Oleh : Karto Bugel
Bila Prabowo, Anis dan Ganjar dipertarungkan dalam survey Capres, siapakah pemenangngnya? Lembaga survey itu sendiri. Dia akan menang banyak. Opini yang diciptakannya hanya berakhir pada lembar grafik tak berwujud, namun mereka mendapat cuan banyak.Ketiga tokoh itu tak akan pernah berlabuh pada tujuan survey itu dibuat yakni posisi jabatan Presiden. Itu kata Puyono kader senior partai Gerindra.
Bahkan ketika dia berbicara untuk Prabowo, jabatan itu pun tak bakal dapat diraihnya. Padahal dia yang berbicara itu adalah sosok senior pada partai di mana Ketua Umumnya adalah Prabowo. Caranya menalar tak seperti penjual kecap dimana produknya selalu nomor 1. Puyono terlihat sangat realistis bahkan saat bicara kans bagi Ketum Partainya. Dia bilang bahwa pendukung Prabowo itu banyak, namun jumlahnya tak akan bertambah hingga dapat diandalkan untuk memenangkan pertarungan itu. Alasan lain, Prabowo tak pintar drama. Dia terlalu apa adanya. Prabowo jauh dari pencitraan demikian dia berlasan.”Maksudnya Anis dan Ganjar pintar drama gitu?”
Secara benderang Puyono bahkan menyatakan bahwa Anies dan Ganjar adalah dua sosok yang benar-benar suka melakukan pencitraan dengan sejumlah kegiatan seperti merekam kegiatan makan dengan pengemis atau kecebur di selokan.Pada sosok Anis, dia berkata bahwa dukungan baginya hanya karena efek pilgub yang lalu dan itu kini sudah tak banyak artinya apalagi bila pada 2022 nanti dia tak lagi menjabat pada posisi gubernur. Itu belum termasuk bila formula E gagal dan berlanjut pada KPK. Pada Ganjar, secara gamblang Puyono berkata bahwa sosok Gubernur Jawa Tengah ini terlihat selalu ingin mengapresiasikan atau mengaktualisasikan dirinya seperti tingkah lakunya Jokowi. Dia ingin dilihat sebagai copy paste nya Presiden. Lebih gila lagi, seperti tak punya rahang, dia berungkap bahwa bila sampai Indonesia dipimpin oleh salah satu dari ketiganya, Indonesia akan mengalami kemunduran. WTF…??![]()
“Artinya kita membutuhkan tokoh baru, bukan tokoh yang menghabiskan warisan tiga orang ini,” ungkap Puyono tanpa sedikitpun ekspresi tampak pada wajahnya. Puyono tak menyebut nama bahkan tanda atau ciri-ciri siapa dan seperti apa sosok itu. Dia hanya bilang bahwa akan ada muncul tokoh baru tanpa embel-embel apalagi tendensi promosi.” Bukankah media sosial juga bisa menjadi tolok ukur? Ada koq nama yang sangat gencar dibicarakan di sana.”Entah kenapa, ramai perbincangan tentang Ganjar tiba-tiba menghilang. Dan itu semakin terlihat sejak akhir November 2021 ini. Apakah itu terkait dengan diangkatnya Bambang Pacul menjadi Ketua Komisi 3 DPR RI pada 22 November? Siapa yang tahu?
Yang kita tahu, Bambang Pacul adalah sosok yang demikian benderang berdiri di sisi berlawanan ketika isu Ganjar ingin nyapres mencuat. Dia bahkan tak tak mengundang Ganjar yang notabene adalah kader PDIP sekaligus Gubernur Jawa Tengah pada acara Pengarahan oleh Puan Maharani pada kader PDIP di Semarang
Yang kita tahu, Komisi III DPR RI adalah salah satu dari sebelas Komisi DPR RI dengan lingkup tugas di bidang hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Dan KPK sebagai partner kerjanya, bukan mustahil adalah titik bidiknya.
Siapa bisa menjamin bahwa lembaga itu tak bisa dipaksa untuk merubah wajah ketika politik bicara?Tak ada maksudkah tiba-tiba Bambang Pacul duduk sebagai Ketua Komisi III DPR RI terkait itu semua? Yang lain-lain, kita tak tahu banyak. Kita juga tak perlu berhandai-handai seperti Puyono karena faktor baterainya habis. Bisa jadi nama Ganjar memang tak lagi kita dengar secara massif pada ranah media Sosial karena sebab akibat fakta Bambang Pacul. Tak ada benang merah pasti dalam politik. Seringkali semua benang sengaja diberi warna merah. Bila hari-hari ini Erick Thohir seolah menggantikan posisi Ganjar di media sosial dan masyarakat berpikir bahwa itu ditujukan untuk menjaring nama demi pencapresannya kelak, itupun kurang tepat.
Tak ada indikasi kuat Erick ingin atau punya kans ke sana. Terlalu berat dan terjal jalan itu baginya. Dia bukan kader partai manapun dan Presiden pasti marah bila Erick terlihat memanfaatkan posisinya sebagai menteri bagi tujuan itu.Pada Erick, hal paling masuk akal adalah dia sedang mencari titik aman terkait isu reshuffle yang konon makin keras suaranya. “Trus siapa?” Gak ada yang tahu. Paling tidak hingga hari ini. Puyono hanya melempar gagasan bukan jawaban. Dan subyektifitas dari gagasannya tidak terlalu liar. Dia memberi perspektif baru. Bisa jadi sosok itu telah dibicarakan oleh bu Mega dan pak Jokowi. Itu bila kita sepakat bahwa siapapun sosok yang akan dipilih beliau berdua tersebut adalah sosok paling berpotensi menjadi the next President.
Siapa sosok itu, bisa jadi adalah orang dengan kapasitas tertentu yang paling sering dibicarakan oleh beliau berdua dalam banyak kesempatan. Bukan hanya dibicarakan, gimmick kadang adalah tanda paling mudah terbaca.Megawati mendapat gelar Profesor Kehormatan dan tak lama kemudian diangkat oleh Presiden menjadi Ketua Dewan Penasehat BRIN atau Badan Riset Nasional tentu bukan peristiwa tak memiliki maksud. Apa yang kemudian mengemuka dalam pembicaraan, keduanya, baik bu Mega dan pak Jokowi akhir-akhir ini terlalu sering berbicara tentang arah Indonesia di masa depan. Keduanya terlalu sering berbicara tentang tantangan Indonesia di masa depan dimana teknologi adalah jawabannya.
Bila harus mengerucut pada siapa, sosok itu pasti adalah dia yang dalam kesehariannya harus sangat concern pada masa depan dunia seperti mereka selalu bicarakan. “Emang seperti apa sih tantangan kita di masa depan?”Seorang dengan kapasitas sekelas Erick Thohir saja demikian ketakutan dengan masa depan manusia yang penuh dengan disrupsi dan perubahan yang terjadi sangat cepat. Metaverse telah membuat Erick Thohir Gelisah. Ada Dunia Baru Tercipta! Demikian sebuah berita pernah sempat beredar.”Google Facebook akan meluncurkan drone-drone yang ditaruh di sekeliling dunia, bukan satelit lagi. Kita siap nggak? Ini akan menjadi disrupsi terbesar dalam humankind,” ujar Erick
.Apa yang dibicarakan dan ditakuti Erick pada sisi yang lain ternyata adalah apa yang juga sudah dan sedang dipikirkan oleh bu Mega dan pak Jokowi. Mereka yang paham tantangan Indonesia di masa depan juga sedang bicara tentang pemimpin seperti apa yang layak membawa Indonesia menang dalam persaingan super ketat itu. Bukan siapa, tetapi pemimpin dengan kapasitas seperti apa. Dan itu adalah tentang dia yang layak melanjutkan dan membawa tongkat estafet presiden Jokowi kelak. Dia harus sosok yang sangat paham teknologi. Teknologi yang sesuai dengan karakteristik ke Indonesiaan kita dan bu Mega menyebutnya dengan “Pemimpin Stratejik”. Ya, Puyono memang terlalu vulgar dalam menyebut 3 nama itu, namun dia adalah sosok jujur. Dengan tanpa perasaan dia seolah telah membuat kesimpulan bahwa ketiganya belum layak disebut pemimpin stratejik seperti standard bu Mega dan pak Jokowi tetapkan.
“Iya, siapa?”MOSOK PUYONO??Sebaiknya Puyono tetap tampil melucu seperti biasanya, bukan bicara serius…RAHAYU.
Sumber : Status Facebook Karto Bugel











Comment