak, pasar Rumput, pasar Jatinegara, dan Mall2. Untuk Solo, tutup pasar Gede dan pasar Klewer. Lokasi2 itu sumber penularan yang lebih potensial. Itu kalau mau capai dan tepat sasaran . . .

Sambil nunggu ‘fatwa’ MUI, yang sarankan untuk ‘lockdown’, nutup, mesjid2 sak Indonesia. Mulai dari Istiqlal dulu. Biar ndak cuma dipakai jadi kamar tidur oleh para ahli demo . . .

Mesisan. Sekalian . . .

Respon . . .
Respon . . .
Respon . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *